Ahli Ekonomi AS: Tak Ada Bukti Yang Menunjukkan Tiongkok Memanipulasi Kurs

http://indonesian.cri.cn/20190807/76c2b865-18aa-d5c5-7858-afbb40f85ce0.html
2019-08-07 14:13:42

Kurs mata uang RMB terhadap dolar Amerika pada hari Selasa mengalami devaluasi yang tertentu dengan menerobos 7 yuan. Setelah itu, Departemen Keuangan AS mengumumkan Tiongkok sebagai manipulator kurs. Periset senior Kantor Penelitian Kebijakan Dunia AS, Profesor Tamu Universitas New York James Nolt berpendapat, devaluasi RMB pada taraf yang sangat besar merupakan akibat tekanan kebijakan perdagangan unilateral pemerintah AS antara lain pengenaan terus tarif tambahan terhadap produk asal Tiongkok terhadap pasar, dan tak ada alasannya pemerintah AS mengecam Tiongkok memanipulasi kurs.

James Nolt berpendapat, penerobosan 7 yuan tukar satu dolar adalah konsekwensi peranan kekuatan pasar, bukan berasal dari intervensi pemerintah Tiongkok. ia mengatakan, seperti bank sentral negara-negara lain, Bank Rakyat Tiongkok menjalankan tugas dan kewajibannya dalam menyusun dan menerapkan kebijakan mata uang. Dalam jangka panjang, Tiongkok melaksanakan kebijakan moneter yang stabil.

James Nolt berpendapat, menghadapi serangkaian tindakan AS yang tidak masuk akal, Tiongkok sejauh ini terus berupaya membuka jalur dialog dan komunikasi. Sedangkan, pemerintah AS menempelkan label negara manipulator kurs pada Tiongkok dengan tujuan finalnya mempertahankan tekanan tinggi dan inisiatif dalam negosiasi ekonomi dan dagang dengan Tiongkok dalam rangka memperoleh lebih banyak kepentingan.



 Sejumlah Ahli Ekonomi AS


 Menentang Tiongkok ditetapkan sebagai Negara Manipulator Kurs

2019-08-07 14:53:29

Tanpa peduli pada aturan obyektif ekonomi dan evaluasi organisasi internasional, Kementerian Keuangan AS telah menetapkan Tiongkok sebagai negara manipulator kurs pada hari Senin ini. Namun mantan menteri keuangan AS Lawrence Summers dan sejumlah ahli ekonomi AS beramai-ramai menyatakan tentangan atas keputusan pemerintah AS tersebut karena menurut mereka tidak ada bukti untuk menyatakan Tiongkok memanipulasi kurs.

Dalam artikelnya yang dimuat di harian The Washington Post kemarin, Laurence mengkritik keputusan kementerian keuangan itu. Artikel menunjukkan, dilihat dari indikator untuk menentukan apakah memanipulasi kurs, Tiongkok bukanlah negara manipulator kurs. Menetapkan Tiongkok sebagai negara manipulator kurs, keputusan itu tidak hanya merugikan reputasi menteri keuangan AS Steven Mnuchin dan instansinya, tapi juga sulit diterima oleh dunia internasional.

Periset senior AS Fred Bergsten, selaku direktur kehormatan Institut Ekonomi Internasional Peterson dalam wawancara menunjukkan, tidak ada bukti untuk menyatakan Tiongkok adalah negara manipulator kurs, penurunan kurs Renminbi dengan dolar AS adalah manifestasi pasar, keadaan ini bukanlah penyebab untuk mendukung kementerian keuangan AS menetapkan Tiongkok sebagai negara manipulator kurs.




---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke