Setelah baca berita ini sudah pastilah kita bertanya-tanya: lalu apa yang 
dilakukan Mahfud sebagai dewan pengarah BPIP?

Lalu disusul pertanyaan-pertanyaan berikutnya:
- kapan para pelarian Arab itu masuk Indonesia; sebagai apa dan dengan cara apa 
uang jutaan dollar itu masuk ke Indonesia?

- disebutkan bahwa info masuknya Arab radikal berikut uang jutaan dollar ini 
diungkap Mahfud dalam diskusi tertutup, lalu apa tujuan Tempo.co membukanya ke 
publik?
Karena Tempo.co hanya menjadi corong Mahfud (tanpa sepatah kata pun komentar / 
tanggapan dari tokoh lain yang hadir dalam diskusi maupun dari pihak Arab 
radikal atau pesantren), maka akal sehat kita otomatis menolak ini disebut 
berita. Ini lebih mirip agitprop untuk mengacau Indonesia seperti hasutan yang 
selama ini dilahap para bloon. 

Begitulah. Sejak ditendang Jokowi sebagai balon wapres semakin stress saja si 
Mahfud itu, sering ngoceh berdasar info yang tidak bisa dia 
pertanggungjawabkan. Kali ini entah skenario apa yang sedang dibuatnya. Yang 
jelas, hukuman MA terhadap presiden untuk membayar ganti rugi kepada korban 
Perang Ambon juga berawal dari agitprop bloon semacam ini yang tujuannya 
memecahbelah Indonesia untuk keuntungan imperialis. 

Jasmerah. 

   --- SADAR@... wrote:
Mahfud MD Sebut Ada Pesantren Radikal di Magelang dan Yogya

Reporter: Ahmad Faiz Ibnu SaniEditor: Juli Hantoro  Jumat, 16 Agustus 2019 
17:48 WIB
Mantan hakim MK, Mahfud MD, ditemui di Kantor BPIP, Jakarta, 20 Juni 2019. 
Tempo/Friski Riana

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD, mengatakan 
ia mendapat info jika banyak penganut Islam radikal di Arab Saudi yang 
ditangkap. Sebagian yang masih lolos, kata dia, ada yang masuk ke Indonesia.
Menurut Mahfud, tokoh-tokoh Islam radikal ini diduga datang dengan membawa uang 
jutaan dollar untuk mendukung gerakan radikal. Modus yang dilakukan dengan cara 
mendukung pesantren-pesantren tertentu atau membuat pesantren sendiri.

"Mendirikan lembaga pendidikan yang sangat jauh berbeda," katanya dalam diskusi 
Scenario Planning: Indonesia di Hotel JS Luwansa, Jalan Rasuna Said, Jakarta, 
Jumat, 16 Agustus 2019.

Menurut Mahfud, pesantren - pesantren ini dulu tidak dikenal namun tiba-tiba 
muncul dengan murid yang banyak dan tertutup. "Di Yogyakarta saya tahu ada, di 
Magelang (ada), gak boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya, mengibarkan 
(bendera) merah putih," tuturnya.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini berujar untuk mengatasi ancaman 
radikalisme itu maka dia bersama sejumlah tokoh yang tergabung dalam Gerakan 
Suluh Kebangsaan hari ini berkumpul untuk membuat skenario tentang kondisi 
Indonesia.

Dalam diskusi yang berlangsung tertutup itu hadir sejumlah tokoh seperti 
Salahuddin Wahid atau Gus Solah, Haedar Nasir, Alwi Shihab, Komaruddin Hidayat, 
Amin Abdullah, Sudhamek, Alissa Wahid, Najeela Shihab, Romo Benny Susetyo, 
Hilmar Farid, Jaleswari Pramodhawardani, Noor Huda Ismail, dan perwakilan dari 
Badan Intelijen Negara serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme 
Suhardi Alius.

Kirim email ke