https://mediaindonesia.com/read/detail/251672-tiongkok-ancam-as-soal-rudal
*/Tiongkok Ancam AS Soal Rudal/*
Penulis: *Ihfa Firdausya [email protected]* Pada: Rabu, 07 Agu
2019, 06:20 WIB Internasional <https://mediaindonesia.com/internasional>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/251672-tiongkok-ancam-as-soal-rudal>
<https://twitter.com/home/?status= Tiongkok Ancam AS Soal Rudal
https://mediaindonesia.com/read/detail/251672-tiongkok-ancam-as-soal-rudal
via @mediaindonesia>
Tiongkok Ancam AS Soal Rudal
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/08/91749c2c395ea3b7748f5162f4be6bbf.jpg>
/(Photo by ALEX HALADA / AFP)/
Fu Cong, direktur pengendalian senjata di Kementerian Luar Negeri Tiongkok
TIONGKOK mengancam akan mengambil tindakan balasan jika Amerika Serikat
melanjutkan rencana pembangunan pangkalan peluncuran rudal darat di
wilayah Asia-Pasifik.
Ancaman itu muncul beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS, Mark
Esper, mengatakan, saat ini AS bebas untuk mengerahkan senjata setelah
pekan lalu 'Negeri Paman Sam' menarik diri dari perjanjian
Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) dengan Rusia. Alasannya, Rusia
melanggar perjanjian itu selama bertahun-tahun.
Di bawah pakta yang ditandatangani pada 1987 itu, Washington dan Moskow
sepakat untuk membatasi penggunaan rudal konvensional dan nuklir dengan
jangkauan 500-5.000 kilometer.
Perjanjian tersebut ditandatangani pemimpin kedua negara saat itu,
Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev. "Tiongkok tidak akan berpangku
tangan dan akan mengambil tindakan balasan jika AS mengerahkan rudal
darat jarak menengah," kata Fu Cong, direktur pengendalian senjata di
Kementerian Luar Negeri Tiongkok, kemarin.
"Kami juga menyerukan kepada negara-negara tetangga kami untuk waspada
dan tidak mengizinkan penempatan rudal jarak menengah AS di wilayah
mereka," tambahnya sambil menyebut Australia, Jepang, dan Korea Selatan.
Australia sendiri menyampingkan kemungkinan rudal yang ditempatkan di
wilayahnya. Mereka mengatakan, Canberra bahkan tidak diminta untuk
menjadi tuan rumah penempatan rudal AS.
Perjanjian INF dianggap sebagai landasan kontrol senjata global. Namun,
AS mengatakan bahwa pakta bilateral itu telah memberi negara-negara
lain, termasuk Tiongkok, kebebasan untuk mengembangkan rudal jarak jauh
mereka sendiri.
Esper mengatakan bahwa Washington ingin membangun pangkalan rudal
terbaru. Dia tidak memerinci di mana AS akan membangun pangkalan senjata
itu. Para ahli mengatakan, lokasi yang paling mungkin ialah Pulau Guam
yang menampung sejumlah fasilitas militer AS.
Pengumuman ini merupakan rencana terbaru AS untuk membuat jengkel
Tiongkok yang bersaing dengan Washington untuk mendapatkan pengaruh di
kawasan itu. Munculnya Tiongkok yang secara militer lebih asertif di
wilayah tersebut telah mengkhawatirkan sekutu tradisional AS, seperti
Australia dan Selandia Baru.
Tindakan Beijing di Laut China Selatan juga telah membuat para tetangga
khawatir terhadap klaim teritorial Beijing untuk jalur laut strategis
tersebut.
Hentikan impor
Di sisi lain, sejumlah perusahaan Tiongkok, kemarin, menyatakan
menghentikan pembelian produk pertanian Amerika Serikat. Ini merupakan
dampak perang dagang AS-Tiongkok.
Tiongkok mengimpor produk pertanian AS senilai US$9,1 miliar pada 2018,
khususnya kedelai, susu, sorgum, dan daging babi. Namun, capaian itu
lebih rendah jika dibandingkan dengan periode 2017 sebesar US$19,5
miliar. Dalam pesan elektronik, Dewan Produsen Daging Babi Nasional
menyatakan urgensi untuk mengakhiri perang dagang sehingga produsen
daging babi dapat meningkatkan penjualan.
Tiongkok juga memberlakukan tarif tambahan pada komoditas pertanian AS.
Tindakan tersebut turut menargetkan masa depan negara-negara pertanian
yang mendukung Presiden AS, Donald Trump, dalam Pemilihan Umum AS pada
2016. (AFP/*/X-11)