Tiongkok Kritik Tuduhan AS sebagai Unilateralisme Tipikal

2019-08-07 09:11:37 http://indonesian.cri.cn/20190807/9b46e29c-5bfa-63b4-70d6-db5c7d83a75b.html

Departemen Keuangan AS Selasa kemarin (6/8) memasukkan Tiongkok dalam daftar “negara manipulator kurs”. Tindakan AS tersebut merupakan tindakan unilateralisme dan proteksionisme, dan telah secara serius merusak peraturan internasional, dan akan menimbulkan dampak serius terhadap ekonomi dan moneter global.

Pada bulan Mei lalu, Departemen AS dalam sebuah laporannya mengatakan, menurut tiga indikatornya untuk mengidentifikasi suatu negara sebagai manipulator kurs, Tiongkok hanya terpaku satu kriterianya, yakni surplus perdagangan Tiongkok terhadap AS dalam satu tahun melebihi US$ 20 miliar, dan tidak pernah memperoleh keunggulan perdagangan yang tidak adil melalui manipulasi kurs. Akan tetapi, hanya berselang dua bulan saja, Departemen AS melakukan tindakan yang ambivalen yang simpang siur dengan kesimpulan sebelumnya. Tingkah laku AS tersebut adalah pragmatisme tipikal.

Sejak memasuki bulan Agustus, nilai tukar RMB mengalami devaluasi pada tingkat tertentu di tengah maraknya unilateralisme dan proteksionisme perdagangan serta kekhawatiran atas pengenaan tarif tambahan oleh AS terhadap barang asal Tiongkok. Devaluasi tersebut merupakan manifestasi fluktuasi pasar kurs internasional serta perubahan antara permintaan dan penawaran. Tiongkok memberlakukan sistem nilai tukar bebas (floating) namun terkendali yang diatur dengan mempertimbangkan paket mata uang berdasarkan permintaan dan penawaran pasar, yang memainkan peranan definitif dalam penentuan nilai tukar RMB. Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok selalu mematuhi komitmennya mengenai nilai tukar kepada KTT G20, dan tak pernah melakukan devaluasi kompetitif dan juga belum menggunakannya sebagai instrumen untuk menghadapi sengketa perdagangan.

AS bersikeras mencap Tiongkok sebagai negara manipulator kurs terutama untuk terus memberikan tekanan maksimum kepada Tiongkok dan membendung pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Akan tetapi perbuatannya itu tidak hanya akan merugikan orang lain, tapi juga dirinya sendiri, karena tidak hanya akan menimbulkan guncangan pasar moneter, tapi juga akan mengganggu pemulihan ekonomi global. Ketidakseimbangan perdagangan Tiongkok-AS diakibatkan banyak unsur, antara lain, kurangnya jumlah deposito dan tabungan di dalam negeri AS, pembatasan oleh AS terhadap ekspor produk teknologi tinggi kepada Tiongkok, serta status dolar AS sebagai mata uang cadangan internasional. Tiongkok menganjurkan AS secara sebaik-baiknya menyelesaikan masalah struktural yang terjadi pada dirinya sendiri, dan bukan secara sembarangan dan tanpa alasan menuduh negara lain sebagai “manipulator kurs” demi memperoleh keunggulan perdagangan.

Pada hal Bank Sentral Tiongkok selalu berusaha menjaga fluktuasi kurs RMB pada level yang rasional dan seimbang. Menurut data Bank for International Settlement (BIS), dari awal 2005 hingga Juni 2019, nilai tukar efektif nominal RMB mengalami apresiasi sebesar 38 persen, dan kurs efektifnya naik 47 persen untuk menjadi mata uang yang paling kuat dari sekian banyak mata uang yang beredar di antara negara-negara G20. Dengan demikian, RMB pun menjadi salah satu mata uang yang mengalami revaluasi terbesar di seluruh dunia.



 Bank Rakyat Tiongkok Rilis Pernyataan Soal “Negara Manipulasi Kurs ”

2019-08-07 10:11:35

Bank Rakyat Tiongkok Hari kemarin (6/8) menyatakan peyesalan terhadap Departemen Perdagangan AS yang mencantumkan Tiongkok sebagai “negara pemanipulasi kurs” oleh Kementerian Perdagangan  AS, dan mengatakan label itu tidak sesuai dengan standar quantitative yang ditetapkan oleh Departemen Perdagangan AS terhadap apa yang disebut “negara pemanipulasi kurs”, ini merupakan tindakan unilatralisme dan proteksionims seenak-enaknya, sehingga merusak prinsip internasional, akan membawa dampak serius terhadap ekonomi dan moneter global.

Pernyataan itu mengatakan, Tiongkok melaksanakan sistem kurs fleksibel yang dikontrol dan ditangani berdasarkan penyuplaian dan permintaan pasar dan paket mata uang, tidak terdapat masalah “memanipulasi kurs ”. Dalam negosiasi pasal keempat IMF terhadap Tiongkok, IMF berpendapat bahwa kurs RMB pada pokoknya sesuai dengan keadaan fundamental.

Ditekankan oleh Bank Rakyat Tiongkok, bahwa sejak tahun 2018, Amerika terus meningkatkan persengketaan perdagangan, Tiongkok selalu bertegas tidak melakukan devaluasi bersaingan, juga tidak pernah dan tidak akan menggunakan kurs untuk mengantisipasi persengketaan perdagangan. Tindakan AS yang tanpa menghiraukan kenyataan, dan memberikan label “negara pemanipulasi kurs” kepada Tiongkok, telah merugikan kepentingan negara lain maupun diri sendiri. Tiongkok dengan tegas menentang tindakan tersebut. Hal ini bukan hanya merugikan ketertiban moneter internasional, juga akan menghambat pemulihan perdagangan dan ekonomi global, sehingga menelan sendiri akibat yang buruk. Tiongkok menasehati AS untuk segera menghentikan tindakan salah, dan kembali ke jalur tepat yang rasional dan obyektif.




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke