Jokowi ”berharap” bisa berarti belum ada rencana membuat industri petrokimia. Hanya berharap.
Biasa diambil Aceh sebagai contoh , sejak lama pada masa Soeharto berkuasa gas alam ”Arun” diambil, tetapi tidak ada insutri petrokimia di sana.Salah satu berita tentang gas Arun ini ialah mau dibuat pipa untuk dialirkan ke Medan. Hingga Aceh termasuk propinsi yang termiskin di Sumatera dan tentunya NKRI. ( https://www.gatra.com/rubrik/ekonomi/380854-Aceh-Urutan-Pertama-Provinsi-Termiskin-di-Sumatera ) Di Papua juga ada gas alam dari sumber yang namanya Tangguh di teluk Bintuni. Gas dari sini diekspor ke berbagai negeri dengan kontrak antara 1 dan 2 juta ton/tahun selama 20 tahun. Negeri-negeri tsb adalah Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, USA/Mexico dan Singapura. Di Papua tidak ada industria petrokimia. Selain gas alam yang dihasilkan ada juga emas seperti dari tambang Freeport dan berbagai hasil alam lain, sekali pun demikian rakyat Papua termasuk yang termiskin dalam pangkuan dan pelukan mesra Ibu Pertiwi. ( https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4117175/angka-kemiskinan-terbesar-ri-ada-di-maluku-papua-212 ) Sesuai berita media internasional dikatakan bahwa Blok Masela adalah sumber gas terbesar di Asia Tenggara. Dari sumber ini pemerintah Maluku meminta 10%. Sampai hari ini tidak ada berita bahwa permintaan ini dikabulkan oleh Jakarta. Apa alasan tidak ada pernyataan dikabulkan permintaan tersebut? Biasanya sumber-sumber kekayaan alam yang menguntung, bagaikan gula yang dikerumi semut, sebagai contoh sesuai berita yang dikemukan wakil KOMNAS HAM pada salah satu pertemuan ILC diberitakan bahwa di sekitar Freeport terdapat 50 perusahaan milik petinggi pemerintah. Dari contoh ini bisa juga dikatakan bahwa Blok Masela tidak terkekecualian. Barangkali patut dicatat bahwa keadaan rakyat di Maluku dan Papua maupun di Aceh tidak ada p perbedaan signifikan, mereka semuanya masuk katagori termiskin di NKRI. Apakah benar akan dibangun industri petrokimia yang bisa menampung tenaga kerja lokal? Apakah sudah ada tenaga kerja tsb dipersiapkan? https://www.tribun-maluku.com/2019/07/jokowi-berharap-blok-masela-dorong-industri-turunan-dan-serap-tenaga-kerja-lokal/ *Jokowi Berharap Blok Masela Dorong Industri Turunan dan Serap Tenaga Kerja Lokal* Pewarta : *Tribun Maluku* <https://www.tribun-maluku.com/author/berita-maluku/> 19 Juli 2019 <https://www.tribun-maluku.com/2019/07/jokowi-berharap-blok-masela-dorong-industri-turunan-dan-serap-tenaga-kerja-lokal/> *Jakarta, Tribun-Maluku.com* : Presiden Joko Widodo berharap rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) proyek LNG Lapangan Abadi di Blok Masela Provinsi Maluku dapat mendorong lahirnya industri turunan seperti petrokimia. “Ini adalah sebuah investasi yang sejak kita merdeka, ini investasi yang paling besar dan dari sisi dampak nantinya itu bisa ratusan ribu yang bekerja di sana apabila dikembangkan ke derivatif di bawahnya seperti (industri-industri) petrokimia,” kata Presiden Jokowi di Istana Negara Jakarta, Jumat (19/7/2019). “Ini yang saya sampaikan terus, akan kita kawal dan kita harapkan konstruksi bisa segera dimulai sehingga sesuai jadwal. Nanti tahun 2027 sudah bisa beroperasi dengan baik, dampak nanti ‘capital inflow’, uang masuk, modal masuk ke Indonesia akan memberikan dampak juga ke ekonomi kita,” tambah Presiden. Presiden juga meminta agar Inpex sebagai pihak yang membangun kilang untuk menggunakan muatan lokal sebesar mungkin. “Saya sudah sampaikan kemarin kepada Inpex, saya minta ‘local content’ setinggi-tingginya, penggunaan tenaga kerja karyawan dari daerah lokal dan Indonesia juga sebanyak-banyaknya,” tegas Presiden. Penandatanganan revisi Rencana Pengembangan (PoD) Proyek Minyak dan Gas Blok Masela Kepulauan Tanimbar Maluku sudah dilakukan pada pekan lalu (baca : *Menteri ESDM Teken Revisi Rencana Pengembangan Blok Masela <https://www.tribun-maluku.com/2019/07/menteri-esdm-teken-revisi-rencana-pengembangan-blok-masela/>* ). Pada Selasa (16/7), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan dengan didampingi Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Mulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto, CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menyerahkan PoD Lapangan Abadi, Blok Masela kepada Presiden Joko Widodo. Inpex Masela Ltd., anak usaha Inpex Corporation, akan membangun kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) darat dengan kapasitas 9,5 juta ton per tahun dan gas bumi sebesar 150 MMSCFD. Proyek ini diperkirakan beroperasi pada 2027. CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda menuturkan, Inpex mengklaim proyek Lapangan Abadi di Blok Masela akan memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi pendapatan Indonesia sampai dengan 153 miliar dolar AS atau setara Rp2.142 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) hingga akhir fase produksi pada 2055 mendatang. Menurut Jonan, pembangunan Lapangan Abadi akan dapat menyerap 30 ribu tenaga kerja langsung maupun pendukung dan saat beroperasi akan menyerap tenaga kerja antara 4.000 sampai 7.000 orang termasuk pembangunan industri petrokimia. Sebagai tambahan atas persetujuan revisi PoD, Pemerintah juga menyetujui permohonan untuk alokasi tambahan waktu selama 7 tahun dan perpanjangan Production Sharing Contract (PSC) Wilayah Kerja atau Blok Masela selama 20 tahun hingga 2055. Selanjutnya, Inpex akan terus bekerja bersama Shell sebagai mitra kerja untuk memulai aktivitas persiapan yang diperlukan dalam rangka melaksanakan kegiatan Front End Engineering Design (FEED). Dengan mulainya proyek ini, pemerintah Indonesia akan menerima investasi sekitar 39 miliar dollar AS dan Inpex sekitar 37 miliar dolar AS. Angka tersebut sudah termasuk 10 persen milik daerah, sehingga Inpex dan Shell hitungannya bisa terima 33,3 miliar dolar AS. Potensi ini masih bisa dioptimalkan dari dampak berganda seperti industri petrokimia dan potensi investasi 5 miliar dolar AS di daerah tersebut. Proyek Lapangan Abadi adalah proyek pengembangan LNG skala besar terintegrasi pertama yang dioperasikan oleh Inpex di Indonesia sebagai operator, sesudah Proyek LNG Ichthys di Australia. Jumlah output gas alam di Lapangan Abadi sebesar 10,5 juta ton per tahun, mencakup sekitar 9,5 juta ton gas alam cair/LNG per tahun, dan memasok penyediaan gas untuk lokal melalui jalur pipa. Untuk kondensatnya, mencapai sekitar 35.000 setara barel minyak per hari. Pengelolaan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela untuk menghasilkan LNG yang telah disetujui oleh pemerintah untuk dikembangan oleh Inpex Corporation berpotensi membuka lapangan pekerjaan kepada sebanyak 73.000 orang selama periode 33 tahun. (Baca : *Blok Masela Berpotensi Buka Pekerjaan 73.000 Orang <https://www.tribun-maluku.com/2019/07/blok-masela-berpotensi-buka-pekerjaan-73-000-orang/>* ) Sementara itu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto memperkirakan produksi LNG dari Lapangan Gas Abadi Blok Masela di Maluku sudah akan dapat dimulai pada tahun 2027 mendatang (baca : *SKK Migas Prediksi Produksi LNG Blok Masela Mulai 2027 <https://www.tribun-maluku.com/2019/07/skk-migas-prediksi-produksi-lng-blok-masela-mulai-2027/>*). (an/tm)
