Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Kejar.id, aplikasi dari SMK untuk pendidikan Indonesia
Oleh Andi Jauhary Rabu, 21 Agustus 2019 10:02 WIB
Kejar.id, aplikasi dari SMK untuk pendidikan Indonesia
Baris depan (paling kiri) Kasi Kurikulum SMP Disdik Bogor Yosep
Berliana, pendiri aplikasi Kejar.id, Itasia Dina Sulvianti (dua kiri)
dan Kepala SMK Wikrama Bogor (paling kanan) bersama ratusan guru SMP
se-Kota Bogor, Jabar, usai lokakarya "Pembelajaran Digital Bagi Guru
SMP", Agustus 2019. (FOTO ANTARA/HO-Humas IDS Rumah Pendidikan Indonesia)
Pendidikan tetap harus ada interaksi, ruang kelas jangan membelenggu
peserta didik. Dengan IT atau internet, maka interaksi itu bisa dibangun
secara positif
Jakarta (ANTARA) - "Tukang (penjual) tahu saja berevolusi, dari sekadar
kudapan yang awalnya begitu saja kemudian kini dikenal dengan tahu bulat
yang digemari banyak orang, apalagi dunia pendidikan, yang sudah
seharusnya mengikuti perkembangan zaman," kata seorang pejabat.
Kutipan pernyataan itu terlontar dari pejabat di Dinas Pendidikan Kota
Bogor Yosep Berliana ketika menghadiri lokakarya bertajuk "Pembelajaran
Digital Bagi Guru SMP se-Kota Bogor yang berlangsung di Balai Krida
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Wikrama pada 5 hingga 7 Agustus 2019.
Kepada lebih dari 130 guru SMP peserta lokakarya itu, ia memotivasi
peserta untuk belajar dari "filosofi tahu bulat" itu guna melecut
semangat mengikuti perkembangan pendidikan --yang mau tidak mau-- mesti
terimbas pada dunia teknologi informasi (TI) atau digital saat ini.
Untuk itu, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor memilih SMK Wikrama
--yang sudah memiliki segudang prestasi mulai tingkat lokal, nasional,
regional, dan bahkan internasional untuk bidang IT-- menjadi tempat bagi
para pendidik memberikan pengetahuan pembelajaran digital itu.
Khusus yang terkait dengan IT, kompetensi keahlian di SMK Wikrama saat
ini adalah Teknik Komputer dan Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak,
Multimedia, serta Bisnis Daring dan Pemasaran.
Ada lagi yang menarik dari SMK ini, seperti yang pernah ditulis Harian
Kompas dalam sebuah laporannya berjudul "SMK Wikrama Bogor, Oase di
Tengah Mahalnya Pendidikan".
Dalam laporan itu dinukilkan bahwa meski memiliki segudang prestasi,
namun orang tua murid sekolah itu sebagian besar berasal dari kalangan
ekonomi lemah, seperti penjaga vila di kawasan Puncak, pedagang asongan,
tukang ojek, penjual rujak, dan "paling prestisius" adalah sopir
angkutan kota (angkot).
* Suka tidak
suka *
Dosen Departemen Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam (F-MIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga konsultan senior
pendidikan nasional Ir Hj Itasia Dina Sulvianti, M.Si mengemukakan bahwa
dengan perkembangan TI, para guru suka tidak suka akan masuk pada era 4.0.
"Era 4.0 atau sering disebut sebagai disrupsi adalah sebuah keniscayaan
yang tidak terhindarkan, yang diakibatkan oleh teknologi," katanya.
Itu sebabnya para pendidik tidak terhindarkan lagi mesti bersentuhan
dengan perkembangan teknologi dalam proses belajar mengajar sehingga
harus menyelaraskannya.
"Jika ada yang menyatakan sulit beradaptasi dengan perkembangan
teknologi, maka lokakarya dan pelatihan itulah ikhtiar dan upaya yang
mesti dilakukan," katanya.
Dalam keniscayaan semacam itulah, Yosep Berliana yang menjabat Kepala
Seksi (Kasi) Kurikulum SMP Disdik Kota Bogor berkomitmen agar para
pendidik bisa mengikuti perkembangan dunia pendidikan berbasis digital
itu melalui lokakarya dan pelatihan tersebut.
Memasuki era 4.0 para pendidik diharapkan tidak lamban merespons itu,
terlebih peserta didik atau murid saat ini adalah dari generasi Z.
Para pakar menggambarkan rentang umur yang dipakai untuk mendeskripsikan
generasi Z adalah anak-anak yang lahir 1995 hingga 2014 atau setelah
generasi Y atau milenial yang lahir di atas 1980-an sampai 1997.
Hanya saja, ia memastikan bahwa meski ada perkembangan IT dan digital
dalam dunia pendidikan, peran guru tetap tidak bisa digantikan karena
memang harus ada interaksi dalam proses belajar dan mengajar.
"Pendidikan tetap harus ada interaksi, ruang kelas jangan membelenggu
peserta didik. Dengan IT atau internet, maka interaksi itu bisa dibangun
secara positif," katanya.
Sebagai awal untuk bisa diterapkan di seluruh sekolah di Kota Bogor,
pihaknya melakukan uji coba kepada tiga SMP negeri yang telah dipilih
berdasarkan penilaian objektif terkait kesiapannya, yakni SMPN 13, SMPN
14, dan SMPN 19, yang berada di kawasan pinggiran kota.
"Selama setahun akan kita lihat bagaimana perkembangannya. Harapannya
akan berjalan baik, sehingga nantinya bisa diterapkan pada semua
sekolah," katanya.
Screenshot aplikasi Kejar.id yang dilahirkan SMK Wikrama Bogor dan kini
dikembangkan IDS Rumah Pendidikan Indonesia. (FOTO ANTARA/HO-Humas IDS
Rumah Pendidikan Indonesia)
*Aplikasi Kejar.id*
Dalam upaya menyelaraskan kemampuan guru dalam pengajaran era 4.0
itulah, menurut salah satu pendiri aplikasi "Kejar.id" Ita Itasia Dina
Sulvianti, pihaknya telah membuat aplikasi tersebut sebagai sumbangsih
bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Ia menjelaskan selama lebih dari 20 tahun, bersama pendiri lainnya,
yakni (alm) Dr drh RP Agus Lelana, Sp.MP, M.Si, mereka melalukan riset
pendidikan melalui SMK Wikrama Bogor dan Perguruan SMK Wikrama
Indonesia, sehingga pada 2011 mulai dibangun aplikasi pendidikan Kejar.id.
Awalnya, rancangan itu dibangun oleh para pelajar dan alumnus SMK itu
dengan didampingi tim guru, dan kini juga masih terus dikembangkan.
"Dan mulai 2017 kemudian di 'upgrade' pada 2017 setelah muncul teknologi
baru 'andorid support'," katanya.
Aplikasi itu juga lahir atas latar belakang kondisi pendidikan di
Indonesia, yang antara lain diwarnai kondisi buruknya integritas, di
mana siswa tidak kompeten pada materi-materi mendasar yang menyebabkan
buruknya integritas dan percaya diri.
Kemudian, materi pembelajar tidak sesuai, di mana banyak guru yang tidak
mengajarkan materi yang sesuai dengan kurikulum dan kisi-kisi yang
dibuat pemerintah.
Selain itu, pemantauan atau monitoring kurang, yakni sulit dilakukan
pemantauan pembelajaran.
Pada saat bersamaan, ada kondisi di mana ada Ujian Nasional Berbasis
Komputer (UNBK) sehingga dibutuhkan pembelajaran dan pembiasaan
menggunakan teknologi seiring adanya UNBK itu.
Ada pula sistem zonasi sehingga dibutuhkan alat ukur yang bisa memetakan
siswa yang beragam. Juga Palapa Ring, jaringan serat optik berkapasitas
100 GB (upgradable) yang menyatukan Indonesia, dan program Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) di mana pemerintah menganggarkan dana untuk
pembelajaran digital.
Aplikasi Kejar.id menyediakan paket belajar serta sistem pembelajaran
yang berfilosofi "tuntas, terukur, dan terpantau" untuk sekolah di
Indonesia.
Konsepnya, yaitu membangun sistem pembelajaran yang bertahap, mulai dari
materi-materi yang mendasar. Kemudian, berbasis sekolah, yakni dibuat
untuk siswa, orang tua, guru, wali kelas, kurikulum, kepala sekolah, dan
juga Dinas Pendidikan.
Selanjutnya, konten (materi/soal) telah disesuaikan dengan kurikulum dan
kisi-kisi yang telah dibuat oleh pemerintah, dan memiliki laporan
eksekutif, berupa mengumpulkan, menganalisis, dan melaporkan data secara
tepat, cepat dan mudah.
Mengenai proses pemanfaatan Kejar.id manfaatnya diperoleh oleh semua
komponen, mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua.
Untuk kepala sekolah, memotivasi guru untuk memfokuskan materi ajar yang
belum dikuasai siswa.
Bagi guru dan orang tua, memantau dan mengevaluasi hasil belajar siswa
melalui halaman khusus "executive report", dan bagi siswa, belajar, dan
mengerjakaan soal menggunakan "smart" aplikasi Kejar.id
Kemudahan penggunaan Kejar.id disebutnya sangat mudah dan menyenangkan
karena dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau "online" sehingga
dapat diakses di mana saja dan kapan saja.
Selain itu, berbasis "web" dan aplikasi android sehingga dapat diakses
melalui komputer atau laptop dan "smartphone" atau tablet.
"Sehingga berbiaya hemat," katanya.
Secara substansial, Kejar.id memiliki keunggulan terintegrasi, efisien,
dan feektif, berpelangalaman, pelayanan prima, termasuk menyediakan
fitur "try out" UNBK.
Saat ini, pengguna Kejar.id di seluruh Indonesia 893 sekolah, 222.516
siswa, dan 10.376 guru.
Kelebihan lainnya, menurut Itasia Dina Sulvianti, Kejar.id memiliki apa
yang disebutnya sebagai "hidden curriculum", yaitu menanamkan karakter
jujur, percaya diri, tekun, terbiasa dengan target, dan transparan.
"Kami siap membantu sekolah di Indonesia jika membutuhkan bantuan
sebagai sumbangsih kami bagi pendidikan di Tanah Air," katanya.
*Baca juga:"SmartTren Ramadhan" SMK Wikrama Bogor ditambahkan
multikulturalisme
<https://www.antaranews.com/berita/879701/smarttren-ramadhan-smk-wikrama-bogor-ditambahkan-multikulturalisme>
Baca juga:Kemendikbud luncurkan aplikasi belajar Paket c daring
<https://www.antaranews.com/berita/591365/kemendikbud-luncurkan-aplikasi-belajar-paket-c-daring>
Baca juga:Mahasiswa UGM hibahkan LexiPal ke institusi pendidikan
<https://www.antaranews.com/berita/467822/mahasiswa-ugm-hibahkan-lexipal-ke-institusi-pendidikan>*
Oleh Andi Jauhary
Editor: M. Hari Atmoko
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com