https://mediaindonesia.com/read/detail/255225-sepi-ing-pamrih-rame-ing-gawe
*Minggu 25 Agustus 2019, 00:20 WIB *
/*Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe*/
*Ono Sarwono | Opini <https://mediaindonesia.com/opini>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/255225-sepi-ing-pamrih-rame-ing-gawe>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe
https://mediaindonesia.com/read/detail/255225-sepi-ing-pamrih-rame-ing-gawe
via @mediaindonesia>
Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/08/db3d71e9c789413d64fbd151a5184c76.jpg>
/MI/
Pigura
HARI-HARI menjelang pengumuman Kabinet Indonesia Kerja II, kita disuguhi
‘keusrekan’ sejumlah elite parpol tertentu yang terang-terangan meminta
jatah jabatan menteri kepada presiden terpilih.
Mereka (parpol) ialah yang merasa telah berjasa bahasa yang kerap
digunakan ‘sudah berkeringat’, bahkan ada dengan diksi ‘berdarah-darah’
memenangkan capresnya. Ada yang terang-terangan meminta ‘upah’ jabatan
kursi menteri dengan jumlah tertentu. Ada pula yang sampai berteriak
minta jatahnya harus paling banyak.
Nalarnya, tidak ada yang salah dengan semua itu karena tujuan berpolitik
memang berebut kekuasaan (jabatan). Namun, dari aspek moral, tentu
nurani masing-masing yang bisa menjawabnya. Hanya, bila secara
konstitusional, ramai-ramai meminta jatah, bahkan bernuansa mendesak,
itu tentu mengusik hak prerogatif presiden. Etikanya, mesti kita menjaga
dan menghormati kemerdekaan serta kenyamanan presiden dalam memilih para
pembantunya.
*Anak pertama Basudewa*
Sikap menghormati hak pemimpin memilih orang-orang kepercayaannya
seperti itu pernah dicontohkan Raden Udawa dalam dunia pakeliran.
Kesatria dari Dusun Widarakandang ini pantang mengemis imbalan kedudukan
atau jabatan atas jasanya ikut mengantarkan jagonya menjadi raja.
Jabatan patih yang pada akhirnya ia emban, itu bukan keinginannya,
melainkan semata-mata keputusan merdeka sang raja.
Kisah Udawa dari sudut (nilai) itu memang jarang dipentaskan. Ini
barangkali karena Udawa nyaris tidak pernah menjadi tokoh sentral dalam
banyak lakon. Namun, bila menilik dedikasi, pengabdian, dan
pengorbanannya bagi peradaban, sepak terjangnya pantas dicontoh.
Udawa orang kampung tulen. Sejak kecil hingga dewasa, ia bermukim di
Dusun Widarakandang yang masih dalam kedaulatan Negara Mandura. Ia
tercatat sebagai salah satu putra Demang Antagopa-Ken Sagopi.
Namun sesungguhnya, Udawa bukan golongan pidak pedaraan (warga biasa),
melainkan berdarah biru. Ia putra Raja Mandura Prabu Basudewa dari
hubungan gelapnya dengan Ken Sagopi.
Ceritanya, ketika Negara Mandura di bawah rezim Prabu Basukunti, istana
memiliki seorang abdi dalem perempuan bernama Ken Yasuda. Ia perigel
mengurus pekerjaan rumah tangga. Namun, karena memiliki bakat seni yang
baik, ia diangkat menjadi penembang dan penari istana.
Selain piawai dalam olah seni suara dan menari, Yasuda juga berparas ayu
dan memiliki tubuh yang indah semampai. Itulah yang membuat banyak
lelaki jatuh hati padanya, termasuk putra mahkota Raden Basudewa. Maka
itu, di mana Yasuda manggung, di sana Basudewa pasti ada menikmatinya.
Mungkin karena perbedaan kasta atau alasan lain, Basudewa tidak pernah
menyatakan cinta kepada Yasuda. Pun sebaliknya. Namun, akibat Basudewa
kerap tidak kuasa ngampah (mengendalikan) nafsunya, terjadilah hubungan
suami-istri di luar nikah entah sudah berlangsung berapa kali hingga
akhirnya Yasuda mengandung.
Basudewa jadi bingung karenanya. Ia waswas kenistaannya diketahui publik
sehingga merunyamkan nama baik dirinya, pun sang raja dan seluruh
keluarga besarnya. Lebih dari itu, posisinya sebagai ahli waris takhta
Negara Mandura, juga bisa terancam.
Ia lalu diam-diam merancang guna menutupi aibnya, yakni menyembunyikan
Yasuda. Basudewa kemudian menemui teman seperguruannya, Antagopa, di
Dusun Widarakandang. Ia meminta tolong Antagopa agar bersedia menikahi
Yasuda. Karena kesetiaannya kepada teman dan calon raja, Antagopa
menyanggupi. Padahal, ia sudah bersumpah wadat sehingga pernikahan itu
hanyalah samudana (penyamaran).
Untuk menyembunyikan jejak, nama Ken Yusuda diganti menjadi Ken Sagopi.
Hingga harinya tiba, lahirnya jabang bayi laki-laki dari rahim Sagopi
yang kemudian diberi nama Udawa. Ketika bayi lahir, Basudewa telah
diangkat menjadi raja Mandura menggantikan bapaknya.
*Runtang-runtung*
Waktu terus berjalan. Udawa bukan lagi menjadi anak tunggal
Antagopa-Sagopi. Dalam keluarga itu kemudian ada Kakrasana, Narayana,
dan Bratajaya, putra-putri sah Basudewa. Ketiga anak itu dititipkan di
Widarakandang agar digulawentah Antagopa dengan nilai-nilai kampung.
Masih ada sejumlah nama lain dalam dokumen keluarga sebagai anak
pasangan suami-istri ‘jadi-jadian’ tersebut, yakni Larasati (anak
Aryaprabu-Sagopi) serta Pragota, dan Adimanggala (anak Ugrasena-Sagopi).
Aryaprabu dan Ugrasena ialah adik kandung Basudewa.
Di antara anak-anak dalam keluarga Atagopa-Sagopi, pergaulan Udawa
dengan Narayana klop, sehati. Keduanya selalu runtang-runtung
(bersama-sama) ke mana pun mereka dolan. Ketika tidur pun, mereka suka
berada dalam satu lincak (dipan), pun soal selera makan dan minum.
Keeratan keduanya terus terjaga hingga remaja, menjelang dewasa. Tatkala
Narayana gemar pergi meninggalkan rumah dan masuk keluar kampung hingga
berlama-lama. Udawa selalu menemani, mendampingi, dan mengawal adiknya
itu ke mana pun pergi, berapa pun lamanya.
Maka itu, ketika Narayana dimarahi Antagopa, Udawa juga kebagian.
Namun, betapa pun keras bapaknya mengomeli, Udawa tidak pernah membantah
atau membela diri. Ia lapang dada menerima setiap kemarahan, bahkan
hukuman yang dijatuhkan Antagopa pada dirinya karena mengombyongi Narayana.
Namun, satu hal, yakni larangan pergi berlama-lama menemani Narayana
tidak ia indahkan. Ini karena ia tahu bahwa Narayana meninggalkan rumah
bukan mblayang (pergi tanpa tujuan), melainkan bertirakat, menjalani
laku prihatin, dan juga berguru serta mencari ilmu.
Udawa menyadari, meski dirinya dari garis darah lebih tua daripada
Narayana, ia merasa kalah dalam segala hal, terutama pada aspek
kecerdasan lahir dan batin. Ia melihat ada tanda-tanda gaib bahwa
Narayana bakal menjadi wong agung, orang besar.
Apa pun yang diinginkan, diucapkan, dan yang dilakukan Narayana, Udawa
senantiasa mengamini, manut. Bahkan, tertanam dalam dirinya rasa tulus
ikhlas mempertaruhkan jiwa raganya demi Narayana.
Moral berpolitik
Kodratnya, Narayana menjadi raja di Negara Dwarawati. Kekuasaan itu ia
genggam setelah berhasil menjadi duta dewa melenyapkan Raja Dwarawati
Prabu Yudakalakresna. Sebelumnya, Yudakalakresna menjajah Kahyangan
Jonggring Saloka tanpa bisa dihalau para dewa.
Ketika Narayana mendapat anugerah dewa dan bergelar Prabu Kresna itu,
Udawa pun senang. Namun, ia merasa tidak etis meminta jabatan sebagai
‘upah’ dirinya telah berkeringat menjadikan Narayana.
Kresna pun tahu akan balas budi. Ia memberikan jabatan patih kepada
Udawa. Malah, karena Kresna sering meninggalkan istana untuk
melaksanakan misinya sebagai titisan Bathara Wisnu, yakni memayu
hayuning bawana, Udawa kerap mendapat tugas mengurus negara.
Dalam konteks politik, Udawa telah menunjukkan etika perjuangan. Ia tahu
diri dan menerapkan moral berpolitik. Kiprahnya yang demikian itu
menjadikan Udawa sebagai satu dari sedikit kesatria yang teguh memegang
ajaran mulia sepi ing pamrih rame ing gawe, minim berharap imbalan,
banyak bekerja. (M-2)
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/255225-sepi-ing-pamrih-rame-ing-gawe>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe
https://mediaindonesia.com/read/detail/255225-sepi-ing-pamrih-rame-ing-gawe
via @mediaindonesia>