https://republika.co.id/berita/pvweu0385/tentang-pancasila-bung-karno-kartosuwiryo-dan-hilter



Tentang Pancasila, Bung Karno, Kartosuwiryo, dan Hilter

*Kamis 08 Agu 2019 10:25 WIB*

*Red: Muhammad Subarkah*


*Tentang kisah Pancasila, Bung Karno, Kartosuwiryo, dan Hilter seolah
dilupakan*

*Oleh: DR Syahganda Nainggolan, Pendiri Sabang Merauke Circle.*

*Professor Ben Anderson dalam pengantar bukunya Spectra mengatakan
keterkejutan yang dalam mendengar pidato pendiri Pancasila, Bung Karno,
tahun 1961 di UI. Saat itu dia membawa diplomat baru Amerika yang bertugas
di Jakarta. Terkejut karena dalam pidatonya Bung Karno menyatakan
kekagumannya pada Hitler. Menurut Bung Karno, Hitler adalah pemimpin besar
dunia anti imperialisme barat.*

*Ben, dan diplomat baru tersebut tidak habis-habisnyanya terkejut,
bagaimana bisa pemimpin bangsa sebesar Indonesia mengangumi sosok pembunuh
2 juta orang Jahudi di berbagai kamar gas beracun dan musuh dunia,
khususnya barat yang dianggap paling beradab.*

*Apa yang dipikirkan Ben dan diplomat itu banyak menjadi pertanyaan dalam
pikiran lainnya, mengapa Bung Karno memimpin pengerahan pekerja/buruh/koeli
untuk membangun jalan-jalan rel kereta api (Romusha) di bawah komando
pemerintahan Jepang? Mengapa Bung Karno bersekutu dengan penjajah Jepang?*

*Rachmawati ketika saya tanyakan itu secara sederhana menjawab, bahwa
itulah yang bisa dilakukan bapaknya untuk bersiasat demi memerdekakan
Indonesia. Bersekutu dengan Jepang untuk mengusir Belanda.*

*Meski saya percaya pada Rachmawati, namun orang-orang yang percaya Tan
Malaka, Muso dan Kartosuwiryo tentu tetap tidak percaya pada Bung Karno.
Tan Malaka yang legendaris ikut membangun Partai Komunis China dan menjadi
pembicara dalam pertemuan Komunis Internasional di Rusia, merasa Bung Karno
tidak sepenuhnya berjuang melawan Belanda. Tema-tema anti Kapitalisme Bung
Karno, menurut Tan, hanyalah kamuflase agar tidak berbenturan langsung
dengan Belanda. Begitu juga soal kolaborasi dengan Jepang, yang merugikan
rakyat.*


*uhammad Subarkah*





*Kartosuwiryo sendiri mengecam Bung Karno yang terlalu banyak berunding
dengan Belanda dan Sekutu. Meninggalkan ibukota dan menjadikan Republik
Indonesia mengecil dengan pusatnya di Yogyakarta. Untuk melawan Belanda,
Kartosuwiryo mendeklarasikan Negara Islam Indonesia yang berpusat di Jawa
Barat. Saat itu akibat perjanjian Renvile, Jawa Barat bukan lagi wilayah RI
sehingga harus dikosongkan.*

*Akibat lainnya, wilayah RI kala itu semakin sempit, yakni tinggal Jawa
Tengah dan sedikit Jawa Timur. Tak hanya Kartosuwiryo, Jendral Sudirman pun
kecewa, apalagi akibat perjanjian itu pasukan terkuat RI, Divisi Siliwangi,
harus meninggalkan wilayah Jawa Barat dan berpindah (long march) ke wilayah
RI yang tersisa, yakni Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan antara Jendral
Sudirman dan Kartosuwiryo pada saat itu punya hubungan erat. Keduanya
saling bersurat dengan perantara atau kurir Letkol SUharto yang kemudian
menjadi presiden RI menggantikan Bung Karno.*

*Ketika Pancasila dibahas dalam persiapan-persiapan kemerdekaan kita dan
dalam berbagai sidang Konstituante 1955-1959, alam pikiran bangsa kita
disimbolkan pada pikiran Bung Karno, Muso, Tan Malaka, Kartosuwiryo dan
lain sebagainya yang ekstrem. "Anak-anak mami" seperti aktifis-aktifis
Boedi Utomo yang justru dilukiskan heroik dalam Sumpah Pemuda, hanyalah
kelompok-kelompok pelengkap sejarah bangsa kita.*

*Dan, kalau kita membayangkan tulisan bung Karno tentang "Islamisme,
Marxisme dan Nasionalisme", tahun 1926, yang menegaskan bahwa Islamisme,
meskipun bersifat internasional, begitupun Komunisme bersifat
international, dapat menjadi lokal dan bersemi dalam semangat yang sama,
serta membayangkan pengamatan Ben Anderson atas kekaguman Bung Karno
terhadap Hitler 35 tahun kemudian, maka bisa kita selami siapa dan
bagaimana isi kepala dan jiwa Bung Karno itu. Artinya, seorang pemimpin
bangsa itu memang mempunyai spectrum multi dimensi dalam menghimpun
beragamnya pikiran yang berkembang dalam masyarakat.*

*Kebencian peradaban ini terhadap Hitler, yang tega memanggang jutaan
manusia dalam kamar gas, tidak mungkin lebih tinggi terhadap kebencian pada
Komunisme (yang menyebabkan jutaan orang tewas karena busung lapar di masa
revolusi Mao), terhadap Hizbut Tahrir yang tidak pernah berkuasa di
manapun, dan terhadap berbagai kelompok ideologis lainnya.*

*Lalu bagaimana kamu memikirkan bapak bangsamu Bung Karno, yang mengagumi
Hitler?*

*Saat ini kita diterpa semangat saling mengalahkan antara tuduhan Komunisme
versus ISIS di Indonesia. 32 Tahun Orde Baru berkuasa memang merancang
jargon "Pembangunan Yes, Politik No!". Dalam masa 32 tahun itu kesadaran
politik rakyat disterilkan. Rakyat hanya boleh ikut organisasi pemuda ala
pemuda pancasila, atau pengajian "surga-neraka", mahasiswa di doktriner
Pancasila versi P4.*

*Semua ini demi, khsuusnya, membangun imperium keluarga Cendana dan 300
Taipan Konglomerat, disamping tentu ada pembangunan infrastructure dan
sosial, dengan biaya mahal.*

*Maka dengan kesadaran politik dan literasi politik yang rendah, bangsa ini
tentu tidak pernah faham tentang Pancasila yang dipikirkan** founding
fathers.**Sesungguhnya sejak tahun 1959, belum ada pembahasan lagi soal
Pancasila.*

*Alhasil, ketika benturan saling menjatuhkan antara Pancasila vs bukan
Pancasila, sesungguhnya hanya benturan "keledai vs keledai dungu" saja.
Bagaimana doktor ilmu politik, yang puluhan tahun, misalnya, mendalami
ilmu-ilmu impor barat di kampus, dengan rujukan John Lock, Hobbes, Weber,
Marx, Adam Smith, David Ricardo, Karl Popper, Foucault, Derrida, Einstein
dan lainnya menjadi rujukan "ahli Pancasila"?*

*Selain itu bukankah rujukan ilmu standar barat merujuk pada nilai-nilai
dan etik barat?*

*Bagaimana kita menilai tanpa standar menilai? Inilah pokok masalah bangsa
kita.*

*Apakah ini akan terus berlangsung? sampai kapan? Semua akan berhenti jika
pembahasan Pancasila diulang kembali merujuk pada pandangan-pandangan para
pendiri bangsa kita, yang terhenti sejak 1959.*

Kirim email ke