-------- 轉寄郵件 --------
主旨: Kisah Haji dan Kurban orang-orang China (Bagian 1 - 2)
日期: Mon, 19 Aug 2019 10:35:01 +0800
從: ChanCT <[email protected]>
到: GELORA_In <[email protected]>
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Kisah Haji dan Kurban orang-orang China (Bagian 1)
Oleh M. Irfan Ilmie Senin, 19 Agustus 2019 08:42 WIB
Kisah Haji dan Kurban orang-orang China (Bagian 1)
Komunitas Muslim di Chanying, Beijing, bersiap menunaikan shalat magrib
berjamaah di Masjid Changying. Chanying merupakan salah satu permukiman
Muslim terbesar di Ibu Kota China itu. (M. Irfan Ilmie)
Saya sangat terkesan dengan jamaah haji dari Indonesia
Beijing (ANTARA) - Tidak hanya umat Islam di Indonesia yang harus
mengantre bertahun-tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Umat Islam di China juga mengalami hal serupa untuk bisa melaksanakan
rukun Islam yang kelima itu, meskipun masa tunggunya tidak sebegitu lama
umat Islam di Indonesia.
"Tetap harus antre," tutur Guang Gong Fa mengawali perbincangannya
dengan Antara di Masjid Niujie, Beijing, pada 27 Juli 2019.
Pria berusia 63 tahun dari Provinsi Qinghai itu sudah lama mendambakan
bisa berangkat ke Tanah Suci. Namun sampai saat ini belum mendapatkan
kepastian waktu.
"Mudah-mudahan tahun depan saya bisa berangkat," ucapnya sambil menunggu
azan ashar di beranda masjid kuno yang dibangun pada tahun 996 Masehi itu.
Pria yang mengenakan pakaian putih-putih itu mengaku sudah menyiapkan
uang sebesar 50.000 RMB atau setara Rp105.000.000,- (1 RMB sama dengan
sekitar Rp2.100) untuk biaya ibadah haji, termasuk seluruh biaya
perjalanan menuju Tanah Suci dan kembali ke China.
Uang sebanyak itu tidak seberapa menurut Guang karena sudah dipersiapkan
jauh-jauh hari sebelumnya agar bisa menjadi tamu Allah dan pulang
menjadi haji mabrur seperti dambaan umat Islam lainnya di permukaan
jagat raya ini.
*Baca juga:Aktivis: Islam berkembang baik di China
<https://www.antaranews.com/berita/961924/aktivis-islam-berkembang-baik-di-china>*
Sebagai seorang muslim yang taat, ibadah haji tidak hanya sekadar
kewajiban untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, namun bagi Guang
juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, apalagi beberapa
tetangganya di wilayah barat daya daratan Tiongkok itu sudah banyak yang
pergi haji.
"Saya menunggu giliran saja," kata pria yang berprofesi sebagai pebisnis
itu penuh kepasrahan.
Ia mengakhiri obrolan persis saat azan ashar dikumandangkan oleh seorang
muazin yang berdiri di halaman utama masjid yang dibangun pada era
Dinasti Liao itu.
Meskipun tanpa alat bantu pelantang, suara muazin itu cukup keras
sehingga orang-orang yang sedari tadi duduk-duduk di koridor menunggu
waktu ibadah, segera bergegas memasuki ruang utama Masjid Niujie.
*Terkesan Haji Indonesia*
Dibandingkan Guang, nasib Mao Yungling, seorang Muslim lainnya, lebih
beruntung karena sudah pernah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci
beberapa tahun yang lalu.
Bahkan pria berusia 76 tahun asal Kota Beijing itu mengaku sudah dua
kali mendapatkan kesempatan menjalankan manasik tersebut.
Durasi perjalanannya hampir sama dengan jemaah haji reguler asal
Indonesia. Jemaah haji asal China membutuhkan waktu sekitar 40 hari dan
sudah termasuk perjalanan menuju Tanah Suci dan kembali ke berbagai kota
di China.
Bagi jemaah haji asal Beijing dan kota-kota besar lainnya di wilayah
utara, timur, selatan, dan tenggara daratan Tiongkok, biasanya
penerbangan untuk ibadah haji dilakukan dengan transit selama beberapa
waktu di Urumqi, Daerah Otonomi Xinjiang, guna keperluan pengisian bahan
bakar minyak pesawat sebelum menuju ke Tanah Suci.
Mirip dengan di Indonesia, jamaah haji asal China pun biasanya menumpang
pesawat carter yang berangkat dari berbagai kota.
Biayanya pun bervariasi dengan kisaran 40.000 RMB hingga 60.000 RMB
(Rp84 juta - Rp126 juta), tergantung nilai tukar dan fasilitas yang
didapat para jemaah haji.
Lain lagi dengan Bai Yu yang mengatakan mempunyai pengalaman tersendiri
saat menjalani ibadah haji di Tanah Suci pada tujuh tahun silam.
"Saya sangat terkesan dengan jamaah haji dari Indonesia," ujar pria
berusia 70 tahunan yang memiliki nama lain Nuha saat mengobrol dengan
Antara di Masjid Changying, Beijing, belum lama ini.
Ia melihat jamaah haji asal Indonesia sangat kompak dan mudah diatur
selama menjalani manasik, meskipun mayoritas dari mereka sudah berusia
lanjut.
Saat menjalani manasik haji, jamaah Indonesia berbaris memanjang dan
setiap anggota jamaah memegang pundak anggota yang ada di depannya.
"Kalau kami mau lewat, harus menunggu mereka dulu karena kami tidak bisa
menerobos barisan mereka yang panjang," kesan Nuha terhadap jamaah haji
asal Indonesia.
Ia bisa memaklumi hal itu karena jamaah haji asal Indonesia jumlahnya
paling besar dibandingkan dengan jamaah dari negara-negara lain,
termasuk China.
Menurut dia, model pengaturan yang diterapkan terhadap jamaah haji asal
Indonesia itu layak ditiru karena sangat efektif menghindarkan para
anggota jamaah haji tersesat di jalan atau terpisah dari rombongan.
"Betapa susahnya kalau tersesat di sana. Apalagi kalau sampai dialami
orang yang sudah tua seperti saya ini," ujarnya menambahkan.
Selain Beijing, ada beberapa kota di China yang setiap tahun
memberangkatkan calon jamaah haji dalam jumlah besar ke Tanah Suci, di
antaranya Xi'an (Provinsi Shaanxi), Lanzhou (Provinsi Gansu), Kunming
(Provinsi Yunnan), Daerah Otonomi Ningxia, dan Provinsi Qinghai.
Pada tahun 2018, China telah memberangkatkan 11.500 muslim ke Tanah
Suci. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2017
sebanyak 12.800 orang dan tahun 2016 sebesar 14.500 orang.
Uniknya, pemerintah China membekali perangkat semacam GPS bagi setiap
anggota jamaah haji asal China untuk memudahkan koordinasi di antara
jamaah, selain itu juga berfungsi memudahkan pencarian anggota jamaah
haji jika ada yang terpisah dari rombongan.
Sebelum bertolak menuju Tanah Suci, calon jamaah haji asal China itu
juga telah mendapatkan pembekalan dari para imam dan pemuka lainnya
tentang tata cara melaksanakan ibadah haji, termasuk juga orientasi
mengenai penginapan yang bakal ditempatinya, berikut jarak ke
tempat-tempat penting di Tanah Haram.
Pelatihan dan bimbingan manasik haji biasanya digelar di beberapa masjid
di China. Masjid di China tidak hanya berupa ruang ibadah utama atau
tempat bersuci, melainkan juga ada fasilitas lain seperti ruang
pengajaran dan tempat kerja para imam dan takmir sekaligus ruang
istirahat mereka. (Bersambung)
*Baca juga:Muslim Xi'an nikmati kebijakan toleransi di China
<https://www.antaranews.com/berita/944304/muslim-xian-nikmati-kebijakan-toleransi-di-china>
Baca juga:Huimin Jie, "kauman" di tengah Kota Xi'an
<https://www.antaranews.com/berita/933476/huimin-jie-kauman-di-tengah-kota-xian>*
Berwisata kuliner di Jalan Muslim Xi’an
Play Video
Play
Unmute
Current Time 0:00
/
Duration 3:13
Loaded:0%
Seek to live, currently playing liveLIVEFullscreen
Oleh M. Irfan Ilmie
Editor: Maria D Andriana
Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Kisah Haji dan Kurban orang-orang China (Bagian 2 - Habis)
Oleh M. Irfan Ilmie Senin, 19 Agustus 2019 09:17 WIB
Kisah Haji dan Kurban orang-orang China (Bagian 2 - Habis)
Masjid Id Kah atau Masjid Etigar di Kota Kashgar sebagai salah satu
masjid tertua di Daerah Otonomi Xinjiang, China, yang dibangun pada
tahun 1486 Masehi. (M. Irfan Ilmie)
Beijing/Yinchuan (ANTARA) - Pemeluk agama Islam di daratan China
diperkirakan mencapai angka 20 ribu juta jiwa dengan jumlah masjid
sekitar 39 ribu unit lebih yang tersebar di berbagai daerah.
Mereka mendapatkan kesempatan belajar ilmu-ilmu agama Islam setelah
berusia 18 tahun dari para imam dan pemuka agama Islam di negeri itu.
Pelajaran agama Islam bagi umat Islam, termasuk membaca Alquran setelah
berusia dewasa tersebut bisa didapat di masjid atau di rumah dengan
mendatangkan ustaz atau pengajar pribadi.
Tentu saja, musim haji juga identik dengan Idul Adha yang dirayakan oleh
jutaan Muslim di berbagai daerah di China.
Sama dengan di Indonesia, tanggal 10 Dzulhijjah 1440 Hijriah di China
jatuh pada hari Ahad yang bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 2019 Masehi.
Pada pagi hari itu, umat Islam berkumpul di lapangan di depan Masjid Id
Kah, Kota Kashgar, di baratdaya Xinjiang yang sebagian wilayahnya
berbatasan langsung dengan Uzbekistan dan Tajikistan untuk merayakan
Idul Adha.
Mereka menari saman secara massal selepas shalat Id di masjid terbesar
di kota itu yang memiliki nama lain Masjid Etigar dan meluapkan kegembiraan.
Irama gambus mengiringi suara merdu seorang penyanyi yang menarik
perhatian para wisatawan untuk bersama-sama berbaur dalam pesta kurban
di lapangan masjid yang dibangun pada tahun 1486 Masehi itu.
"Saya sengaja datang kemari sejak pagi hanya untuk merasakan atmosfer
perayaan ini," kata Liu Bo, seorang wisatawan asal Provinsi Sichuan,
seperti dikutip Xinlang Weibo, laman berita populer di China.
Perayaan Idul Adha tersebut bersamaan dengan musim panen wisatawan bagi
pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang.
Grand Bazaar sebagai pusat keramaian terbesar di Ibu Kota Xinjiang di
Urumqi juga tidak mau ketinggalan mementum pada hari raya kurban yang di
China dikenal dengan istilah "Guerbang Jie" tersebut.
Selama musim perayaan Festival Kurban, Grand Bazaar selalu dipadati para
wisatawan, terutama mereka yang gemar berbelanja berbagai makanan dan
suvenir khas kota yang paling banyak dihuni etnis minoritas muslim
Uighur itu.
Anak-anak juga tertarik dengan instrumen musik tradisional yang
dimainkan warga setempat di jalanan yang disebut dengan "dutar" yaitu
sejenis kecapi berleher panjang dengan dua dawai.
/*Omzet Berlipat*/
Mohammad Tuersun Wuji yang sudah 10 tahun membuka usaha makanan
tradisional setiap musim panas mengaku omzetnya melonjak pada tahun ini
dibandingkan sebelumnya.
Dalam sehari wirausahawan beretnis Uighur itu bisa meraup pendapatan
hingga 10.000 RMB atau sekitar Rp20,2 juta selama liburan musim panas
yang kali ini bersamaan dengan Festival Idul Adha.
"Saya pikir untuk mendapatkan 10.000 RMB sangat sulit, tapi ternyata
benar-benar terjadi dalam satu hari. Saya dengar, jumlah wisatawan yang
mengunjungi Grand Bazaar mencapai 100 ribu orang per hari. Oleh karena
itu saya perlu mempersiapkan persediaan lebih banyak. Kalau tidak, kami
bisa kewalahan memenuhi permintaan pembeli," tuturnya.
Sejumlah warga desa di wilayah selatan Xinjiang pada hari itu juga
merayakan Idul Adha dengan menyanyikan lagu tradisional diiringi
tari-tarian dengan membentuk lingkaran yang dikenal dengan "Dawazi".
"Saya berterima kasih sekali kepada mereka yang tampil sehingga saya
bisa menyaksikan pertunjukan ini di kampung halaman," ujar Aymraguri,
warga Xinjiang.
Sementara itu, operator kereta api di Xinjiang pun menambah jadwal
perjalanan guna mengatasi kepadatan arus mudik masyarakat setempat
selama musim libur Idul Adha.
Sedikitnya 157 jadwal kereta api tambahan telah dikerahkan untuk
mempermudah pelayanan terhadap warga Xinjiang dari berbagai etnis itu.
Mereka pulang ke kampung halaman atau mengunjungi sanak saudaranya untuk
berbagi daging hewan kurban seraya berharap berkah bersama.
Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam di China, khususnya di Xinjiang,
semaraknya melebihi Hari Raya Idul Fitri.
Apalagi Xinjiang punya legenda Kurban Tulum atau Paman Kurban, yaitu
petani kelahiran 1883 beretnis Uighur yang semasa hidupnya pernah
bertemu dengan pemimpin China Mao Zedong itu tinggal di Kabupaten Yutian.
Kurban Tulum yang meninggal pada 26 Mei 1975 itu pernah dipromosikan
oleh Partai Komunis China (CPC) sebagai simbol persatuan dengan kaum Uighur.
Di Daerah Otonomi Ningxia semarak Idul Adha juga terasa geliatnya. Ma
Chongli, takmir masjid di Yinchuan, Ibu Kota Daerah Otonomi Ningxia,
harus bangun pukul 04.30 waktu setempat (03.30 WIB) pada Minggu
(10/8/2019) untuk melakukan berbagai persiapan penyelenggaraan shalat Id.
Di daerah yang dihuni 2,5 juta muslim beretnis Hui tersebut, jamaah
shalat Id kemudian saling bersalam-salaman dan saling mendoakan satu
dengan yang lainnya.
Setelah shalat Id, sebagian jamaah pulang ke rumah masing-masing untuk
makan bersama keluarga, sedangkan yang lainnya ada yang belanja di pasar
sekitar masjid untuk membeli makanan dan buah-buahan.
Demikian halnya dengan Ma yang telah menyiapkan daging sapi untuk
dihidangkan bersama. Persediaan dagingnya cukup untuk dimakan bersama
keluarga dan kerabatnya selama tiga hari.
"Setiap Idul Adha, kami menyiapkan dua meja makan. Biasanya sekitar 15
orang datang kemari untuk makan bersama dengan sajian daging sapi rebus.
Kami makan-makan dan mengobrol pada malam hari dalam suasana gembira,"
ucap pria berusia 66 tahun itu.
Semarak Idul Kurban juga terasa di tiga provinsi lain di wilayah barat
daya daratan China, seperti Gansu, Qinghai, dan Shaanxi. Ketiga daerah
ini juga banyak dihuni oleh umat Islam beretnis Hui.
"Saat kebutuhan hidup sehari-hari meningkat di negeri ini, kami masih
bisa makan dan punya banyak pilihan. Idul Adha ini menjadikan musim
liburan lebih berwarna dan sangat menarik," ujar Ma yang menikmati
suasana lebaran kurban itu. (Habis)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com