Efektivitas Beras Raskin Makin Lemah
Rabu , 28 Agustus 2019 | 13:18
http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7543/efektivitas_beras_raskin_makin_lemah
Efektivitas Beras Raskin Makin Lemah
Sumber Foto: Istimewa
Pasokan beras di gudang Bulog
POPULER
Menkeu: Usulan DJSN Tetap Buat BPJS Kesehatan Defisit
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7543/ekonomi/read/7526/%22>Bank
Dunia Sebut Ekonomi RI Ikut Terimbas Perang Dagang
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7543/ekonomi/read/7507/%22>Ini
Strategi Sri Mulyani Benahi Defisit Neraca Perdagangan RI
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7543/ekonomi/read/7505/%22>Konstruksi
Infrastruktur Dasar Ibu Kota Baru Mulai Dibangun Pertengahan 2020
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7543/ekonomi/read/7501/%22>Aset
Negara di Jakarta Bisa Jadi Opsi Pendanaan Pemindahan Ibu Kota Baru
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/7543/ekonomi/read/7515/%22>
Listen to this
JAKARTA - Dosen Fakultas Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu
Krisnamurthi menyebut pemintaan beras dengan jenis dan kualitas tertentu
berubah di tengah kondisi masyarakat yang semakin sejahtera.
Dalam diskusi Food Security Forum bertajuk “Mengidentifikasi Perubahan
yang Diperlukan dalam Rantai Distribusi Beras Indonesia” di Jakarta,
Rabu (28/8/2019), Bayu menyebut perubahan permintaan beras itu
seharusnya disambut pemerintah.
“Perubahan permintaan sudah sangat nyata. Diferensiasi kualitas sudah
nyata terjadi. Itu harus kita sambut karena itu cermin kenaikan
pendapatan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera, ingin variasi konsumsi
itu sah, dan bukanlah cermin kegagalan,” kata Bayu seperti dikutip dari
antaranews.com.
Mantan Wakil Menteri Perdagangan itu menuturkan saat ini masalah
perberasan disebut-sebut masih berkutat di sisi suplai. Padahal, menurut
dia, perlu dipertanyakan masalah pemintaan beras yang jarang dipahami.
“Makanya Bulog kalau mau intervensi (pasar) dengan beras kualitas raskin
untuk pengendalian harga, ya efektivitasnya semakin lemah karena yang
diminta konsumen bukan itu,” katanya.
Oleh karena itu, Bayu mengatakan masalah rantai distribusi beras
seharusnya bisa dilihat berdasarkan variasi permintaannya.
Ia menyebut perubahan permintaan beras misalnya terkait semakin
tingginya kesadaran akan kesehatan. Ia mencontohkan terkait dengan makin
tingginya kesadaran kesehatan, misalnya makin menjamurnya restoran
Jepang di Tanah Air.
Dengan demikian, mantan Dirut Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa
Sawit (BPDPKS) itu menyebut beras menjadi konsekuensi derivatif sisi
permintaan alih-alih lanjutan on farm.
“Karena masalah demand sangat berat, mari kita apresiasi dan rekognisi
karya petani yang ingin membedakan dirinya dari yang lain. Caranya
dengan membiarkan harganya beda-beda, hormati kemasannya, beri label
yang bagus, promosikan sehingga beras tidak lagi jadi hanya komoditas
tapi produk bernilai,” ungkapnya.
Perum Bulog, lanjut Bayu, juga bisa memanfaatkan peluang tersebut dengan
memposisikan diri sebagai badan yang bisa menyediakan beras dengan
persyaratan minimal.
“Misal kalau Bulog katakan punya 1,5 juta ton, jenisnya apa, tidak bisa
lagi disamakan. Di situ Bulog bisa membuat bisnis,” kata Bayu Krisnamurthi.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com