----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Terkirim: Senin, 19 Agustus 2019 11.35.39 
GMT+2Judul: [GELORA45] Gelombang Demo Mahasiswa Papua Menjalar ke Bandung dan 
Medan
     

 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190819154236-20-422717/gelombang-demo-mahasiswa-papua-menjalar-ke-bandung-dan-medan








GelombangDemo Mahasiswa Papua Menjalar ke Bandung dan Medan

CNN Indonesia | Senin, 19/08/2019 16:11WIB

Bagikan :    

Aksimassa ricuh di Manokwari, Papua, Senin (19/8). (STR / AFP)
 

 
Medan/ Bandung/ Jakarta, CNN Indonesia -- Puluhan mahasiswa asal Papua yang 
kuliah di Kota Medan memprotes persekusi, intimidasi dan rasisme terhadap 
mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur. Mereka melakukan longmarch dari Kampus 
Universitas Sumatera Utara (USU) menuju Kantor DPRD Sumut, Senin (29/8).

Dalam aksi protesnya, para mahasiswa mengenakan atribut bernuansa Bintang 
Kejora seperti kaos, gelang dan tas. Bahkan di salah satu spanduk yang dibawa 
oleh peserta aksi Ikatan Mahasiswa Papua (IPM) ini terpampang jelas lambang 
bendera Bintang Kejora.
 

 
 
|  
Lihat juga:
 
 Rusuh Papua Menjalar, Bandara di Sorong Dikabarkan Lumpuh
  |

 

Mereka juga menyanyikan Penggalan lagu Papua Bukan Merah Putih di Depan Kantor 
DPRD Sumut.

"Papua bukan merah putih. Papua bukan merah putih. Papua bintang kejora. 
Baru-baru kau bilang merah putih," urai puluhan mahasiswa menyanyikan penggalan 
lagu Papua Bukan Merah Putih.


"Kalian (Indonesia) menindas kami, Bangsa Papua. Ini sebagai bentuk solidaritas 
terhadap saudara kami di Surabaya yang disebut monyet," kata koordinator aksi, 
Damiel Wandik saat melakukan orasi di depan Kantor DPRD Sumut.

Di depan Gedung DPRD Sumut penjagaan diperketat. Petugas keamanan dan 
kepolisian sudah bersiaga. Pintu gerbang utama gedung dewan juga sudah ditutup 
rapat.
  
|  
Puluhan Mahasiswa Papua Unjuk Rasa di Medan. (CNN Indonesia/Farida Noris)
  |

  

Aksi di Gedung Sate

Aksi serupa juga terjadi di Bandung, Jawa Barat. Puluhan mahasiswa yang 
tergabung dalam Solidaritas Ikatan Mahasiswa se-Tanah Papua (Imasepa) menggelar 
unjuk rasa damai di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (19/8). Mereka menggelar 
aksi mengecam diskriminasi rasial yang menimpa mahasiswa asal Papua di Malang 
dan penangkapan mahasiswa Papua di Surabaya, pekan lalu.

Unjuk rasa tersebut digelar pukul 14.00 WIB. Tampak para demonstran dikawal 
ketat oleh aparat kepolisian. Mahasiswa meneriakkan yel-yel sambil 
membentangkan poster berisi tuntutan mereka.
 
|  
Lihat juga:
 
 Khofifah Minta Maaf soal Insiden yang Menimpa Mahasiswa Papua
  |

 

Menurut koordinator Imasepa Bandung Jawa Barat Wek Kosay, aksi unjuk rasa 
dilakukan guna mengecam dan menyatakan sikap atas kejadian yang menimpa rekan 
mereka di Malang dan Surabaya.

"Kami mengecam keras tindakan represif yang dilakukan pihak kepolisian terhadap 
demonstran. Kami menganggap kepolisian Malang dan Surabaya gagal dalam 
melaksanakan aturan yang telah ditetapkan yakni Peraturan Kapolri No.16 tahun 
2016," kata Wek Kosay membacakan tuntutan Imasepa.

Dalam kesempatan itu, Imasepa juga menuntut Kapolda Jawa Timur meminta maaf 
kepada mahasiswa Papua yang menjadi korban.

"Wali Kota Malang segera cabut dan meminta maaf atas pernyataan sikap berupa 
wacana pemulangan mahasiswa Papua studi di Malang," ujarnya.
  
|  
Aksi mahasiswa Papua di Gedung Sate, Bandung. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
  |

  

Selain itu, massa aksi juga mendesak aksi rasialisme dan represif terhadap 
mahasiswa Papua segera diakhiri. Sekaligus mendesak kepolisian mengungkap 
pelaku kekerasan di Surabaya. 

Diketahui sebelumnya, sejumlah ormas mendatangi asrama mahasiswa Papua yang 
berada di Kota Surabaya, Jawa Timur. Mereka berusaha masuk ke dalam asrama 
namun dicegah oleh aparat keamanan yang berjaga di pagar asrama.

Pemicunya disinyalir karena mahasiswa Papua enggan mengibarkan bendera merah 
putih di halaman asrama. Massa ormas kemudian melempari asrama mahasiswa dengan 
batu sembari mengeluarkan kalimat bernada rasis terhadap mahasiswa Papua yang 
berada di asrama tersebut. Atas insiden tersebut, protes terjadi di sejumlah 
wilayah, salah satunya di Kota Medan.

Warga Diminta Tak Terpancing Provokasi

Warga diminta tak terpancing untuk melakukan tindakan perusakan saat 
berdemonstrasi soal isu Papua. Terlebih, jika itu didorong oleh informasi yang 
belum jelas. Aparat pun didorong untuk menyampaikan infromasi secara jelas agar 
kericuhan tak terulang.

"Mengimbau masyarakat Papua untuk tidak melakukan aksi dengan anarkis dan tidak 
mudah terpancing dan terprovokasi dengan informasi-informasi yang belum jelas," 
Ketua DPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet, dalam keterangan tertulisnya, Senin 
(19/8).
 
|  
Lihat juga:
 
 Rusuh Papua Menjalar, Bandara di Sorong Dikabarkan Lumpuh
  |

 
Sebelumnya, aksi massa yang digelar di Manokwari diwarnai dengan blokade jalan 
hingga pembakaran. Bahkan Kantor DPRD Provinsi Papua Barat hingga sejumlah 
fasilitas ikut dibakar.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut aksi itu diduga buntut insiden 
pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, 15 
Agustus.

Padahal, kata dia, insiden itu sebenarnya hanya peristiwa kecil. Namun, ada 
oknum tertentu yang memanfaatkan kejadian di dua kota tersebut untuk memicu 
kerusuhan yang lebih besar lagi.
  
|  
Massa mengepung Asrama Mahasiswa Papua, di Kalasan, Kota Surabaya, didatangi 
oleh sejumlah kelompok organisasi masyarakat (ormas), Jumat (16/8), karena 
terprovokasi kabar tak jelas di Whatsapp. (CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)
  |

  
Sejumlah peserta aksi pengepungan asrama itu mengaku mendapat kabar perusakan 
bendera merah putih di depan asrama lewat foto yang disebar di grup Whatsapp. 
Kenyataannya, mereka tak mendapati perusakan itu.

Senada, Lenis Kogoya, Staf Khusus Presiden Jokowi Bidang Papua, meminta 
masyarakat tak melakukan perusakan pada saat berdemo.

"Boleh saja menyampaikan aspirasi di muka umum tapi jangan sekali-sekali 
membakar fasilitas negara," kata dia, yang juga merupakan Ketua Lembaga 
Masyarakat Adat Tanah Papua, di Jakarta Barat, Senin (19/8).
 
|  
Lihat juga:
 
 Khofifah Minta Maaf soal Insiden yang Menimpa Mahasiswa Papua
  |

 
Ia menyesalkan aksi pembakaran kantor DPRD Papua Barat yang terjadi pagi tadi. 
Ia mengibaratkan pembakaran kantor DPRD itu sama saja seperti membakar rumah 
sendiri.

"Saya rasa menyesal, sebenarnya tidak boleh terjadi," ujarnya.

Bamsoet pun mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Dinas Komunikasi 
Informatika Persandian dan Statistik Provinsi Papua Barat bersama TNI dan Polri 
untuk dapat memberikan penjelasan duduk persoalan terhadap informasi yang 
terjadi di Papua Barat tersebut.
  
|  
Ketua Lembaga Masyarakat Adat Tanah Papua Lenis Kogoya, Senin (19/8). (CNN 
Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
  |

  
"Guna memberikan ketenangan dan ketentraman bagi masyarakat Manokwari di Papua 
Barat, serta menjaga persatuan maupun kesatuan bangsa," kata dia.

Dia juga mendorong pihak intelijen, baik TNI dan Polri, bersama Pemda, untuk 
lebih aktif dalam memberikan informasi kepada pihak-pihak yang terkait agar 
kejadian serupa tidak terulang kembali.

"Mendorong Kepolisian untuk bersikap persuafif kepada pihak yang melakukan aksi 
atau unjuk rasa tersebut, agar tidak melakukan aksi dengan anarkis," katanya.
 
|  
Lihat juga:
 
 BEM: Ada Massa yang Bakar Ruko Sebelum Long March
  |

 
Terpisah, Anggota Komisi III DPR RI Aziz Syamsuddin mengatakan pihaknya 
melakukan koordinasi soal situasi terkini dengan pihak kepolisian.

"Nanti kita akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian," ujar Aziz di gedung 
MA, Jakarta Pusat, Senin (19/8).

"Segera ini mau ke DPR ini mau rapat ya. Nanti kita lihat perkembangan ya," 
kata dia.
 

 
 
(fnr/hyg)
 

 




    

Kirim email ke