Temui Gubernur Khofifah, Tokoh Pimpinan Religius Papua Utarakan
Sejumlah Harapan
------------------------------------------------------------------------
....
<https://sp.beritasatu.com/nasional/temui-gubernur-khofifah-tokoh-pimpinan-religius-papua-utarakan-sejumlah-harapan/571747/#>
Suara Pembaruan
Selasa, 27 Agustus 2019 - 08:02
<https://sp.beritasatu.com/nasional/temui-gubernur-khofifah-tokoh-pimpinan-religius-papua-utarakan-sejumlah-harapan/571747/#>
....
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersiap menjadi saksi
sidang kasus suap jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama
dengan terdakwa Haris Hasanuddin dan Muafaq Wirahadi di Pengadilan
Tipikor, Jakarta, Rabu 3 Juni 2019.
*Surabaya, Beritasatu.com*- Sejumlah perwakilan dari organisasi
Persekutuan Gereja-gereja Papua (PGGP) bertemu dengan Gubernur Jawa
Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi
Surabaya, Senin (26/8/2019). Para pemuka agama Kristen itu datang untuk
membicarakan masa depan mahasiswa Papua pascaterjadinya ujaran bersifat
rasial di depan Asrama Mahasiswa di Jalan Kalasan, Surabaya dan
kesalahpahaman antara Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dengan pengguna
jalan di dekat simpang empat Rajabali, Kota Malang, beberapa waktu lalu.
“Kami minta kepada Ibu Gubernur untuk menjadi Mama Papua. Menjadi orang
tua bagi anak-anak kami mahasiswa Papua di sini. Sebab, mereka jauh dari
kami,” ujar Pendeta Yan Piet Wambrauw, anggota PGGP yang ikut hadir pada
pertemuan itu, Senin (26/8/2019).
Pendeta Piet juga menyatakan berterima kasih atas usaha baik Gubernur
Khofifah dalam memberi perlindungan terhadap anak-anak Papua. Bagi Yan,
upaya tersebut bisa menjadi model bagi penyelesaian konflik etnis di
daerah lain, katanya.
Pada bagian lain Pendeta Yan Piet tidak ingin insiden beberapa waktu
lalu memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa Papua di Jatim, sehingga
proses pendidikan mereka bisa terganggu. Ia juga bersyukur karena sesuai
pernyataan para mahasiswa dan keluarga besar Papua di Surabaya, mereka
selama ini mengaku tidak ada kendala dan mereka hidup dalam kondisi
baik-baik saja. Karenanya, PGGP berharap, para mahasiswa kembali kuliah
dengan baik tanpa merasa tertekan dan semacamnya.
“Kami berharap mereka kembali kuliah lagi, dengan harapan bisa kembali
ke Papua lagi dan bisa membangun tanah Papua jauh lebih baik lagi
nantinya,” tandas Pendeta Yan Piet.
Dalam pertemuan yang dihadiri Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan itu,
PGGP juga berharap aparat penegak hukum bisa memroses dugaan kasus
rasisme yang dialami oleh anak-anak Papua. Sebab, pihaknya melihat ada
masalah hukum dalam kasus itu. “Kejadian lalu sangat disayangkan, tetapi
semua sudah terjadi. Kami juga minta maaf atas nama-anak kami yang
bersalah sehingga membuat tidak nyaman,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah pada kesempatan itu menyatakan
bahwa pertemuan tokoh gereja menjadi energi positif untuk penyelesaikan
masalah. Peran aktif para tetua agama itu penting untuk menjaga situasi
kondusif di tingkat bawah. “Mereka ini/religious leader./Tadi kami
berdiskusi. Beliau juga menyampaikan supaya saya menjadi Mama Papua.
Saya sampaikan kepada para pendeta, bahwa komunikasi kami baik selama
ini,” ujar Khofifah yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muslimat
Nahdlatul Ulama itu.
Ia tidak lupa menyampaikan permohonan maaf atas kalimat rasis yang ikut
terlontar pada peristiwa itu, baik di Surabaya maupun Malang yang
kemudian memicu kerusuhan di Manokwari, Papua Barat.
Sumber : Suara Pembaruan
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com