https://news.detik.com/kolom/d-4677936/kebencian-yang-menyejarah
Jumat 23 Agustus 2019, 14:39 WIB
Kolom
Kebencian yang Menyejarah
Grady Nagara - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/grady.nagara1>
Grady Nagara <https://connect.detik.com/dashboard/public/grady.nagara1>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4677936/kebencian-yang-menyejarah#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4677936/kebencian-yang-menyejarah#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4677936/kebencian-yang-menyejarah#> 0
komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4677936/kebencian-yang-menyejarah#>
Kebencian yang Menyejarah Aksi anti-rasisme warga Papua di Jakarta
(Foto: Pradita Utama)
*Jakarta* -
Dalam kehidupan sosial, kebencian tidaklah muncul dalam ruang hampa.
Rasa kebencian selalu dibentuk dari konteks sosial dan sejarah tertentu.
Kenyataannya, bangsa Indonesia berjalan pada lintasan sejarah tentang
kebencian yang tidak pernah usai. Rasa kebencian bangsa Indonesia telah
muncul sejak era kolonialisme, dan kita membenci Belanda sebagai bangsa
penjajah (Heryanto, 2018).
Pasca kemerdekaan di bawah Presiden Sukarno, bangsa kita membenci segala
anasir yang kontra revolusioner. Presiden Sukarno dahulu selalu berseru:
revolusi belum selesai! Pada era Orde Baru, bangsa kita diajarkan untuk
membenci komunisme dan segala sesuatu yang berbau anti-NKRI dan
anti-Pancasila. Setelah reformasi bergulir bersamaan dengan jaminan
kesetaraan hak sipil-politik setiap warga negara, rasa kebencian
terhadap agama, ras, dan etnik tertentu yang dibentuk sejak masa lalu
nyatanya tidak pernah hilang.
Rasa kebencian yang menyejarah jelas menimbulkan masalah pelik dalam
relasi sosial masyarakat di Indonesia. Seperti kasus penurunan bendera
merah putih di Surabaya, 16 Agustus 2019 lalu. Dengan serta merta
gelombang massa menuduh mahasiswa asal Papua yang tinggal di dalam
asrama sebagai oknum dan penjahat yang telah melakukannya, meski tidak
didasari pada bukti yang kuat. Satu-satunya pemicu dari tudingan
serampangan itu adalah stereotip kepada orang-orang Papua yang dianggap
anti-NKRI, dan prasangka rasis yang sangat menyudutkan.
Stereotip kuat ini muncul karena dibentuk dari konteks sosial dan
sejarah yang panjang. Terutama pada era Orde Baru yang secara masif
memprogandakan kebencian kepada pihak yang dianggap anti Pancasila dan
anti-NKRI: dalam hal ini termasuk masyarakat Papua --dipicu dari
kegagalan referendum penentuan pendapat rakyat (Pepera) 1969 yang
membuat Papua dengan terpaksa harus menjadi bagian dari Indonesia
(MacLeod, 2011).
Indonesia memang membutuhkan Papua mengingat lokasi ini secara geologis
memiliki sumber daya alam menguntungkan bagi negara. Lagi pula, tidak
lama pasca Soeharto mengambil tampuk kepresidenan, hal pertama yang
dilakukan adalah membentuk UU Penanaman Modal Asing (PMA) disusul
masuknya Freeport ke dalam Papua.
Dengan kata lain, ada kepentingan ekonomi-politik Orde Baru dalam
mempertahankan Papua di balik ajakan untuk membenci gerakan separatisme
yang tumbuh pasca Pepera 1969. Dampaknya hari ini sangat jelas:
ketimpangan dalam relasi sosial. Seolah ada superioritas ras di atas ras
Melanesia yang tidak lain adalah orang Papua asli. Dari ketimpangan
relasi sosial inilah yang menyebabkan stereotip itu muncul, dan
sewaktu-waktu bisa meledak sekalipun dipicu dengan peristiwa yang
barangkali cukup remeh.
Sampai titik ini, tesis Greenwalt (1995) yang menyatakan akibat dari
provokasi kebencian dapat berujung pada reaksi kekerasan memang benar
adanya. Apalagi rasa kebencian itu diutarakan melalui simbol dan bahasa
tertentu --seperti 'monyet', misalnya-- yang dapat membangkitkan ingatan
akan kekerasan dan menimbulkan aksi kekerasan lebih lanjut (Imparsial,
2017). Kerusuhan sosial di Manokwari dan Sorong adalah bukti nyata
reaksi keras pihak-pihak yang tersudutkan akibat provokasi kebencian
dari kelompok dominan.
*Menelusuri Akar Kebencian*
Kebencian yang telah melekat dalam bangsa kita adalah masalah yang
sangat kompleks. Ada beberapa alternatif pendekatan untuk menelusuri
asal-usul dari kebencian yang telah berurat-akar di dalam tubuh bangsa kita.
Pendekatan yang pertama berangkat pada asumsi bahwa rasa kebencian itu
muncul sebagai reaksi dari penyingkiran dan penyiksaan yang pernah
dilakukan oleh kelompok tertentu di luar diri kita. Penjelasan tentang
mengapa sebagian dari bangsa kita sangat membenci "asing" dan "aseng"
adalah contoh yang relevan untuk memahami pendekatan ini.
Kebencian tersebut jelas dipicu oleh penyingkiran terhadap kelompok yang
selama ini kita anggap sebagai identitas asli Indonesia (pribumi).
Walaupun sebetulnya, penggolongan masyarakat antara pribumi dan
non-pribumi ini juga didasarkan atas kebijakan rasial dan diskriminatif
pemerintah kolonial Belanda.
Di era kolonialisme, posisi pribumi berada dalam strata yang paling
bawah, di mana posisi teratas adalah bangsa Eropa disusul dengan etnik
Cina. Dalam banyak hal, rasa kebencian akibat peminggiran ini justru
lebih besar di kalangan muslim. Sebab dalam konteks sejarahnya,
masyarakat muslim terutama kalangan pengusaha, tersingkirkan dari mata
rantai perniagaan yang didominasi non-pribumi (Eropa dan Cina).
Untuk itulah mengapa di era tersebut dibentuk Serikat Dagang Islam
(SDI), kemudian menjadi Serikat Islam (SI), yang awalnya difungsikan
untuk melindungi kepentingan kelas pengusaha muslim (Hadiz, 2015). Pada
awal pemerintahan Sukarno, usaha untuk mengangkat posisi kelas pengusaha
muslim dan pribumi pernah diupayakan melalui program benteng, meskipun
gagal.
Memasuki era Orde Baru, terutama ketika negara kita kelimpahan "durian
runtuh" dari /boom/ harga minyak, justru Presiden Soeharto
mengistimewakan kelas pengusaha Cina dan beberapa pengusaha "elite
pribumi" yang dekat dengannya melalui pemberian berbagai lisensi dan
monopoli (Robison, 1986). Lagi-lagi kelas pengusaha muslim dan pribumi
akar rumput harus minggir, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk
mewujudkan aspirasi kelompoknya dalam kepentingan ekonomi. Tidak hanya
itu, aspirasi kelompok yang merasa pribumi dan muslim dalam kebijakan
negara juga cenderung tersingkir.
Maka tidak heran jika hari ini suara-suara sumbang "anti-asing" dan
"anti-aseng" menjadi sangat kuat. Kebencian, terutama dari kelompok
muslim dan yang merasa pribumi, kepada kelompok "asing" dan "aseng" itu
tak pelak berbuntut pada kekerasan rasial dan identitas.
Ironisnya, cara-cara penyingkiran yang dilakukan oleh Belanda terhadap
Indonesia juga dilakukan oleh Indonesia terhadap Papua. Dengan alasan
yang sama antara Indonesia terhadap Belanda, kebencian masyarakat Papua
terhadap Indonesia juga begitu kuat. Maka, kemunculan kelompok separatis
seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) akan mendapat penjelasan yang logis.
Kemudian, jika orang-orang menjadi benci terhadap kelompok tertentu
karena terpinggirkan, mengapa kebencian juga bisa tumbuh di antara
orang-orang yang tidak terpinggirkan oleh kelompok tertentu di luar
dirinya? Masyarakat di Jawa tidak pernah tersingkirkan oleh masyarakat
Papua, tapi kenapa ada sebagian di antaranya yang membenci?
Peneliti LIPI Amin Mudzakkir (2017) menyebut kebencian berasal dari
pembelahan kultural di masa lalu. Namun, argumen Ariel Heryanto (2018)
yang menyebut bahwa kebencian muncul dari angan-angan atau obsesi atas
"keaslian" sebetulnya lebih tepat. Yang dimaksud obsesi ini adalah
keinginan bagi masyarakat untuk menyangkal elemen lain yang dianggap
bukan bagian dari identitas tertentu.
Dalam pendekatan ini, kebencian muncul karena sebagian masyarakat di
Jawa merasa "lebih NKRI" dibanding dengan Papua yang cenderung
"anti-NKRI". Oleh sebab itulah jargon seperti "NKRI harga mati, yang
tidak suka, keluar saja!" adalah bentuk angan-angan untuk membentuk
identitas NKRI yang murni. Dia akan menyangkal kelompok-kelompok yang
tidak terdefinisi sebagai NKRI seperti komunisme, khilafah, dan --dalam
beberapa kasus-- Papua, karena akan mencemari keaslian identitas NKRI.
Tetapi menurut saya, tentu saja angan-angan itu tidak akan muncul begitu
saja. Sebab, kebencian adalah sesuatu yang dikonstruksikan dengan
sengaja, terutama oleh kekuasaan negara. Apa yang dilakukan pemerintah
Orde Baru untuk menyingkirkan kelompok anti-Pancasila dan anti-NKRI
adalah bukti nyata bagaimana kebencian itu ditanam di dalam tubuh bangsa
Indonesia.
Penanaman kebencian pada era Presiden Soeharto memberikan bekas yang
mendalam kepada bangsa kita hari ini. Obsesi akan "keaslian" menguat
lagi saat isu intoleransi di negeri ini juga menguat. Saat angan-angan
untuk menjaga "kemurnian" NKRI menguat, sensitivitas kita terhadap
perilaku yang bertentangan dengan prinsip NKRI yang "murni" juga akan
tinggi.
Oleh sebab itu, penggerebekan massa terhadap asrama mahasiswa Papua di
Surabaya adalah ledakan peristiwa akibat obsesi akan "keaslian" NKRI
bagi sebagian orang. Begitupun kebencian terhadap Papua, dan stereotip
yang melekat di dalamnya, adalah manifestasi sejarah yang memang sudah
dibentuk lebih dari setengah abad yang lalu.
*Bukan Masalah Sepele*
Pada akhirnya saya ingin menunjukkan bahwa peristiwa kerusuhan di
Manokwari, atau konflik-konflik sosial di berbagai daerah yang pernah
terjadi, sejatinya adalah puncak gunung es semata. Oleh sebab itu, hanya
dengan saling memaafkan saja tidak akan pernah menyelesaikan persoalan.
Peristiwa serupa bisa muncul sewaktu-waktu, dan bisa juga mereda
sewaktu-waktu. Jangan sampai kita menganggap bahwa konflik sosial yang
ada di dalam negara ini adalah peristiwa yang terjadi tiba-tiba. Ada
kebencian yang tertanam, dan sampai pada titik paling bahaya, adalah
ledakan besar dalam bentuk peristiwa genosida (Mahoneey, 2010). Tentu
kita tidak mau sejarah buruk ini sampai terjadi (lagi).
Lebih penting lagi, jika bangsa ini membiarkan rasa kebencian terhadap
kelompok tertentu, akan membuat kelompok yang dibenci semakin merasa
tertindas, makin tidak percaya diri, dan rasa takut yang semakin besar
(Greenwalt, 1995). Jika situasi ini dibiarkan terus-menerus, ketimpangan
sosial akan semakin lebar. Kelompok-kelompok yang dominan akan semakin
dominan, sedangkan kelompok yang dibenci akan semakin tersingkirkan.
*Grady Nagara*/Manajer Program NEXT Policy
/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*