Pada umumnya partai politik di NKRI adalah perusahaan politk milik
keluarga, jadi yang memegang posisi terpenting dalam partai adalah anggota
keluarga. Berbicara tentang siapa pantas gantikan Megawati tentunya tidak
perlu jungkir balik otak untuk mencari pengganti, pengganti sudah ada,
tinggal diumumkan dan disahkan oleh sendiwara kongres. Tetapi sendainya mau
diambil orang di luar lingkungan keluarga, maka orangnya harus sesuai
dengan selera kepentingan keluarga pemilik partai.


https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190808064250-32-419398/siapa-pantas-gantikan-megawati?utm_source=notifikasi&utm_campaign=browser&utm_medium=desktop



ANALISIS Siapa Pantas Gantikan Megawati?

CNN Indonesia | Kamis, 08/08/2019 08:25 WIB

Bagikan :

[image: Siapa Pantas Gantikan Megawati?]Ketua Umum PDIP Megawati
Soekarnoputri (tengah) bersama putrinya Puan Maharani (kiri) dan putranya
Muhammad Prananda Prabowo (kedua kanan). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)


Jakarta, CNN Indonesia -- Trah alias keturunan Presiden pertama RI *Sukarno
<https://www.cnnindonesia.com/tag/sukarno>* di posisi Ketua Umum *PDIP
<https://www.cnnindonesia.com/tag/pdip>* dianggap jadi pemersatu partai.
Sosok *Megawati Soekarnoputri
<https://www.cnnindonesia.com/tag/megawati-soekarnoputri>* sampai saat ini
merupakan opsi yang terbaik untuk keberlangsungan partai banteng bermoncong
putih.

Dua cucu Sukarno, Puan Maharani dan Prananda Prabowo, dianggap belum matang
untuk mengurus PDIP. Sementara, Presiden Joko Widodo sebagai sosok di luar
trah Sukarno dinilai punya peluang namun di sisi lain berpotensi memecah
partai.
Lihat juga:

 Sekjen Sebut Megawati Beri Isyarat Kembali Jadi Ketum PDIP
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190808013701-32-419380/sekjen-sebut-megawati-beri-isyarat-kembali-jadi-ketum-pdip/>

Regenerasi kepemimpinan PDIP jadi sorotan karena partai penguasa itu tengah
menggelar Kongres V PDIP di Bali, 8 hingga 11 Agustus 2019. Agenda utama
kongres ini adalah memilih ketua umum baru, meski sudah hampir dipastikan
Megawati Soekarnoputri akan terpilih kembali secara aklamasi untuk
menduduki jabatan tersebut.


Suksesi di pucuk pimpinan PDIP dinilai krusial mengingat Megawati kini
telah berusia 72 tahun. Lantas muncul pertimbangan soal penggantinya yang
mungkin berasal dari trah biologis Sukarno, seperti Puan dan Prananda, atau
bukan trah biologis Sukarno, seperti Joko Widodo dan Gubernur Jawa Tengah
Ganjar Pranowo, misalnya.

Direktur Eksekutif KedaKOPI Kunto Adi Wibowo mengatakan salah satu ancaman
bagi PDIP bila kelak tak lagi dipimpin oleh sosok yang berasal dari trah
biologis Sukarno adalah ditinggal pemilih.

Presiden pertama RI Sukarno, yang merupakan ayah dari Megawati, mewariskan
ideologi marhaenisme. (AFP PHOTO)

Menurutnya, karakter masyarakat Indonesia yang masih memilih parpol
berdasarkan ketokohan akan membuat PDIP sulit untuk tidak menjadikan sosok
yang bukan trah biologis Sukarno sebagai ketua umum.

"Kehilangan basis pemilih tradisional dan itu risiko besar," kata Kunto
kepada *CNNIndonesia.com*, Rabu (7/8).

Dia menjelaskan, parpol di Indonesia yang bisa keluar dari lingkaran
pemilih tradisional saat ini baru Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Lihat juga:

 Megawati Minta Kader Hormati Prabowo di Kongres PDIP
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190807205431-32-419353/megawati-minta-kader-hormati-prabowo-di-kongres-pdip/>

Sementara PDIP, lanjutnya, sama seperti Partai Gerindra dan Demokrat, yang
pemilihnya masih bersifat tradisional karena memilih parpol berdasarkan
tokoh.

"PDIP sangat sadar kekuatan mereka atau *vote* mereka dapatkan dari pemilih
tradisional," ucap Kunto.

Menurutnya, sosok yang memiliki 'nilai jual' di PDIP saat ini sebenarnya
adalah Joko Widodo, Presiden RI. Namun, menurutnya, menyerahkan jabatan
Ketua Umum PDIP kepada Jokowi yang notabene bukan trah biologis Sukarno
dapat menimbulkan perpecahan di tubuh partai berlambang kepala banteng itu.

Sosok Jokowi dinilai berpotensi jadi pemimpin PDIP lantaran kematangan
politik dan daya tariknya, meski dianggap bisa memecah partai karena bukan
trah Sukarno. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Di sisi lain, kata Kunto, Puan dan Prananda belum teruji kedewasaannya
dalam berpolitik. Berangkat dari itu, ia berpendapat, pilihan terbaik bagi
PDIP saat ini adalah menjadikan Megawati sebagai ketua umum lewat Kongres V
PDIP.

"Perpecahan sangat mungkin karena trah Sukarno itu pemersatu yang tidak
bisa diganggu. Di PDIP ketokohan selain Jokowi belum dewasa, belum teruji
dalam banyak hal. Prananda dan Puan ini sedang di-*grooming*," ujarnya.

*Marhaenisme Tetap Hidup*

Ketua Pusat Studi Keamanan dan Politik Universitas Padjadjaran Muradi
menilai PDIP akan baik-baik saja bila kelak tidak dipimpin yang bukan
berasal dari trah biologis Sukarno.
Lihat juga:

 Wasekjen PDIP Akan Sodorkan Puan ke Megawati Jadi Ketua DPR
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190719192033-32-413766/wasekjen-pdip-akan-sodorkan-puan-ke-megawati-jadi-ketua-dpr/>

"[PDIP] akan baik-baik saja, tidak ada masalah," ucap Muradi.

Lepas dari itu, menurutnya ada tiga hal menjadi alasan mengapa saat ini
Megawati harus kembali menjadi Ketua Umum PDIP.

Pertama, PDIP adalah partai yang unik dan tidak bisa disamakan dengan
partai nasionalis lain. Menurutnya, dibutuhkan simbol penguat ideologi
sebagai basis PDIP.

Logo PDIP. (Andika Wahyu)

Kedua, menjadi pemimpin di PDIP tidak mudah. Menurutnya, sosok Ketua Umum
PDIP harus memiliki karisma, pengalaman, dan keterampilan.

Ketiga, menjadikan Megawati kembali sebagai Ketua Umum PDIP merupakan
simbolisasi 'ibu' yang menjadi karakter PDIP dalam berpolitik selama ini

"Lebih ke simbolisasi, ada kenyamanan yang luar biasa dalam konsep
ideologi," ucap Muradi.
Lihat juga:

 Putra Megawati Akan Bawakan Materi Khusus di Kongres PDIP
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190807160828-32-419239/putra-megawati-akan-bawakan-materi-khusus-di-kongres-pdip/>

Menurutnya, ideologi marhaen atau marhaenisme yang selama ini menjadi ciri
khas dari sosok trah biologis Sukarno dan PDIP akan selalu hidup meskipun
PDIP kelak tak lagi dipimpin sosok trah biologis Sukarno.

Dia berpendapat, marhaenisme akan terus menyesuaikan diri dengan
perkembangan situasi politik di tengah masyarakat.

"Seandainya Puan memimpin, Puan harus bisa mendalami kepemimpinan Megawati
yang mengintegarasikan politiknya dengan pemikiran Bung Karno," ujar dia.

Kirim email ke