Mahfud MD Sebut Ada Pesantren Radikal di Magelang dan Yogya
Reporter:
Ahmad Faiz Ibnu Sani
Editor:
Juli Hantoro
Jumat, 16 Agustus 2019 17:48 WIB
Mantan hakim MK, Mahfud MD, ditemui di Kantor BPIP, Jakarta, 20 Juni
2019. Tempo/Friski RianaMantan hakim MK, Mahfud MD, ditemui di Kantor
BPIP, Jakarta, 20 Juni 2019. Tempo/Friski Riana
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Ketua Umum Gerakan Suluh KebangsaanMahfud MD
<https://www.tempo.co/tag/mahfud-md>, mengatakan ia mendapat info jika
banyak penganut Islam radikal di Arab Saudi yang ditangkap. Sebagian
yang masih lolos, kata dia, ada yang masuk ke Indonesia.
Menurut Mahfud, tokoh-tokoh Islam radikal ini diduga datang dengan
membawa uang jutaan dollar untuk mendukung gerakan radikal. Modus yang
dilakukan dengan cara mendukung pesantren-pesantren tertentu atau
membuat pesantren sendiri.
"Mendirikan lembaga pendidikan yang sangat jauh berbeda," katanya dalam
diskusi Scenario Planning: Indonesia di Hotel JS Luwansa, Jalan Rasuna
Said, Jakarta, Jumat, 16 Agustus 2019.
Menurut Mahfud, pesantren -pesantren
<https://www.tempo.co/tag/pesantren>ini dulu tidak dikenal namun
tiba-tiba muncul dengan murid yang banyak dan tertutup. "Di Yogyakarta
saya tahu ada, di Magelang (ada), gak boleh menyanyikan lagu Indonesia
Raya, mengibarkan (bendera) merah putih," tuturnya.
Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini berujar untuk mengatasi ancaman
radikalisme itu maka dia bersama sejumlah tokoh yang tergabung dalam
Gerakan Suluh Kebangsaan hari ini berkumpul untuk membuat skenario
tentang kondisi Indonesia.
Dalam diskusi yang berlangsung tertutup itu hadir sejumlah tokoh seperti
Salahuddin Wahid atau Gus Solah, Haedar Nasir, Alwi Shihab, Komaruddin
Hidayat, Amin Abdullah, Sudhamek, Alissa Wahid, Najeela Shihab, Romo
Benny Susetyo, Hilmar Farid, Jaleswari Pramodhawardani, Noor Huda
Ismail, dan perwakilan dari Badan Intelijen Negara serta Kepala Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme Suhardi Alius.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com