https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190824173428-106-424345/demonstrasi-hong-kong-ricuh-polisi-tembakkan-gas-air-mata
Demonstrasi Hong Kong Ricuh, Polisi Tembakkan Gas
Air Mata
CNN Indonesia | Sabtu, 24/08/2019 17:43 WIB
Bagikan :
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190824173428-106-424345/demonstrasi-hong-kong-ricuh-polisi-tembakkan-gas-air-mata#>
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190824173428-106-424345/demonstrasi-hong-kong-ricuh-polisi-tembakkan-gas-air-mata#>
Demonstrasi Hong Kong Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata Polisi Hong
Kong tengah mengamankan pedemo yang berbuat ricuh saat protes
berlangsung, Sabtu (24/8). (REUTERS/Kai Pfaffenbach)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian *Hong Kong
<https://www.cnnindonesia.com/tag/hong-kong>* menembakkan gas air mata
dalam *demonstrasi <https://www.cnnindonesia.com/tag/demonstrasi> *yang
terjadi di Hong Kong, Sabtu (24/8). Polisi juga memukul mundur peserta
aksi dengan alat pentung di dalam kerusuhan yang terjadi di distrik Kwun
Tong.
Dikutip dari AFP, demonstran justru malah membalas aksi tersebut dengan
melemparkan batu, botol, dan juga tiang bambu.
Tensi meningkat pada aksi demonstrasi hari ini, para demonstran yang
dikenal dengan The Brave berkumpul menyampaikan aksi sejak pagi. Ini
merupakan kerusuhan pertama yang terjadi setelah aksi damai yang terjadi
beberapa hari belakangan.
Ribuan demonstran terpantau mengenakan pelindung kepala dan masker gas
di distrik tempat bermukimnya kelas pekerja Hong Kong tersebut. Di
tengah aksi tersebut, lusinan polisi menghadang demonstran dengan pelindung.
Lihat juga:
Gandeng Tangan, Bentuk Protes Lebih Damai Versi Hong Kong
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190729142643-113-416436/gandeng-tangan-bentuk-protes-lebih-damai-versi-hong-kong/>
Demonstran yang berada di garis terdepan membentuk barikade yang terdiri
dari pembatas jalan dan tiang-tiang bambu. Di sisi lain, dinding-dinding
di lokasi sudah dipenuhi gambar sarat ejekan yang dialamatkan kepada polisi.
Batu panas kemudian beterbangan, yang seketika langsung diadang polisi
dengan tameng dan baton. Sebagai balasan, polisi kemudian menyemprotkan
semprotan merica.
Gas air mata kemudian beterbangan sepanjang jalan. Demonstran pun
menjauh sembari meninggalkan botol pecah dan kebakaran kecil di lokasi aksi.
Tak berselang lama, beberapa peserta aksi kemudian ditahan polisi dengan
alasan bahwa mereka melakukan kericuhan, menyulut kebakaran, dan
melempar batu bata kepada polisi.
Aksi ini bertepatan dengan pembebasan staf Konsulat Inggris Simon Cheng
oleh Kepolisian China pada Sabtu (24/8). Kepolisian China mengatakan
Cheng dibebaskan sesuai jadwal setelah sebelumnya ditahan selama 15 hari.
Lihat juga:
Pedemo Hong Kong Bersiap Lumpuhkan Akses Bandara Akhir Pekan
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190823083410-113-423964/pedemo-hong-kong-bersiap-lumpuhkan-akses-bandara-akhir-pekan/>
Penahanan Cheng merupakan sumber ketegangan di Hong Kong yang
berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Warga Hong Kong turun ke
jalan meminta Cheng dibebaskan sekaligus meminta pemerintah menganulir
peraturan yang memperbolehkan pelanggar hukum di Hong Kong untuk
diekstradisi ke China daratan.
Tak diduga, aksi itu malah berkembang menjadi teriakan warga Hong Kong
untuk merestorasi demokrasi di kota tersebut. Ini lantaran skema satu
negara dua sistem yang diadopsi di Hong Kong sejak 1997 lambat laun
tidak dipatuhi China. Walhasil, Hong Kong kini menginjak krisis yang tak
terduga.
Penyelenggara aksi mengklaim sebanyak 135 ribu orang mengikuti Hong Kong
Way, yang terinspirasi dari Baltic Way. Baltic Way sendiri merupakan
aksi bergandengan tangan yang melibatkan 2 juta orang sebagai simbol
penolakan negara-negara Baltik terhadap kepemimpinan Uni Soviet.
*Sarana Transportasi Masih Lancar*
Meski aksi masih berlangsung, namun bandara yang berada di pulau lain
beserta akses transportasi masih berjalan dengan baik. Padahal
sebelumnya, demonstran berencana untuk melakukan interupsi terhadap
jaringan transportasi.
Otoritas setempat sebelumnya telah menjalankan saran dari penegak hukum
untuk mencegah aksi demonstrasi di bandara dengan penutupan paksa. Ini
dilakukan setelah demonstran sempat menduduki terminal utama bandara
selama beberapa hari dan menyebabkan 1.000 penerbangan gagal lepas landas.
Sebelumnya, empat kereta tanah bawah juga sempat berhenti beroperasi di
sekitar Kwun Tong, sebuah area padat populasi di sisi timur semenanjung
Kowloon. Kereta memadamkan operasinya setelah media massa China
mengkritik kereta digunakan sebagai sarana transportasi perusuh untuk
kabur pascabaku hantam dengan kepolisian setempat.
Pihak kereta bawah tanah juga mengaku telah mendapat persetujuan untuk
menghentikan operasi jika demonstran menguasai lalu lintas. Jika
vandalisme dan perkelahian terjadi di bawah tanah, maka operasional
kereta di stasiun terkait harus dihentikan.
Hanya saja, beberapa demonstran malah duduk di lantai agar pintu besi di
Stasiun Kwun Tong tidak menutup dengan sendirinya. Sementara golongan
masyarakat lainnya membentak staf MTR untuk segera menghentikan operasi
kereta bawah tanah. Bahkan, beberapa orang menghalangi pintu stasiun
dengan palang bambu.
*(glh/ain)*