Kalau rupiah lesu darah, maka ekonomi lemah syahwat.


https://www.jawapos.com/ekonomi/finance/07/08/2019/rupiah-lesu-darah-bi-minta-investor-jangan-resah/


*Rupiah Lesu Darah, BI Minta Investor Jangan Resah*

FINANCE <https://www.jawapos.com/ekonomi/finance/>

7 Agustus 2019, 18:30:57 WIB

[image: Rupiah Lesu Darah, BI Minta Investor Jangan Resah]*Destry Damayanti
resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) periode 2019-2024
usai pengambilan sumpah jabatan yang disaksikan Ketua MA Hatta Ali di
Gedung Mahkamah Agung RI, Jakarta, Rabu (7/8). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)*


*JawaPos.com* – Bank Indonesia (BI) meminta pelaku pasar ataupun investor
untuk tidak terlalu khawatir dengan perekonomian global yang tidak menentu
akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Meski pertempuran
kedua negara adidaya itu kerap membuat nilai tukar rupiah tertekan, BI
memastikan tekanan itu hanya bersifat sementara.

Penegasan itu disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti
usai pelantikan di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Rabu (7/8). Selain
Indonesia, perang dagang kedua negara itu juga mempengaruhi negara-negara
berkembang lainnya (*emerging market*).

“Di sisi domestik, kalau global ada suatu goncangan, kita (Indonesia) akan
(terkena) goncangan juga. Tapi, kita tidak perlu panik, market (pelaku
pasar) tidak perlu panik. Biasanya goncangan sifatnya sesaat,” tegas Destry.

Destry menyampaikan, kondisi tersebut juga menjadi tantangan BI untuk bisa
menjaga stabilitas sistem keuangan. Mereka tak mau lengah dengan kondisi
melemahnya nilai tukar rupiah akibat perang dagang kedua negara.

“BI akan selalu berada di pasar untuk mewaspadai pergerakan atau
instabilitas yang terjadi di sektor keuangan,” terangnya.

Caranya, BI akan mempertahankan kebijakan moneter dan makroprudensial yang
akomodatif untuk menghadapi tekanan global. Salah satunya dengan mendorong
peningkatan investasi dan konsumsi rumah tangga.

“Kalau bisa fokus dua ini maka pertumbuhan akan signifikan karena keduanya
sumbangkan 80 persen ke PDB (produk domestik bruto),” pungkasnya

Kirim email ke