Bung Chan,
Ini sebagian tulisan Prof. Melani Budianta, anak dari Tan Hong Bok
(barangkali bung Chan kenal),
nicht dari petennis terkenal Sie Kong loen. Kong Loen, dua tahun duluan ari
saya di Kimia Teknik, bersama Tjan Hong
Tjhiang, yang disebut dalam tulisan Melani. Tjan Hong Tjhiang, orang
Indonesia pertama yang jadi direktur Unilever.
Pernah dikirim ke Harvard belajar management. Mulai carriernya sebagai
kepala pabrik sabun Unilever. Dia bilang
pada saya, ada sedikit kekeliruan di tulisan Melani. Dia bukan dari
Angkatan Laut, tetapi dari Angkatan Darat.
The amt generation and the 1947 migration The Japanese Occupation from 1942
to 1945 was a life-changing experience for many Chinese, including those in
East Java. Many told stories of their houses being looted, men kidnapped
and slaughtered, and families fleeing for safety from one city to another,
including to Malang and its neighbouring cities (Soebianto 2008:1). One
major cultural policy of the Japanese Occupation was the closing of Dutch
schools, which forced many peranakan Chinese to enter Chinese language
schools. In Malang, elementary school children from peranakan families were
moved from the Dutch school to Chiao Tung Shiee Siauw, the Chinese school,
where they got their first orientation to the Mandarin language. Japanese
10 Malang mignon | 261 authorities also set up an organization called Kakyo
Shokay (Association of Migrant Chinese), and Keibotai, (Chinese armed
civilians to help Japanese Police) which grouped the totok and the
peranakan together, pushing them to interact more closely than before.9
During the Japanese Occupation, Chinese intellectuals who had shown
resentment against the Japanese Occupation of China faced danger. One of
these was Siauw Giok Tjhan, a radical young editor of the Matahari
newspaper in Surabaya, who fled to Malang for safety. The exodus of Siauw
Giok Tjan and his brother Siauw Giok Bie to Malang was a crucial factor in
the subsequent politicizing of Malang Chinese intellectuals. When the
Japanese recruited Chinese youth to form a special army called Keibotai,
Siauw and other Malang Chinese leaders devised strategies not only for
avoiding conflict with the Indonesian armed civilian militia established by
Japan, called Keibodan, but also strategies to use the Keibotai to ‘awaken
in the Chinese youth the awareness of being the Indonesian young generation
that should work together with other Indonesian youth to fight for the sake
of Indonesian people and achieve national independence’.10 In the spirit of
the fight for independence, youth organizations sprouted and young people
all over Indonesia volunteered to arm themselves, many using the term
Angkatan Muda Indonesia (AMI, Indonesian Youth Regiment) (Muhammad Umar
Syadat Hasibuan 2008). To show the existence of the Chinese youth,
especially at a time when the loyalty of the Chinese was questioned, Siaw
Giok Bie and Go Gien Tjwan mobilized Malang Chinese youth by creating the
Angkatan Muda Tionghoa (AMT, Peranakan Chinese Youth Regiment). AMT leaders
met with Bung Tomo, a militant nationalist fighter from Surabaya who formed
a youth civilian army called Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI,
Indonesian People’s Resistance Front), to strategize their moves together
with the Indonesian forces.11 At the same time, the Keibotai was changed to
become the Blue Cross, which sent Chinese youth to rescue the wounded
during the revolution, most notably during the 10 November battle against
the Dutch army in Surabaya. The Blue Cross supported Indonesian fighters
with food and supplies 9 From Santoso Budiman (Kang Biauw Kwie), interview,
Malang, 1-8-2009. Also see Siauw Giok Tjhan 1981:72. 10 Siauw 1981:75.
Keibotai perlu digunakan ‘sebagai penggugah kesadaran pemuda peranakan
Tionghoa, bahwa mereka adalah putera Indonesia, yang perlu ikut serta
dengan putera-putera Indonesia lainnya untuk memperjuangkan perbaikan nasib
bagi seluruh Rakyat Indonesia dan mencapai kemerdekaan nasional.’ 11 Go
Gien Tjwan, interview, Jakarta, 3-7-2008 and Santoso Budiman, interview,
Malang, 1-8- 2009. | Melani Budianta 262 sent via the Surabaya-Malang
train, and helped remove the sick and the wounded from the battlefront to
safer areas in Mojokerto, Pasuruan and Malang (Siauw 1981:77-8). During
these revolutionary years, the Japanese-enforced policy to group all
Chinese students in one educational system was abandoned. Students oriented
towards China went to Chinese schools. Meanwhile, anticipating that the
Dutch school system would be reinstalled, teachers and ex-students of the
Dutch school from preJapanese Occupation days used the umbrella of the AMT
to create a ‘crash course’ to catch up with what they had missed. From 1946
to 1949, most of the AMT ‘crash course’ alumni left Malang to continue
their university studies in Surabaya, Jakarta or the Netherlands.12 The AMT
educational service was the nursing bed of Chinese Indonesian
professionals, entrepreneurs and intellectuals in the Old and New Order
eras, such as Tan Hoo Tong, who in the late 1950s was appointed as
Indonesian ambassador to Hungary and Liem King Hok, who served at the
Ministry of Finance during the New Order. The AMT generation – the
political as well as the educational wing – were mostly Dutch-speaking
peranakan Chinese, who later occupied different if not opposing roles and
ideological positions in Indonesian history. Go Gien Tjwan and Siauw Giok
Tjhan became state officials of the Soekarno era,13 Siauw Giok Bie led the
Malang branch of Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI,
Council for Deliberations on Indonesian Citizenship), and Oey Hay Djoen,
became a Partai Komunis Indonesia (PKI, Indonesian Communist Party)
activist in Yogyakarta and Jakarta. All three were later persecuted as
leftists and imprisoned during the New Order. Many other AMT crash course
alumni were conscripted or volunteered to serve in the Indonesian military
for a certain period in their lives, and some even served in the Army
detention unit during the communist cleansing era of the mid-1960s.14 12
Amongst hundreds of the AMT students were Han Hoo Tjwan (Han Awal), one of
Indonesia’s leading architects who helped design the Conference of New
Emerging Forces (CONEFO) project in 1960s and received awards for the
conservation of the National Archives building and Dutch colonial buildings
in the 1990s; Liem Siok Ien, who worked as an engineer in the Indonesian
Navy; Willy Halim Indrakusuma, a dentist, who later owned leading travel
agencies; Tjan Hong Tjhiang, now a retired chemist from Unilever, who once
served in the Navy as head of 1965 convict detention unit. For a more
detailed biography of the individuals mentioned in this essay, see Sam
Setyautama 2008. 13 Go Gien Tjwan left Malang in 1947 to work for the
Ministry of Foreign Affairs in Jakarta before going to the Netherlands for
his studies, and upon his return to Jakarta in 1955 served as Director of
the National News Agency, Antara (interview, Jakarta 3-7-2008). See Siauw’s
memoir (1981). 14 AMT crash course alumni, Focus Group Discussion, Jakarta
22-1-2009.
https://pure.knaw.nl/ws/files/468548/Budianta_Cultural_expressions_of_the_Chinese.pdf


Pada tanggal Min, 18 Agu 2019 pukul 01.56 ChanCT [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
>
>
> -------- 轉寄郵件 --------
> 主旨: Dari Kayutangan, AMT dan Palang Biru Berjuang
> 日期: Sat, 17 Aug 2019 23:06:25 +0800
> 從: ChanCT <[email protected]> <[email protected]>
> 到: GELORA_In <[email protected]> <[email protected]>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> https://www.malang-post.com/berita/kota-malang/dari-kayutangan-amt-dan-palang-biru-berjuang
>
> Published on Friday, 16 August 2019 00:24
> Memperingati HUT ke 74 Republik Indonesia, Malang Post mempersembahkan
> liputan khusus. Tulisan mengenai perjuangan kemerdekaan, selama dua hari,
> pada Jumat, 16 Agustus 2019 dan Kamis, 17 Agustus. Hari ini dimulai dari
> perjuangan dan kontribusi para warga etnis keturunan Tionghoa di Malang.
>
>
> Kontribusi Para Tionghoa Merebut Kemerdekaan Siauw Giok Bie Raih
> Penghargaan dari Soekarno
>
> Di Kota Malang, sejarah perjuangan Kemerdekaan RI, juga berawal dari
> sebuah rumah di Jalan Basuki Rahmat atau kawasan Kayutangan. Menariknya,
> sejarah perjuangan dari tempat itu, merupakan kisah kaum pejuang dari
> kalangan minoritas. Mereka adalah etnis keturunan Tionghoa. Para Tionghoa
> berkontribusi untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
> Tepatnya di sebuah toko kelontong Nomor 69. rumah yang saat ini sudah
> berubah wujud menjadi sebuah toko pakaian batik ini, menjadi cikal bakal
> pembentukan Angkatan Muda Tionghoa (AMT) dan Palang Biru. Yang juga
> berafiliasi dengan sejarah perjuangan Palang Merah Cina yang berjasa besar
> saat pertempuran pejuang di Surabaya pada 10 November 1945.
> Tokoh penting dalam pembentukan AMT dan Palang Biru, yakni Siauw Giok
> Tjhan dan adiknya Siauw Giok Bie merupakan keluarga keturunan Tionghoa
> sederhana. Pada masa Tahun 1942 – 1946 mereka berkediaman di Kota Malang.
> Peran AMT dan Palang Biru ternyata tidak sesederhana apa yang tercatat.
> Tujuan utama mereka membantu pejuang pribumi memperjuangkan kemerdekaan.
> Namun juga terselip sebuah fakta lain, bahwa mereka ingin menjaga harga
> diri golongan Tionghoa. Sebab, pada saat itu dianggap “mendukung” penjajah,
> padahal yang diinginkan hanyalah tetap menjaga kesatuan NKRI.
> Malang Post berkesempatan menuliskan cerita perjuangan pendiri AMT dan
> Palang Biru yang diawali di Kota Malang. Melalui anak kandung Siauw Giok
> Tjhan yang berhasil dihubungi Malang Post yakni Siauw Tiong Djien. Ia
> merupakan putra ke-6 Siauw Giok Tjhan. Kepada Malang Post ia membeberkan
> cerita ayahnya ketika turut berjuang dalam merebut kemerdekaan RI bersama
> dengan Laskar Pemuda.
> “Awalnya dulu ayah saya memang membentuk Angkatan Muda Tionghoa (AMT) yang
> hampir bersamaan juga mendirikan Palang Biru ini di sekitar awal September
> 1945,” jelas pria yang saat ini berkediaman di Melbourne, Australia ini.
> Djien, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ayahnya memang selalu resah
> terhadap apa yang terjadi di masa-masa perjuangan. Tidak pernah peduli
> dirinya etnis keturunan dan bukan pribumi. Djien mengenal bahwa sosok
> ayahnya sama inginnya memperjuangkan kemerdekaan Indoenesia bahkan sejak
> zaman penjajahan Jepang dahulu.
> Siauw Giok Tjhan dan keluarganya dulu merupakan pelarian dari Semarang.
> Saat itu sekitar tahun 1943, ayahnya adalah seorang jurnalis Harian Mata
> Hari yang kerap menulis tulisan bertemakan perjuangan dan kemerdekaan
> Indonesia.
> “Karena sikap ayah yang anti Jepang mencolok, ia merasa pasti akan menjadi
> incaran, saat itu Jepang mau kalah,” papar Djien.
> Lalu di tahun 1943 itulah ia dengan seluruh keluarganya pindah ke
> Pemalang, berpindah lagi ke Surabaya sampai akhirnya merasa aman pindah ke
> Kota Malang. Ayahnya kemudian membuka toko dengan modal yang pernah
> dikumpulkan ketika bekerja di Mata Hari. Dan atas bantuan adiknya, ia
> membuka toko serba ada kecil yang dinamakannya Tjwan-Tjwan-an (usaha
> beruntung) di Kota Malang.
> Meski begitu, ayahnya tersebut lebih suka dengan hal politik. Dengan
> kawan-kawannya pun ia kemudian sering berdiskusi di tokonya. Siauw sering
> mengadakan diskusi-diskusi politik yang serius. Teman-teman lamanya,
> seperti Liem Koen Hian yang pada waktu itu menetap di Jakarta, Tjoa Sik Ien
> dari Surabaya dan Tan Ling Djie yang menetap di Tanggerang, juga terkadang
> muncul untuk berdiskusi.
> Di samping mereka, juga sering datang kawan-kawan lain yang turut menjadi
> pendengar diskusi-diskusi politik itu, termasuk adiknya, Giok Bie, Tan Hoo
> Lam dan Tan Hoo Kiet, Njoo Soen Hian, Tan Kiek Liep dan Ong Hong Tiek. Dari
> kelompok yang jauh lebih muda, Kho Thian Po, Tan Hwie Kiat dan Oey Hay
> Djoen juga cukup sering datang berkunjung.
> “ Ayah (Siauw,red) sering menyatakan bahwa penduduk Tionghoa harus siap
> menghadapi kekalahan Jepang dan juga harus bersiap siaga bekerja sama
> dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.
> Pemuda Tionghoa tidak boleh hanya menjadi penonton saja. Mereka harus
> berpartisipasi dalam gerakan merebut kemerdekaan,” ungkap Djien.
> Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan, Siauw Giok Tjhan dan kawan
> seperjuangannya membentuk Hua Chiao Tse An Hui (Badan Pengaman Tionghoa)
> pada bulan September 1945. Ini untuk mengkonsolidasi pengaruhnya di dalam
> masyarakat Tionghoa di kota. Dan menjamin adanya wadah yang bisa mewakili
> dan membela kepentingan masyarakat Tionghoa dalam menghadapi berbagai macam
> kekacauan.
>
> Palang Biru Turun di Garis Depan Pertempuran
>
>
> Menjelang Oktober 1945, pasukan Belanda mulai masuk kembali ke Indonesia.
> Banyak orang Tionghoa mengharapkan bahwa negara RI yang dibentuk setelah
> proklamasi Soekarno-Hatta itu akan berakhir dan penjajah Belanda kembali
> berkuasa. Itu karena, mereka mengalami berbagai macam kekacauan dan
> kejahatan-kejahatan.
> Sebagian besar dari masyarakat Tionghoa tidak memiliki keyakinan bahwa
> negara RI akan melindungi mereka. Siauw sangat khawatir melihat
> perkembangan ini. Yang ia khawatirkan tentunya adalah berkembangnya
> persepsi di kalangan pemuda Indonesia. Bahwa masyarakat Tionghoa tidak
> mendukung kemerdekaan bahkan mendukung usaha mengembalikan sistem
> penjajahan Belanda.
> Untuk mengurangi dampak negatif ini, Siauw membentuk Angkatan Muda
> Tionghoa (AMT) di Malang. Untuk menunjukkan masyarakat umum bahwa penduduk
> Tionghoa tidak hanya menonton tetapi aktif dalam mempertahankan kemerdekaan.
> Sebagai ketua dipilih Siauw Giok Bie, adiknya, yang memiliki figur yang
> sangat dibutuhkan. Yaitu berpengalaman dalam gerakan lapangan dan mampu
> berhubungan dengan pimpinan-pimpinan laskar pemuda yang bersenjata.
> “Siauw sendiri tetap berada di belakang layar mengisi kepemimpinan
> organisasi dengan memberi petunjuk-petunjuk dan menentukan strategi
> organisasi. Bersamaan dengan ini juga di bentuk Palang Biru,” tegas pria
> kelahiran 1965 ini.
> Siauw membentuk Palang Biru di Malang, yang beranggotakan bekas
> anggota-anggota Kebotai (Para Militer bentukan Jepang,red). Sebagai ketua,
> Siauw memilih Tan Sie Liep. Tugas utama Palang Biru ini adalah membantu
> para korban pertempuran di garis depan.
> Mereka juga ditugaskan untuk mengumpulkan obat-obatan dan mengirimkannya
> ke garis depan. Palang Biru berhasil memiliki beberapa kendaraan yang
> dilengkapi dengan alat-alat para medis.
> Siauw Giok Bie juga aktif di dalamnya dan jasanya diakui oleh Soekarno
> yang memberinya bintang penghargaan atas jasa-jasanya pada akhir 1945 di
> Jakarta. Ia dianggap berjasa dalam mengumpulkan obat-obatan dan
> pengirimannya ke garis depan.
> Setelah Jendral Mallaby mati tertembak di Surabaya pada tanggal 29 Oktober
> 1945, keadaan menjadi genting. Ultimatum Mayor Jendral Mansergh pada
> tanggal 9 November 1945 menyebabkan kekuatan pihak Indonesia bersiap-siap
> untuk melawan kekuatan Inggris yang didukung oleh allied Forces di
> Surabaya. Laskar pemuda Indonesia tidak bersedia untuk menyerah.
> “Ayah akhirnya memobilisasi para pengikutnya dari AMT dan Palang Biru di
> Malang untuk berangkat ke Surabaya, untuk turut bertempur dan membantu para
> korban pertempuran di sana pada tanggal 10 November bersama membantu Palang
> Merah Cina di sana,” paparnya.
> Usai kejadian ini, ayahnya tetap merasakan bahwa masyarakat Tionghoa,
> terutama pemuda-nya harus terus didorong untuk tidak menjadi penonton upaya
> mengkonsolidasi kemerdekaan. Pada bulan Januari 1946, Siauw dibantu oleh
> The Tjing Djien, Go Gien Tjwan dan Tjoa Kian Bo menyelenggarakan kongres
> pemuda Tionghoa seluruh Jawa Timur di Selecta, Batu. Kongres ini dihadiri
> oleh 74 peserta dari 23 kota di Jawa Timur.
> Ia menjelaskan, ayahnya berhasil pula mengundang beberapa tokoh peranakan
> yang terkenal untuk memberi sambutan, di antaranya Oey Yong Tjioe, seorang
> pengacara terkenal dari Malang, Yap Hong Po, ketua Chung Hua Hui di
> Yogyakarta, Kwa Tjwan Sioe, tokoh peranakan yang dihormati pejuang
> kemerdekaan dari Jakarta dan seorang wakil konsul jendral Tiongkok, Lin Chi
> Ming.
> Di dalam kongres ini Siauw menyerukan perlunya komunitas Tionghoa
> mendukung RI dan turut berpartisipasi dalam upaya mengkonsolidasinya.
> Akhirnya, kehendak Siauw untuk mengeluarkan sebuah pernyataan yang tegas
> mendukung RI dan menerima Indonesia sebagai tanah air berhasil dikeluarkan
> sebagai sebuah keputusan bulat kongres tersebut.
> “Saat ini semua keluarga besar kami sudah kebanyakan tidak di Indonesia.
> Tetapi sesekali kita datang ke Malang menengok tempat tinggal dulu di
> Kayutangan,” tutupnya.(ica/ary)
>
>
>
>
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> 不含病毒。www.avg.com
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> <#m_1726601013337182894_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
>
> 
>

Kirim email ke