Perkembangan berfikir seseorang kan meningkat setapak demi setapak dengan perkembangan ilmu dan pengalaman sejarah sesuai dengan pengalaman biologis dan lingkungan masyarakat masing-masing yang dialami dan dipelajarinya. Apa Ben Andersen tidak begitu?
Am Fri, 9 Aug 2019 11:59:48 +0200 schrieb "Sunny ambon [email protected] [nasional-list]" <[email protected]>: > https://republika.co.id/berita/pvweu0385/tentang-pancasila-bung-karno-kartosuwiryo-dan-hilter > > > > Tentang Pancasila, Bung Karno, Kartosuwiryo, dan Hilter > > *Kamis 08 Agu 2019 10:25 WIB* > > *Red: Muhammad Subarkah* > > > *Tentang kisah Pancasila, Bung Karno, Kartosuwiryo, dan Hilter seolah > dilupakan* > > *Oleh: DR Syahganda Nainggolan, Pendiri Sabang Merauke Circle.* > > *Professor Ben Anderson dalam pengantar bukunya Spectra mengatakan > keterkejutan yang dalam mendengar pidato pendiri Pancasila, Bung > Karno, tahun 1961 di UI. Saat itu dia membawa diplomat baru Amerika > yang bertugas di Jakarta. Terkejut karena dalam pidatonya Bung Karno > menyatakan kekagumannya pada Hitler. Menurut Bung Karno, Hitler > adalah pemimpin besar dunia anti imperialisme barat.* > > *Ben, dan diplomat baru tersebut tidak habis-habisnyanya terkejut, > bagaimana bisa pemimpin bangsa sebesar Indonesia mengangumi sosok > pembunuh 2 juta orang Jahudi di berbagai kamar gas beracun dan musuh > dunia, khususnya barat yang dianggap paling beradab.* > > *Apa yang dipikirkan Ben dan diplomat itu banyak menjadi pertanyaan > dalam pikiran lainnya, mengapa Bung Karno memimpin pengerahan > pekerja/buruh/koeli untuk membangun jalan-jalan rel kereta api > (Romusha) di bawah komando pemerintahan Jepang? Mengapa Bung Karno > bersekutu dengan penjajah Jepang?* > > *Rachmawati ketika saya tanyakan itu secara sederhana menjawab, bahwa > itulah yang bisa dilakukan bapaknya untuk bersiasat demi memerdekakan > Indonesia. Bersekutu dengan Jepang untuk mengusir Belanda.* > > *Meski saya percaya pada Rachmawati, namun orang-orang yang percaya > Tan Malaka, Muso dan Kartosuwiryo tentu tetap tidak percaya pada Bung > Karno. Tan Malaka yang legendaris ikut membangun Partai Komunis China > dan menjadi pembicara dalam pertemuan Komunis Internasional di Rusia, > merasa Bung Karno tidak sepenuhnya berjuang melawan Belanda. > Tema-tema anti Kapitalisme Bung Karno, menurut Tan, hanyalah > kamuflase agar tidak berbenturan langsung dengan Belanda. Begitu juga > soal kolaborasi dengan Jepang, yang merugikan rakyat.* > > > *uhammad Subarkah* > > > > > > *Kartosuwiryo sendiri mengecam Bung Karno yang terlalu banyak > berunding dengan Belanda dan Sekutu. Meninggalkan ibukota dan > menjadikan Republik Indonesia mengecil dengan pusatnya di Yogyakarta. > Untuk melawan Belanda, Kartosuwiryo mendeklarasikan Negara Islam > Indonesia yang berpusat di Jawa Barat. Saat itu akibat perjanjian > Renvile, Jawa Barat bukan lagi wilayah RI sehingga harus dikosongkan.* > > *Akibat lainnya, wilayah RI kala itu semakin sempit, yakni tinggal > Jawa Tengah dan sedikit Jawa Timur. Tak hanya Kartosuwiryo, Jendral > Sudirman pun kecewa, apalagi akibat perjanjian itu pasukan terkuat > RI, Divisi Siliwangi, harus meninggalkan wilayah Jawa Barat dan > berpindah (long march) ke wilayah RI yang tersisa, yakni Yogyakarta > dan sekitarnya. Bahkan antara Jendral Sudirman dan Kartosuwiryo pada > saat itu punya hubungan erat. Keduanya saling bersurat dengan > perantara atau kurir Letkol SUharto yang kemudian menjadi presiden RI > menggantikan Bung Karno.* > > *Ketika Pancasila dibahas dalam persiapan-persiapan kemerdekaan kita > dan dalam berbagai sidang Konstituante 1955-1959, alam pikiran bangsa > kita disimbolkan pada pikiran Bung Karno, Muso, Tan Malaka, > Kartosuwiryo dan lain sebagainya yang ekstrem. "Anak-anak mami" > seperti aktifis-aktifis Boedi Utomo yang justru dilukiskan heroik > dalam Sumpah Pemuda, hanyalah kelompok-kelompok pelengkap sejarah > bangsa kita.* > > *Dan, kalau kita membayangkan tulisan bung Karno tentang "Islamisme, > Marxisme dan Nasionalisme", tahun 1926, yang menegaskan bahwa > Islamisme, meskipun bersifat internasional, begitupun Komunisme > bersifat international, dapat menjadi lokal dan bersemi dalam > semangat yang sama, serta membayangkan pengamatan Ben Anderson atas > kekaguman Bung Karno terhadap Hitler 35 tahun kemudian, maka bisa > kita selami siapa dan bagaimana isi kepala dan jiwa Bung Karno itu. > Artinya, seorang pemimpin bangsa itu memang mempunyai spectrum multi > dimensi dalam menghimpun beragamnya pikiran yang berkembang dalam > masyarakat.* > > *Kebencian peradaban ini terhadap Hitler, yang tega memanggang jutaan > manusia dalam kamar gas, tidak mungkin lebih tinggi terhadap > kebencian pada Komunisme (yang menyebabkan jutaan orang tewas karena > busung lapar di masa revolusi Mao), terhadap Hizbut Tahrir yang tidak > pernah berkuasa di manapun, dan terhadap berbagai kelompok ideologis > lainnya.* > > *Lalu bagaimana kamu memikirkan bapak bangsamu Bung Karno, yang > mengagumi Hitler?* > > *Saat ini kita diterpa semangat saling mengalahkan antara tuduhan > Komunisme versus ISIS di Indonesia. 32 Tahun Orde Baru berkuasa > memang merancang jargon "Pembangunan Yes, Politik No!". Dalam masa 32 > tahun itu kesadaran politik rakyat disterilkan. Rakyat hanya boleh > ikut organisasi pemuda ala pemuda pancasila, atau pengajian > "surga-neraka", mahasiswa di doktriner Pancasila versi P4.* > > *Semua ini demi, khsuusnya, membangun imperium keluarga Cendana dan > 300 Taipan Konglomerat, disamping tentu ada pembangunan > infrastructure dan sosial, dengan biaya mahal.* > > *Maka dengan kesadaran politik dan literasi politik yang rendah, > bangsa ini tentu tidak pernah faham tentang Pancasila yang > dipikirkan** founding fathers.**Sesungguhnya sejak tahun 1959, belum > ada pembahasan lagi soal Pancasila.* > > *Alhasil, ketika benturan saling menjatuhkan antara Pancasila vs bukan > Pancasila, sesungguhnya hanya benturan "keledai vs keledai dungu" > saja. Bagaimana doktor ilmu politik, yang puluhan tahun, misalnya, > mendalami ilmu-ilmu impor barat di kampus, dengan rujukan John Lock, > Hobbes, Weber, Marx, Adam Smith, David Ricardo, Karl Popper, > Foucault, Derrida, Einstein dan lainnya menjadi rujukan "ahli > Pancasila"?* > > *Selain itu bukankah rujukan ilmu standar barat merujuk pada > nilai-nilai dan etik barat?* > > *Bagaimana kita menilai tanpa standar menilai? Inilah pokok masalah > bangsa kita.* > > *Apakah ini akan terus berlangsung? sampai kapan? Semua akan berhenti > jika pembahasan Pancasila diulang kembali merujuk pada > pandangan-pandangan para pendiri bangsa kita, yang terhenti sejak > 1959.*
