Berapa lama dibutuhkan suntikan agar bisa sembuh dari penyakit yang
diderita ? Inalum, Garuda, Krakatau steel juga mendapat suntikan?


http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7461/suntikan_modal_negara_ke_bumn_semakin_bebani_apbn



*Suntikan Modal Negara ke BUMN Semakin Bebani APBN*

Senin , 26 Agustus 2019 | 09:35


Listen to this

JAKARTA - Sejak tahun 2015 hingga 2018, Pemerintah terus menggelontorkan
dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
kepada sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam bentuk penyertaan
modal negara (PMN).

Total suntikan modal ke perusahaan pelat merah tersebut sudah sebanyak Rp
130,3 triliun, namun sayangnya upaya tersebut tidak diiringi dengan
perbaikan kinerja BUMN.

"Ironisnya, ketika alokasi PMN sangat besar justru masih banyak BUMN yang
menghadapi tekanan keuangan, yang pada gilirannya kembali membebani APBN,"
kata Ekonom Indef Abra Talattov seperti dikutip *cnnindonesia.com
<http://cnnindonesia.com>*, Senin (26/8/2019).

Abra berpendapat, keuangan BUMN yang landai dipengaruhi oleh pemberian
tugas yang berat dari pemerintah. Misalnya, perusahaan pelat merah
diberikan penugasan untuk membangun infrastruktur yang tak menguntungkan
secara bisnis.

"Ini harusnya menjadi pesan bagi pemerintah bahwa ada persoalan riil yang
sedang dihadapi oleh BUMN," kata Abra.

Jika kinerja BUMN terus merosot, dampaknya juga buruk pada APBN. Abra
menyebut jumlah dividen dan pajak yang diterima oleh pemerintah akan
berkurang jika laba BUMN semakin turun.

"Apalagi kalau kinerja turun dan utang menumpuk, mungkin selain pembiayaan
kembali (refinancing) nanti minta pertolongan pemerintah dan ujung-ujungnya
pemberian PMN lagi," jelas Abra.

Semakin banyak PMN yang dikeluarkan, artinya belanja yang akan
digelontorkan juga berpotensi membengkak. Ujung-ujungnya, defisit anggaran
bisa lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Diketahui, pemerintah berencana menganggarkan PMN sebesar Rp 17,7 triliun
dalam RAPBN 2020. Mayoritas diberikan kepada PT Perusahaan Listrik Negara
(Persero) sebesar Rp 5 triliun, PT Pengembangan Armada Niaga Nasional
(Persero) Rp 3,8 triliun, dan PT Hutama Karya (Persero) Rp 3,5 triliun.

Lebih lanjut Abra menyebut pemerintah seringkali menyebut seolah-olah
bisnis BUMN dan proyek negara adalah dua hal yang berbeda. Padahal,
mayoritas proyek infrastruktur yang dikerjakan perusahaan pelat merah juga
pemberian dari pemerintah.

"Infrastruktur dikerjakan BUMN jadi utang pemerintah seperti tidak besar,
padahal yang dibebankan BUMN dan beban BUMN bisa jadi berisiko untuk APBN.
Jadi sama saja sebenarnya. Bukan hal yang terpisah," papar dia.

Berdasarkan data yang dimilikinya, utang luar negeri (ULN) BUMN non bank
pada kuartal II 2019 tembus US$ 42,25 miliar atau naik dari periode yang
sama tahun sebelumnya sebesar US$ 29,06 miliar.

Hal yang sama terjadi pada BUMN di sektor perbankan. Totalnya pada kuartal
II 2019 sebesar US$ 7,58 miliar, sedangkan sebelumnya US$ 5,56 miliar.
Dengan demikian, total ULN BUMN pada kuartal II 2019 naik menjadi US$ 49,83
miliar dari US$ 34,62 miliar.

Saat ini, Abra menyebut hasil macro stress test yang dilakukan Kementerian
Keuangan menyatakan bahwa risiko APBN berada di level 4. Ini artinya,
dampaknya cukup signifikan kepada APBN.

"Nah di sini menjadi tugas Kementerian BUMN untuk menunjukkan kepada publik
sejauh mana mitigasi risiko itu bisa dilakukan, risiko terkait proyek dan
utang BUMN," kata Abra.

Selain itu, manajemen dari masing-masing perusahaan pelat merah juga harus
objektif dalam menerima penugasan dari pemerintah. Jika memang dalam kajian
tak menguntungkan secara bisnis, perusahaan harus berani melakukan
negosiasi dengan pemerintah.

"Ya kalau mengacu ke soal ekonomi politik, pasti tidak ada yang berani
menolak pemerintah. Tapi bukan berarti iya-iya saja, karena dampaknya juga
bahaya ke APBN," jelasnya.

Kirim email ke