http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7340/acuan_nilai_tukar_rupiah_jadi_alasan_pemerintah_pangkas_subsidi_energi



Acuan Nilai Tukar Rupiah Jadi Alasan Pemerintah Pangkas Subsidi EnergiSelasa
, 20 Agustus 2019 | 16:41

AKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan subsidi energi dalam
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 menurun
karena dipengaruhi acuan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
(AS) dan harga komoditas.

"Subsidi dalam APBN ini basisnya adalah volume, dikaitkan dengan harga.
Harga dipengaruhi nilai tukar dan harga komoditas," ucap Sri Mulyani
seperti dikutip *cnnindonesia.com <http://cnnindonesia.com>*, Selasa
(20/8/2019).

Dalam RAPBN 2020, subsidi energi turun menjadi Rp 137,5 triliun dari
prospek 2019 yang mencapai Rp 142,6 triliun. Subsidi ini terdiri dari
listrik, serta bahan bakar minyak (BBM) dan liquified Petroleum gas (LPG).

Penurunan terutama terjadi pada subsidi BBM dan LPG dari Rp 90,3 triliun
menjadi Rp 75,3 triliun. Sementara itu, listrik dinaikkan menjadi Rp 75,3
triliun dari sebelumnya Rp 90,3 triliun.

Adapun, nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2020 ditetapkan di angka Rp 14.400
per dolar AS. Posisinya lebih kuat dibanding asumsi makro dalam APBN 2019
yang dipatok sampai Rp 15 ribu per dolar AS.

Kendati begitu, Sri Mulyani menyebut akan mengamati perubahan rupiah dan
harga komoditas ke depannya. Hal ini untuk menentukan apakah perlu
perubahan kebijakan terkait subsidi energi.

"Dari sisi harga dinamikanya mungkin tidak sama persis dengan asumsinya,"
ucapnya.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani
menyatakan penurunan subsidi energi pada 2020 karena belum memperhitungkan
kurang bayar subsidi secara menyeluruh seperti pada tahun ini. Dengan
demikian, secara nominal jumlah yang dibutuhkan lebih rendah.

"Jadi outlook pada 2019 lebih tinggi karena sudah memperhitungkan kurang
bayar subsidi energi hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kalau 2020
belum makanya 2020 angkanya menurun," kata Askolani.

Namun begitu, ia memastikan semua ini tak akan mempengaruhi daya beli
masyarakat. Sebab, jumlah volume BBM dan LPG yang akan digelontorkan tak
berkurang seperti nilai subsidinya.

"Tidak ada pemangkasan (volume dari subsidi yang diberikan)," jelasnya.

Diketahui, volume konsumsi BBM tahun depan sebanyak 15,87 juta kiloliter.
Angka itu justru naik dari tahun ini yang hanya 14,5 juta kiloliter.

Sementara itu, target volume LPG tabung 3 kg sebanyak 6,98 juta metrik ton
atau hampir sama dengan tahun ini. Bila diurutkan sepanjang 2015-2018,
konsumsi LPG tabung 3 kg naik dari 5,6 juta metrik ton pada 2015 menjadi
6,53 juta metrik ton pada tahun lalu.

Kirim email ke