Jangan tanggung, jadikan saja presiden dengan satu menteri yaitu menteri 
pertahanan, dijabat kader tersayang yang berpengalaman jadi menhan tersingkat, 
11 bulan. 
Tapi ya itu nantilah. Kapan-kapan. Sekarang yang penting kan perhatian orang 
teralihkan dulu dari soal mati lampu + putus komunikasi hampir 20 jam itu dan, 
tentu saja, macetnya investasi RRC di Danau Toba.
--- ilmesengero@... wrote:
    Jenderal Luhut sangat hebat, karena punya multicomplex kapasitas untuk 
berbagai macam urusan negara, jadi bukan saja bidang maritim, tetapi minyak, 
investisi, listrik , PMA, etc.  Sekali lagi perlu ditekankan segala macam 
urusan,  maka oleh karena itu sepatutnya Jokowi dalam membuat kabinet baru,  
tidak perlu banyak kementrian dan menteri, karena makan biaya besar untuk bayar 
menteri yang tidak bepengalaman atau sedikit pengalamannya. Tetapkan satu atau 
paling banyak dua kementrian, yaitu Kementrian dibawah pimpinan jenderal Luhut 
dan satu lagi kementrian pertahanan dipegang oleh orang lain. Insyaalloh, 
hehehehehe

  On Sun, Aug 18, 2019 at 5:12 PM ajeg wrote:
Cobalah MMD yang pembina Pancasila itu belajar bicara realita soal "mati lampu" 
yang menurut Polri berbau kejahatan siber. Atau soal anjloknya jaringan ATM 
Bank Mandiri yang mengacaukan ribuan transaksi serta melenyapkan saldo nasabah. 
Atau kasus-kasus nyata lainnya yang bisa membantunya terlihat waras walafiat. 

-

Trauma Mati Listrik, Menko Luhut Minta PLN Serahkan Proyek ke Swasta 

TaufikFajar, Jurnalis · Rabu 14 Agustus 2019 20:02 WIB

JAKARTA- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta 
PTPerusahaan Listrik Negara (PLN) untuk tidak terlalubanyak terlibat dalam 
pembangunan-pembangunan listrik.

Halitu, dia ungkapkan setelah menggelar rapat bersama Plt Direktur Utama PT 
PLN,Sripeni Inten Cahyani di Kantor Kemaritiman Jakarta.

"Sayapengen, PLN lebih efisien lah. Terus kemudian kalian (PLN) jangan 
terlalubanyak dulu lah terlibat dalam pembangunan listrik, biarin aja private 
sectoryang lebih masuk. Seperti 51% harus untuk Indonesia power untuk waste 
toenergy. Jadi konsolidasi aja dulu, biarkan private sector main," ujar 
dia,Rabu (14/8/2019).

Diamenuturkan, waste to energy sudah hampir 18 tahun tidak beres-beres. 
Olehkarena itu biarkan saja beauty contest jalan. Karena sudah ada 
PeraturanPresiden (Perpes-nya) yang jelas harganya berapa sen terus kemudian 
tippingfeenya 500.

"Kemudianproses pembayaran tipping fee sudah ada, jadi tak ada masalah. Tapi 
kalau PLN,Indonesia power minta 51%, ya kan repot, masa dia 51% tak chip in. 
Kamu yangbawa uang 9%, ya kan namanya itu aneh," tutur dia.

Diajuga meminta agar PLN jangan terus-menerus melakukan investasi. Artinya 
jangansemua ingin, harus dilihat terlebih dahulu. Di mana semua ada 
keterbatasan.

"Jadiyang penting prioritasnya mereka lah. Saya Bu Inten tahu apa yang dia 
inginkan.Misalnya dia liat tadi, kalau boleh pak, kami sedang rencanain kabel 
inisebanyak mungkin di bawah tanah. Supaya jangan berantakan seperti sekarang. 
Kanbagus 5 tahun ke depan," pungkas dia.

(fbn)

Kirim email ke