Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Mengharapkan NTT jadi sentra produksi daging sapi nasional
Oleh Laurensius Molan Sabtu, 24 Agustus 2019 06:24 WIB
Mengharapkan NTT jadi sentra produksi daging sapi nasional
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengharapkan NTT menjadi sentra
produksi daging untuk memenuhi kebutuhan nasional. (ANTARA Foto)
Selain garam, NTT juga memiliki produksi daging yang lumayan bagus..
Kupang (ANTARA) - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat memantau
perkembangan harga sejumlah komoditas di sejumlah pasar tradisional di
Kota Kupang, Jumat (23/8/2019), memandang penting jika Nusa Tenggara
Timur dijadikan sebagai sentra produksi daging untuk memenuhi kebutuhan
nasional.
Kepada Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, Menteri Perdagangan
Lukita berjanji akan terus mendorong daerah ini untuk menjadi sentra
produksi daging agar secepatnya bisa memenuhi kebutuhan nasional.
"Minimal dua komoditas dari NTT yang bisa dijadikan sebagai sentra
produksi nasional, yakni garam dan daging," ujarnya.
Produksi garam di NTT, seperti yang dilakukan panen perdana oleh
Presiden Joko Widodo di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten
Kupang, Rabu (21/8/2019) sudah masuk ke pasar-pasar tradisional yang
dijual dalam bentuk garam curah.
Garam Nunkurus dan garam lokal lainnya di NTT yang dijual tersebut
kualitasnya mampu menyamai kualitas garam impor, sehingga komoditas ini
berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu sentra produksi untuk
memenuhi kebutuhan nasional.
Selain garam, NTT juga memiliki produksi daging yang lumayan bagus, yang
terlihat dengan stabilnya harga komoditas tersebut di pasar-pasar
tradisional akibat pasokan daging yang melimpah.
Melihat potensi daging dan garam yang cukup bagus ini, Menteri
Perdagangan Lukita kemudian menegaskan bahwa pemerintah pusat akan
saling memberikan dukungan untuk pengembangan komoditi unggulan di NTT
sehingga bisa membantu neraca perdagangan nasional.
*Baca juga:Mendag dorong NTT jadi sentra garam dan daging nasional
<https://www.antaranews.com/berita/1026404/mendag-dorong-ntt-jadi-sentra-garam-dan-daging-nasional>*
Menteri Perdagangan Lukita memberi apresiasi khusus kepada perkembangan
harga daging sapi di Kota Kupang, yang sampai saat ini masih tetap dalam
kondisi stabil. "Ini luar biasa, karena harganya masih jauh di bawah
harga rata-rata di Pulau Jawa," katanya.
Harga daging sapi di daerah Jawa saat ini rata-rata berada pada kisaran
Rp110.000-Rp120.000 per kilogram, sementara di Kota Kupang stabil
Rp90.000 per kilogram.
Ia memberikan apresiasi khusus terhadap upaya pengendalian harga bahan
pokok yang dilakukan pemerintah melalui instrumen-instrumen instansi
terkait di daerah ini, sebab bahan-bahan kebutuhan pokok di pasaran juga
diketahui secara detil dari mana pasokannya dan lainnya sehingga upaya
pengendalian berjalan.
*Lumbung ternak*
Nusa Tenggara Timur sempat mengalami masa keemasan sebagai salah satu
lumbung ternak nasional pada beberapa dekade sebelumnya.
Akibat tidak adanya mekanisme pasar yang mengatur secara baik tentang
tata niaga ternak pada saat itu, para petani peternak menjual ternaknya
dengan harga seadanya karena tuntutan ekonomi dengan mengabaikan
kualitas ternak sebagaimana yang diharapkan dalam sebuah mekanisme pasar.
*Baca juga:Kemendag sebut impor daging sapi agar harga kompetitif
<https://www.antaranews.com/berita/1014688/kemendag-sebut-impor-daging-sapi-agar-harga-kompetitif>*
Meninggalkan masa lalu yang kelam sebagai gudang ternak nasional yang
gagal, NTT perlahan-lahan mulai bangkit pada masa pemerintahan Gubernur
Frans Lebu Raya (2008 - 2018) ketika pemerintahannya berusaha
mengembalikan kejayaan NTT sebagai gudang ternak dengan menetapkan
daerah ini sebagai provinsi ternak.
Pada 2018, misalnya, pemerintah daerah terus mengembangkan potensi
ternak sapi yang ada untuk mengembalikan kejayaannya sebagai gudang
ternak nasional dengan menargetkan populasi sebanyak 1juta ekor sapi
pada saat itu.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian
(saat itu) Syukur Iwantoro menyampaikan tren pertumbuhan populasi ternak
di NTT dalam tiga tahun terakhir cukup menggembirakan, dan diyakini
segera mencapai target populasi 1 juta sapi pada 2018.
"Saat ini populasi sapi NTT yaitu 865.000 ekor, ini artinya naik 20
persen dibandingkan dengan periode yang sama 2013. Data sensus BPS saat
itu menunjukkan populasi sapi NTT berjumlah 725.000 ekor," ujar Syukur
dalam kunjungan kerjanya beberapa waktu lalu ke Kefamenanu, Timor Tengah
Utara.
Pencapaian tersebut dinilainya merupakan yang cukup tinggi dalam skala
provinsi, apalagi NTT memiliki dua jenis sapi yang sangat diminati
seluruh rakyat Indonesia yaitu Sapi Bali dan Sapi Sumba Ongole yang di
Indonesia, hanya dihasilkan di Pulau Sumba.
Lalu, bagaimana upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi
nasional? "Ada sejumlah program yang telah disusun oleh pemerintah pusat
untuk terus mengembangkan produksi sapi di NTT," katanya.
Pertama, proses perbaikan genetik sapi melalui inseminasi buatan (IB).
Dalam program ini, Provinsi NTT termasuk provinsi yang melakukan
percepatan program IB.
Dengan teknik IB dan kawin alam, pada 2016 populasi NTT dapat mencapai
950.000 ekor. Sepanjang tahun ini, akan ada 50.000 ekor sapi di Provinsi
NTT yang akan dikerahkan untuk program IB.
Kedua, dalam rangka untuk mengembalikan NTT sebagai sumber ternak,
pemerintah akan menerapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi
kekurangan pangan ternak pada musim kemarau.
*Ancaman Antrax*
"Di NTT ini 3-4 bulan musim basah, sisanya musim kering. Itu salah satu
faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas sapi-sapi kita yang ada.
Terobosan yang dilakukan untuk mengantisipasi hal ini, yaitu membangun
embung, atau tempat penampungan air," kata Syukur.
Dengan demikian, NTT diharapkan dapat berkontribusi secara signifikan
memberi pasokan untuk program swasembada daging sapi nasional yang
dicanangkan oleh pemerintah.
"Kami targetkan tingkat pertumbuhan populasi ternak 4,5 persen melalui
penurunan angka kematian ternak kurang dari 4 persen dan peningkatan
angka kelahiran hidup 25 persen dari populasi," kata Kepala Dinas
Peternakan NTT Dani Suhadi.
Selain itu, NTT juga memiliki program pengembangan lain seperti
pengendalian pemotongan sapi betina produktif, pengendalian pengeluaran
jantan produktif, serta mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat
peternak melalui kontribusi peningkatan nilai tukar petani peternak
lebih dari 1,15 persen.
Saat ini, NTT masih menghadapi sejumlah ancaman kesehatan hewan berupa
penyakit hewan menular strategis (PHMS) seperti/Brucellosis, Antrax, Hog
Kolera,/dan/Rabies./
"Setiap tahun, penyakit destruktif hewan ini menyebabkan kerugian di
tingkat petani mencapai 5,5 persen dari produktivitas ternak dan
ekuivalen dengan Rp80 miliar-Rp100 miliar," ujar Dani Suhadi.
Lalu, bagaimana dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi
ternak sapi dalam tahun ini? "Untuk tahun ini (2019) kami targetkan
peningkatan populasi ternak sapi sebanyak 2 juta ekor," katanya.
Mencermati tren populasi ternak sapi yang cukup menggembirakan ini,
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita tampaknya tidak ragu menunjuk
Nusa Tenggara Timur sebagai sentra daging untuk memenuhi kebutuhan
nasional.
Oleh Laurensius Molan
Editor: Nusarina Yuliastuti
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com