-------- 轉寄郵件 --------
主旨: Dari Kayutangan, AMT dan Palang Biru Berjuang
日期: Sat, 17 Aug 2019 23:06:25 +0800
從: ChanCT <[email protected]>
到: GELORA_In <[email protected]>
https://www.malang-post.com/berita/kota-malang/dari-kayutangan-amt-dan-palang-biru-berjuang
Dari Kayutangan, AMT dan Palang Biru Berjuang
<https://www.malang-post.com/berita/kota-malang/dari-kayutangan-amt-dan-palang-biru-berjuang>
Published on Friday, 16 August 2019 00:24
Memperingati HUT ke 74 Republik Indonesia, Malang Post mempersembahkan
liputan khusus. Tulisan mengenai perjuangan kemerdekaan, selama dua
hari, pada Jumat, 16 Agustus 2019 dan Kamis, 17 Agustus. Hari ini
dimulai dari perjuangan dan kontribusi para warga etnis keturunan
Tionghoa di Malang.
Kontribusi Para Tionghoa Merebut Kemerdekaan Siauw Giok Bie Raih
Penghargaan dari Soekarno
Di Kota Malang, sejarah perjuangan Kemerdekaan RI, juga berawal dari
sebuah rumah di Jalan Basuki Rahmat atau kawasan Kayutangan. Menariknya,
sejarah perjuangan dari tempat itu, merupakan kisah kaum pejuang dari
kalangan minoritas. Mereka adalah etnis keturunan Tionghoa. Para
Tionghoa berkontribusi untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
Tepatnya di sebuah toko kelontong Nomor 69. rumah yang saat ini sudah
berubah wujud menjadi sebuah toko pakaian batik ini, menjadi cikal bakal
pembentukan Angkatan Muda Tionghoa (AMT) dan Palang Biru. Yang juga
berafiliasi dengan sejarah perjuangan Palang Merah Cina yang berjasa
besar saat pertempuran pejuang di Surabaya pada 10 November 1945.
Tokoh penting dalam pembentukan AMT dan Palang Biru, yakni Siauw Giok
Tjhan dan adiknya Siauw Giok Bie merupakan keluarga keturunan Tionghoa
sederhana. Pada masa Tahun 1942 – 1946 mereka berkediaman di Kota Malang.
Peran AMT dan Palang Biru ternyata tidak sesederhana apa yang tercatat.
Tujuan utama mereka membantu pejuang pribumi memperjuangkan kemerdekaan.
Namun juga terselip sebuah fakta lain, bahwa mereka ingin menjaga harga
diri golongan Tionghoa. Sebab, pada saat itu dianggap “mendukung”
penjajah, padahal yang diinginkan hanyalah tetap menjaga kesatuan NKRI.
Malang Post berkesempatan menuliskan cerita perjuangan pendiri AMT dan
Palang Biru yang diawali di Kota Malang. Melalui anak kandung Siauw Giok
Tjhan yang berhasil dihubungi Malang Post yakni Siauw Tiong Djien. Ia
merupakan putra ke-6 Siauw Giok Tjhan. Kepada Malang Post ia membeberkan
cerita ayahnya ketika turut berjuang dalam merebut kemerdekaan RI
bersama dengan Laskar Pemuda.
“Awalnya dulu ayah saya memang membentuk Angkatan Muda Tionghoa (AMT)
yang hampir bersamaan juga mendirikan Palang Biru ini di sekitar awal
September 1945,” jelas pria yang saat ini berkediaman di Melbourne,
Australia ini.
Djien, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ayahnya memang selalu resah
terhadap apa yang terjadi di masa-masa perjuangan. Tidak pernah peduli
dirinya etnis keturunan dan bukan pribumi. Djien mengenal bahwa sosok
ayahnya sama inginnya memperjuangkan kemerdekaan Indoenesia bahkan sejak
zaman penjajahan Jepang dahulu.
Siauw Giok Tjhan dan keluarganya dulu merupakan pelarian dari Semarang.
Saat itu sekitar tahun 1943, ayahnya adalah seorang jurnalis Harian Mata
Hari yang kerap menulis tulisan bertemakan perjuangan dan kemerdekaan
Indonesia.
“Karena sikap ayah yang anti Jepang mencolok, ia merasa pasti akan
menjadi incaran, saat itu Jepang mau kalah,” papar Djien.
Lalu di tahun 1943 itulah ia dengan seluruh keluarganya pindah ke
Pemalang, berpindah lagi ke Surabaya sampai akhirnya merasa aman pindah
ke Kota Malang. Ayahnya kemudian membuka toko dengan modal yang pernah
dikumpulkan ketika bekerja di Mata Hari. Dan atas bantuan adiknya, ia
membuka toko serba ada kecil yang dinamakannya Tjwan-Tjwan-an (usaha
beruntung) di Kota Malang.
Meski begitu, ayahnya tersebut lebih suka dengan hal politik. Dengan
kawan-kawannya pun ia kemudian sering berdiskusi di tokonya. Siauw
sering mengadakan diskusi-diskusi politik yang serius. Teman-teman
lamanya, seperti Liem Koen Hian yang pada waktu itu menetap di Jakarta,
Tjoa Sik Ien dari Surabaya dan Tan Ling Djie yang menetap di Tanggerang,
juga terkadang muncul untuk berdiskusi.
Di samping mereka, juga sering datang kawan-kawan lain yang turut
menjadi pendengar diskusi-diskusi politik itu, termasuk adiknya, Giok
Bie, Tan Hoo Lam dan Tan Hoo Kiet, Njoo Soen Hian, Tan Kiek Liep dan Ong
Hong Tiek. Dari kelompok yang jauh lebih muda, Kho Thian Po, Tan Hwie
Kiat dan Oey Hay Djoen juga cukup sering datang berkunjung.
“ Ayah (Siauw,red) sering menyatakan bahwa penduduk Tionghoa harus siap
menghadapi kekalahan Jepang dan juga harus bersiap siaga bekerja sama
dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.
Pemuda Tionghoa tidak boleh hanya menjadi penonton saja. Mereka harus
berpartisipasi dalam gerakan merebut kemerdekaan,” ungkap Djien.
Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Siauw Giok Tjhan dan kawan
seperjuangannya membentuk Hua Chiao Tse An Hui (Badan Pengaman Tionghoa)
pada bulan September 1945. Ini untuk mengkonsolidasi pengaruhnya di
dalam masyarakat Tionghoa di kota. Dan menjamin adanya wadah yang bisa
mewakili dan membela kepentingan masyarakat Tionghoa dalam menghadapi
berbagai macam kekacauan.
Palang Biru Turun di Garis Depan Pertempuran
Menjelang Oktober 1945, pasukan Belanda mulai masuk kembali ke
Indonesia. Banyak orang Tionghoa mengharapkan bahwa negara RI yang
dibentuk setelah proklamasi Soekarno-Hatta itu akan berakhir dan
penjajah Belanda kembali berkuasa. Itu karena, mereka mengalami berbagai
macam kekacauan dan kejahatan-kejahatan.
Sebagian besar dari masyarakat Tionghoa tidak memiliki keyakinan bahwa
negara RI akan melindungi mereka. Siauw sangat khawatir melihat
perkembangan ini. Yang ia khawatirkan tentunya adalah berkembangnya
persepsi di kalangan pemuda Indonesia. Bahwa masyarakat Tionghoa tidak
mendukung kemerdekaan bahkan mendukung usaha mengembalikan sistem
penjajahan Belanda.
Untuk mengurangi dampak negatif ini, Siauw membentuk Angkatan Muda
Tionghoa (AMT) di Malang. Untuk menunjukkan masyarakat umum bahwa
penduduk Tionghoa tidak hanya menonton tetapi aktif dalam mempertahankan
kemerdekaan.
Sebagai ketua dipilih Siauw Giok Bie, adiknya, yang memiliki figur yang
sangat dibutuhkan. Yaitu berpengalaman dalam gerakan lapangan dan mampu
berhubungan dengan pimpinan-pimpinan laskar pemuda yang bersenjata.
“Siauw sendiri tetap berada di belakang layar mengisi kepemimpinan
organisasi dengan memberi petunjuk-petunjuk dan menentukan strategi
organisasi. Bersamaan dengan ini juga di bentuk Palang Biru,” tegas pria
kelahiran 1965 ini.
Siauw membentuk Palang Biru di Malang, yang beranggotakan bekas
anggota-anggota Kebotai (Para Militer bentukan Jepang,red). Sebagai
ketua, Siauw memilih Tan Sie Liep. Tugas utama Palang Biru ini adalah
membantu para korban pertempuran di garis depan.
Mereka juga ditugaskan untuk mengumpulkan obat-obatan dan mengirimkannya
ke garis depan. Palang Biru berhasil memiliki beberapa kendaraan yang
dilengkapi dengan alat-alat para medis.
Siauw Giok Bie juga aktif di dalamnya dan jasanya diakui oleh Soekarno
yang memberinya bintang penghargaan atas jasa-jasanya pada akhir 1945 di
Jakarta. Ia dianggap berjasa dalam mengumpulkan obat-obatan dan
pengirimannya ke garis depan.
Setelah Jendral Mallaby mati tertembak di Surabaya pada tanggal 29
Oktober 1945, keadaan menjadi genting. Ultimatum Mayor Jendral Mansergh
pada tanggal 9 November 1945 menyebabkan kekuatan pihak Indonesia
bersiap-siap untuk melawan kekuatan Inggris yang didukung oleh allied
Forces di Surabaya. Laskar pemuda Indonesia tidak bersedia untuk menyerah.
“Ayah akhirnya memobilisasi para pengikutnya dari AMT dan Palang Biru di
Malang untuk berangkat ke Surabaya, untuk turut bertempur dan membantu
para korban pertempuran di sana pada tanggal 10 November bersama
membantu Palang Merah Cina di sana,” paparnya.
Usai kejadian ini, ayahnya tetap merasakan bahwa masyarakat Tionghoa,
terutama pemuda-nya harus terus didorong untuk tidak menjadi penonton
upaya mengkonsolidasi kemerdekaan. Pada bulan Januari 1946, Siauw
dibantu oleh The Tjing Djien, Go Gien Tjwan dan Tjoa Kian Bo
menyelenggarakan kongres pemuda Tionghoa seluruh Jawa Timur di Selecta,
Batu. Kongres ini dihadiri oleh 74 peserta dari 23 kota di Jawa Timur.
Ia menjelaskan, ayahnya berhasil pula mengundang beberapa tokoh
peranakan yang terkenal untuk memberi sambutan, di antaranya Oey Yong
Tjioe, seorang pengacara terkenal dari Malang, Yap Hong Po, ketua Chung
Hua Hui di Yogyakarta, Kwa Tjwan Sioe, tokoh peranakan yang dihormati
pejuang kemerdekaan dari Jakarta dan seorang wakil konsul jendral
Tiongkok, Lin Chi Ming.
Di dalam kongres ini Siauw menyerukan perlunya komunitas Tionghoa
mendukung RI dan turut berpartisipasi dalam upaya mengkonsolidasinya.
Akhirnya, kehendak Siauw untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang tegas
mendukung RI dan menerima Indonesia sebagai tanah air berhasil
dikeluarkan sebagai sebuah keputusan bulat kongres tersebut.
“Saat ini semua keluarga besar kami sudah kebanyakan tidak di Indonesia.
Tetapi sesekali kita datang ke Malang menengok tempat tinggal dulu di
Kayutangan,” tutupnya.(ica/ary)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com