Tolak Pembangunan Danau Toba, Masyarakat Adat: Kami Khawatir Air
Reporter:
Tempo.co
Editor:
Syailendra Persada
Kamis, 22 Agustus 2019 09:06 WIB
Pemandangan Danau Toba bagian barat. TEMPO | Iil Askar MondzaPemandangan
Danau Toba bagian barat. TEMPO | Iil Askar Mondza
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Masyarakat Adat Raja Na Opat Desa
Sigapiton memprotes pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata
NasionalDanau<https://www.tempo.co/tag/danau-toba>Toba
<https://www.tempo.co/tag/danau-toba>.
Perwakilan masyarakat adat Desa Sigapiton juga mengungkapkan
kekhawatiran mereka terhadap ketersediaan air mengingat titik
pembangunan berada di dekat sumber air utama mereka.
"Kami khawatir debit air untuk mengairi sawah akan berkurang padahal itu
satu-satunya sumber air yang kami gunakan untuk air minum dan sawah,"
kata Manogu Manurung, perwakilan masyarakat adat Desa Sigapiton dalam
konferensi pers di Konsorsium Pembaruan Agraria Jakarta Selatan, Rabu 21
Agustus 2019.
Menurut Suryati Simanjuntak dari Kelompok Studi dan Pengembangan
Prakarsa Masyarakat yang mendampingi kelompok adat, mengatakan
pendekatan pemerintah yang tidak melibatkan masyarakat menimbulkan
gesekan sosial di antara warga desa.
"Tingkat konflik sudah mulai meninggi di antara warga, jadi pendekatan
yang dilakukan pemerintah oleh Kementerian Pariwisata dan BODT adalah
dengan mengirim orang dari Jakarta ke kampung dan menginap di situ,
menyewa rumah penduduk, ini kan menimbulkan saling curiga di antara
masyarakat," ujar Suryati.
ADVERTISEMENT
Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika
mengatakan seharusnya pembangunanDanau Toba
<https://bisnis.tempo.co/read/1235511/kembangkan-wisata-danau-toba-luhut-sebut-butuh-rp-1-triliun> menggunakan
pendekatan yang tak sekedar sosialisasi. "Tapi bagaimana satu proyek
pembangunan itu tidak hanya disosialisasikan tapi juga apakah masyakarat
paham resikonya," kata Dewi.
*AULIA ZITA*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com