https://www.liputan6.com/news/read/4031474/perlawanan-terhadap-rezim-orba-dan-lahirnya-aji-25-tahun-lalu?related=dable&HouseAds&campaign=SEjarahHariIni_News_STS1&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fnews%2Fread%2F4034835%2Fkisah-tragis-pengabdian-taruna-akmil-blasteran-enzo-allie%3Frelated%3Ddable%26utm_source%3DNotification%26utm_medium%3DLiputan6-notif%26utm_campaign%3DLiputan6-Notification


*Perlawanan Terhadap Rezim Orba dan Lahirnya AJI 25 Tahun Lalu*

[image: Nafiysul Qodar] <https://www.liputan6.com/me/nafiysul.qodar>

Nafiysul Qodar <https://www.liputan6.com/me/nafiysul.qodar>

07 Agu 2019, 07:31 WIB

   -


[image: Demo Tolak Kekerasan terhadap Wartawan]
<https://www.liputan6.com/news/read/4031474/perlawanan-terhadap-rezim-orba-dan-lahirnya-aji-25-tahun-lalu?related=dable&HouseAds&campaign=SEjarahHariIni_News_STS1&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fnews%2Fread%2F4034835%2Fkisah-tragis-pengabdian-taruna-akmil-blasteran-enzo-allie%3Frelated%3Ddable%26utm_source%3DNotification%26utm_medium%3DLiputan6-notif%26utm_campaign%3DLiputan6-Notification#>Seorang
wartawan membentangkan poster saat aksi solidaritas tolak kekerasan
terhadap jurnalis di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (14/11/2014).
(Liputan6.com/Johan Tallo)

*Liputan6.com, Jakarta -* Pemberedelan media massa yang dilakukan rezim
orde baru (orba) memaksa wartawan muda Indonesia melakukan perlawanan.
Melalui penandatanganan 'Deklarasi Sirnagalih', Aliansi Jurnalis
<https://www.liputan6.com/news/read/4029550/aji-polisi-harus-serius-tangani-kekerasan-jurnalis>Independen
(AJI) lahir pada 7 Agustus 1994 atau 25 tahun lalu di Bogor, Jawa Barat.

AJI merupakan organisasi profesi jurnalis
<https://www.liputan6.com/regional/read/4025411/rumah-jurnalis-harian-serambi-indonesia-terbakar-terkait-pemberitaan>alternatif
di luar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sebab saat itu PWI dianggap
menjadi alat kepentingan pemerintahan Soeharto dan tidak betul-betul
memperjuangkan kepentingan jurnalis.

*BACA JUGA *

   -

   *Gaya Baru Pers di Filipina Tawarkan Tren Jurnalis Independen Lawan
   Kediktatoran*
   
<https://www.liputan6.com/global/read/4032621/gaya-baru-pers-di-filipina-tawarkan-tren-jurnalis-independen-lawan-kediktatoran>



Dikutip dari berbagai sumber, AJI didirikan tidak lama setelah pemberedelan
tiga media massa yakni tabloid DeTik, Tempo, dan Editor pada 21 Juni 1994.
Pemberedelan tersebut membantu menciptakan momentum yang dibutuhkan bagi
lahirnya sebuah organisasi jurnalis alternatif.

Tindakan rezim orba membungkam kebebasan pers itu justru membangkitkan
semangat jurnalis muda mewujudkan cita-citanya yang sudah lama terpendam,
yakni membentuk wadah pewarta yang independen ditandai penandatanganan
'Deklarasi Sirnagalih'.

Sirnagalih diambil dari nama desa di Bogor, Jawa Barat tempat pertemuan
para jurnalis muda berlangsung. Wisma Tempo di Sirnagalih dipilih sebagai
lokasi pertemuan karena pertimbangan praktis, relatif dekat, dan bisa
dijamin keamanan dan kerahasiaannya.

Memang tak mudah mencari pemilik gedung, yang mau meminjamkan tempat untuk
kegiatan yang berseberangan dengan pemerintahan orde baru. Undangan
disampaikan secara diam-diam.

Bahkan undangan palsu pun diedarkan, seolah-olah pertemuan akan berlangsung
di tempat lain di Bandung, Jawa Barat. Akibatnya, sejumlah jurnalis salah
informasi dan datang ke tempat yang salah.

Pertemuan digelar dengan elemen utama jurnalis dari empat kota yakni
Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Sebelum pertemuan, sudah
terdengar kabar bahwa ada kelompok atau figur tertentu yang mengklaim bisa
mengatur para jurnalis ini.

Untuk menghindari politisasi dan kabar miring, maka para jurnalis senior
seperti Erros Djarot, Aristides Katoppo, Goenawan Mohamad dan Fikri Djufri
diminta tidak datang pada tanggal 6 Agustus malam saat penggodokan konsep
dan wadah gerakan oleh jurnalis muda sedang berlangsung.

Mereka baru datang esok harinya, 7 Agustus 1994, ketika penggodokan telah
selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari tuduhan bahwa AJI sebagai
sekadar alat atau kepanjangan kepentingan dari tokoh-tokoh pers tertentu.

Deklarasi Sirnagalih pun diteken sekaligus menandakan kelahiran Aliansi
Jurnalis
<https://www.liputan6.com/news/read/4009706/aji-sarankan-pwi-pertimbangkan-ulang-aturan-wartawan-boleh-masuk-parpol>
Independen
atau AJI.

*Reaksi Pemerintah*

[image: 20160503-Hari-Pers-Internasional-Jakarta-IA]
<https://www.liputan6.com/news/read/4031474/perlawanan-terhadap-rezim-orba-dan-lahirnya-aji-25-tahun-lalu?related=dable&HouseAds&campaign=SEjarahHariIni_News_STS1&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer=https%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Fnews%2Fread%2F4034835%2Fkisah-tragis-pengabdian-taruna-akmil-blasteran-enzo-allie%3Frelated%3Ddable%26utm_source%3DNotification%26utm_medium%3DLiputan6-notif%26utm_campaign%3DLiputan6-Notification#>

Massa Aliansi Jurnalis Independen membentangkan spanduk saat melakukan aksi
di Jakarta, Selasa (3/5). Aksi tersebut diadakan dalam rangka peringatan
World Press Freedom Day 2016. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Lahirnya AJI tentu memicu reaksi pemerintah. Apalagi keberadaan AJI memberi
gaung cukup besar di dunia jurnalistik Indonesia.

Tekanan terhadap para jurnalis yang terang-terangan bergabung dalam AJI
sangat besar. Pemerintah melalui Departemen Penerangan dan PWI melihat
berdirinya AJI sebagai tantangan terbuka, yang harus ditindak keras agar
tidak meluas. Berbagai tindakan 'pendisiplinan' melalui pemimpin di media
masing-masing pun dilakukan.

Ada anggota yang dipindahkan ke bagian Litbang, dimutasi ke luar Jakarta,
ditekan supaya mundur dari AJI atau minta maaf, dan sebagainya. Intinya,
karier jurnalistik bagi anggota AJI praktis sudah ditutup, karena saat itu
untuk menjadi pemimpin redaksi (Pemred) harus memperoleh rekomendasi PWI.

Dalam hal ini, PWI dinilai telah bertindak terlalu jauh. Bahkan pimpinan
PWI dalam forum terbuka yang dikutip media pernah mengatakan, media massa
tidak boleh mempekerjakan anggota AJI.

Beberapa jurnalis juga diberhentikan dari keanggotaan PWI lantaran aktif di
AJI. Mereka yang dipecat antara lain, Fikri Jufri, Eros Djarot, Hasudungan
Sirait, Diah Purnomowati, dan Stanley Adi Prasetyo.

Bahkan tak sedikit anggota AJI yang dipaksa mundur dari perusahan media
massa tempatnya bekerja. Alasannya, mereka dapat membahayakan kelangsungan
perusahaan karena aktivitasnya di organisasi yang berseberangan dengan
pemerintah.
Saksikan juga video menarik berikut ini:

AJI dan LBH Pers Tuntut Presiden Cabut Remisi Pembunuh Wartawan
<https://www.vidio.com/watch/1571714-aji-dan-lbh-pers-tuntut-presiden-cabut-remisi-pembunuh-wartawan>

Kirim email ke