https://republika.co.id/berita/pwvan7385/internet-papua-masih-diblokir-maju-mena-mundur-kena
*Internet Papua Masih Diblokir: Maju Mena Mundur Kena?*

*Selasa 27 Aug 2019 06:30 WIB*

*Red: Muhammad Subarkah*



*Warga Papua hanya bisa pasrah ketika internet terus diblokir.*

*Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika*




*JAKARTA — ‘’Apa **kitorang** kalau beli sinyal harus ke Jakarta?’’
Pertanyaan ini dikatakan Ketua MUI Papua Barat, Ahmad Nausrau, Selasa pagi
ini (27/8). Dia mengatakan soal ini sambil tertawa renyah melalui
percakapan telepon. Terkesan ringan dan tak ada persoalan.*

‘’*Situasinya Papua sudah membaik. Hari kemarin masih ada demontrasi di
Sorong dan kantor Gubernur Papua Barat. Hari ini belum ada kabarnya,’’
ujarnya lagi.*

*Bagi Ahmad Nausrau dan warga Papua, pemblokiran internet Papua ditanggapi
dengan pasrah. Mereka hanya bisa berharap-harap cemas. Kepastian pembukaan
blokir internet oleh pemerintak tak ada yang tahu sampai kapan. Yang mereka
tahu hanya ada kabar akses internet akan dibuka ketika situasinya kondusif.*

‘’*Kami di MUI Papua Barat juga tidak tahu sama dengan warga lainnya. Dan
pemblokiran ini merepotkam kami. Kordinasi dan acara yang sudah kami
agendakan berantakan dan ditunda,’’ tegasnya.*

*Ahmad Nausrau yang juga salah satu putera Papua yang menamatkan studi di
universitas Al Azhar Mesir tersebut menyatakan sebenarnya pemblokiran
internet ini tak banyak manfaatnya. Bahan hanya membuat masalah baru yang
menandakan kondisi Papua semakin ruwet. Spekulasi malah makin bermunculan.*

‘’*Kalau ada soal tersebar ‘hoaks’ memang iya. Tapi apakah ini akan
membendung? Saya jawab tidak. Kalau muat buat hoaks untuk media sosial
tinggal saja pergi  ke perbatasan dengan Papua New Geunia. Wilayah itu tak
jauh dari Jayapura. Di sana sudah bebas mengakses internet,’’katanya lagi.*

*Malah, lanjut Nausrau, terus ditutupnya internet di Papua makin
mengesankan kondisi Papua yang menakutkan dan tertutup pada akses asing.
Ini akan memunculkan tanda tanya pada komunitas warga Indonesia di wilayah
lain dan publik internasional.*

‘’*Saya pikir ini memang situasi maju kena mundur kena. Tapi saya pikir
lebih baik dibuka saja, sebab malah membuat situasi tak kondusif. Rapat
kami di MUI dengan pihak pemerintah bersama berbagai unsur umat beragama
lainnya untuk mendinginkan situasi jadi sulit. Komunikasi tetap sulit
karena internet di blokir,’’  tegas Nausrau.*

*Seorang warga Papua lainnya, juga bersikap senada dengan Nausrau. Dia
tertawa ringan ketika ditanya apakah internet akan menyelesaikan banyak
persoalan yang kini dialami warga Papua.*

“*Kawan-kawan Papua bahkan harus meminta kesediaan kami atas biaya menerima
telepon dan SMS karena beli pulsa di sini kian sukar. Jaringan wifi
broadband yang sempat bisa diandalkan sudah tak bisa dipakai akses internet
sejak berapa hari lalu.,’’ katanya.*

*Menurutnya, pesan daring sampai hari ini juga terus dihambat. “Ini salah
satu pemblokiran informasi paling sistematis dalam sejarah Indonesia. Ini
merupakan fakta bila  satu lagi hak warga Papua yang direbut republik,’’
katanya lagi.*

*Sebelumnya, Gubernur Papua Lukas Enembe juga telah berharap pembatasan
akses internet di Papua segera diakhiri. Ia mengungkapkan, berbagai
kalangan masyarakat, termasuk pengusaha, mengeluhkan sulitnya akses
komunikasi. *

*"Kami harap dalam waktu dekat pemerintah sudah mulai buka kembali. Banyak
keluhan. Makanya kami harap semua sisi informasi bisa dibuka,” ujar dia di
Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (26/8). *

*Kendati demikian, Lukas memahami langkah pembatasan akses internet yang
dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga keamanan di provinsi paling timur
Indonesia tersebut. Menurut Lukas, pascakisruh yang terjadi di Papua dan
Papua Barat, situasi saat ini sudah berangsur normal dan aman. *

*Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyampaikan
pembatasan akses internet di Papua dilakukan demi kepentingan bersama. Ia
mengatakan, akses internet di Papua perlu dibatasi setelah ditemukan adanya
230 ribu URL atau alamat web yang memviralkan konten hoaks.*

*Karena itu, meskipun situasi di Papua telah kembali normal pascakisruh,
pemerintah masih melakukan antisipasi dengan membatasi akses internet.
"Kalau dari sisi dunia nyata memang tidak ada demo lagi. Tapi di dunia maya
ada 230.000 URL yang memviralkan hoaks. Saya ada catatannya. Lebih dari
230.000 URL. Artinya URL kanal yang digunakan,” jelas Rudiantara di
Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin (26/8). *

*Berbagai konten hoaks tersebut, menurut Rudiantara, mayoritas ditemukan di
jejaring media sosial, seperti Twitter. Ia berharap, pembatasan akses
internet ini tak akan membuat masyarakat terhasut akibat adanya berita
bohong. Rudiantara tak bisa memastikan waktu pemulihan akses internet di
Papua. Ia mengatakan, pembatasan akses internet ini dilakukan sesuai dengan
aturan yang ada.*

*Sementara itu, kaum cendikiawan juga memprotes terus berlangsungnya
pentutupan akses internet di Papua. Pakar Hukum Tata Negara dari Sekolah
Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera, Bivitri Susanti menilai pemblokiran
internet yang dilakukan pemerintah di Papua dan Papua Barat tidak memiliki
landasan hukum yang jelas. Ia pun meminta DPR segera memanggil pemerintah
terkait pemblokiran yang sudah berlangsung sejak Rabu (21/8) lalu itu.*

*"Itu kan pembatasan hak asasi, ya, maka harus jelas menyebutkan kriteria
dan bentuk pemblokiran yang dilakukan," ucap Bivitri kepada Republika,
Senin (26/8).*

*Menurut Bivitri, saat ini memang belum ada landasan hukum yang bisa
digunakan untuk melakukan pemblokiran internet. Ia pun menyarankan, jika
pemerintah memang ingin melakukan pemblokiran, maka harus dibuat payung
hukumnya terlebih dahulu. "Walaupun saya pribadi tidak setuju pemblokiran
internet, tapi kedepan harus dibuat aturannya," kata dia.*

*Nah, dalam beberapa hari ke depan akses internet di Papua akan seperti
apa? Apakah akan terus ditutup? Situasi ini bagi pemerintah di Jakarta
seperti buah simalakama. Alhasil dalam situasi ini **kok** jadi ingat
filmnya Warkop Prambros: Maju Kena Mundur Kena?*

Kirim email ke