https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1588-seriuskah-ber-pancasila
/*Seriuskah Ber-Pancasila?*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Rabu, 07
Agu 2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1588-seriuskah-ber-pancasila>
<https://twitter.com/home/?status=Seriuskah Ber-Pancasila?
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1588-seriuskah-ber-pancasila
via @mediaindonesia>
Seriuskah Ber-Pancasila?
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/08/df36898b4a13521a895829a9ae9b7c92.jpg>
/MI/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
"TIDAK ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila." Ini
ancaman Presiden Joko Widodo ketika pidato bertajuk Visi Indonesia,
Juli lalu.
Namun, bersungguh-sungguhkah negara ini ber-Pancasila? Pertanyaan ini
tentu bisa memunculkan pertanyaan balik, tak percayakah dengan Badan
Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)? Lembaga yang didirikan untuk
membumikan Pancasila? Ketua Badan Pengarah BPIP dijabat Megawati
Soekarnoputri, mantan presiden. Putri Bung Karno, salah seorang penggali
utama Pancasila.
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pun yang tengah membesar dan mengancam
Pancasila dibubarkan lewat Perppu. Masih tak percaya? Bukankah kaum
nasionalis menjadikan Pancasila dalam setiap tarikan napas? "Kami
Indonesia, kami Pancasila." Itu semua tak cukup.
Menurut Bung Karno, sebagai (weltanschauung) (pandangan hidup, mahkota
filsafat), Pancasila bisa menyelamatkan bangsa Indonesia. Sebagai
(weltanschauung) Pancasila tak serupa (Declaratioan of Independence)-nya
Amerika Serikat dan (Manifesto Komunis)-nya Uni Soviet. Pancasila ialah
peningkatan (hogere optrekking) dari kedua ideologi itu.
Kenapa? Karena (Declaratioan of Independence) tak mempunyai nilai
keadilan sosial, sedangkan (Manifesto Komunis) tak mengandung Ketuhanan
Yang Maha Esa. Pancasila ialah ideologi jalan ketiga, jalan tengah.
Ideologi yang khas bangsa Indonesia. Identitas diri.
Yang mencemaskan ialah Pancasila sebagai teks dan sebagai praktik tak
berjumpa dalam satu ombak. Hasil survei berbagai lembaga, misalnya Oxfam
dan Bank Dunia kesenjangan ekonomi kita amat tinggi. Menurut Oxfam
(2017), kekayaan empat orang terkaya Indonesia setara dengan kekayaan
100 juta orang termiskin. Betapa liberalnya ekonomi kita.
Cita-cita negara adil makmur tak pernah sungguh-sungguh diwujudkan.
Pasal 33 UUD 1945 ditelanjangi habis-habisan. (Perekonomian disusun
sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan) hanya teks mati.
Asasnya jelas kapitalisme. Koperasi dicampakkan.
Siapakah pula kini yang menguasai (cabang-cabang produksi yang penting
bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak?) Benarkah, (bumi,
air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat?) Rasanya yang
makmur tetaplah para pemilik modal. Segelintir orang.
Mana pula praktik, (perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas
demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, berkeadilan, dan
berwawasan lingkungan?) "Perampasan dan perusakan dan perusakan sumber
daya alam oleh pemodal kuat terjadi secara sistematis, masif, dan
terstruktur, menyisakan malapetaka ekologis, ketidakadilan, dan
keterancaman kesinambungan pembangunan," tulis Yudi Latif (Revolusi
Pancasila, 2015).
Menurut Yudi, untuk memulihkan krisis serius ini butuh Revolusi
Pancasila, sebuah ikhtiar perubahan mendasar pada sistem sosial untuk
mewujudkan kehidupan yang merdeka, adil, dan makmur.
Revolusi Pancasila bukan Revolusi Prancis (1789) yang menciptakan
masyarakat kapitalis-borjuis. Ia juga bukan Revolusi Uni Soviet (1917),
revolusi kaum proletar yang melahirkan kediktatoran proletariat.
Revolusi Pancasila ialah revolusi kemanusiaan. Ia melampuai batas kelas
dan golongan. Tujuannya untuk mewujudkan masyarakat merdeka, bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur.
PDIP (dengan basis kaum Marhaen), yang akan berkongres pada 8-11 Agustus
ini, adakah punya kegalauan dengan kesenjangan sosial yang amat tinggi
ini? Partai ini dua kali berturut-turut menang Pemilu 2009 dan 2019,
mestinya menjadi lokomotif Revolusi Pancasila. Apa justru mabuk kuasa?
Terlampau riuh bicara persatuan tapi membiarkan kaki-tangan kapitalisme
menguasai prekonomian kita, sama artinya membangun istana pasir.
Ia sama dan sebangun pula dengan meminta warga membangun inklusivitas,
tetapi di mana-mana secara terbuka para pedagang (dengan seizin penguasa
tentu) menawarkan kehidupan/hunian eksklusif. Sudah pasti terpisah
tembok kukuh dengan mereka yang termiskinkan itu.
Jika tak ingin Pancasila bertahan hanya sebagai slogan, mestinya ada
upaya habis-habisan mengupayakan Revolusi Pancasila. Keadilan sosial,
terutama, memang sila yang paling banyak dikhianati sejak kelahirannya.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1588-seriuskah-ber-pancasila>
<https://twitter.com/home/?status=Seriuskah Ber-Pancasila?
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1588-seriuskah-ber-pancasila
via @mediaindonesia>