https://tirto.id/kami-orang-papua-lama-lama-punah-cAYU


Pdt. Benny Giay: "Kami Orang Papua Lama-Lama Punah"

Baca selengkapnya di artikel ""Kami Orang Papua Lama-Lama Punah"",
https://tirto.id/cAYU


leh: Arbi Sumandoyo - 1 Desember 2017 Dibaca Normal 4 menit Salah seorang
paitua paling dihormati di Papua meminta pemerintahan Indonesia berdialog
secara bermartabat untuk membahas keadilan politik bagi Papua. tirto.id -
Sejak Papua Barat diserahkan ke pemerintah Indonesia lewat mekanisme
internasional pada 1963, dan penentuan integrasi politik secara paksa pada
1969, sejak itulah kekerasan dan pengerahan militer ke Papua tak pernah
surut. Terbaru, intensitas kontak senjata di kawasan tambang PT Freeport
Indonesia di Tembagapura, Mimika, yang diklaim otoritas Indonesia sebagai
"penyanderaan", menjadi sorotan media di tengah iklim buruk pers bebas dari
dan ke Papua.


Pendeta Benny Giay, salah seorang paitua yang paling dihormati oleh rakyat
Papua, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (KINGMI) di Tanah Papua,
angkat bicara mengenai insiden tersebut. Ia juga bicara solusi penyelesaian
masalah di Papua di mana “pemerintah Indonesia harus duduk berbicara”
dengan rakyat Papua.


Di akhir pembicaraan, dan menjelang bulan perayaan Natal, Pendeta Benny
menitip doa: “Saya berdoa supaya anak-anak Indonesia yang baru-baru,
Mama-Mama Papua yang baru lahir, akan lebih baik. Saya percaya kepada Mama
Jawa, Mama Sumatera, dan Mama-Mama yang lain dan Mama-Mama Papua yang masih
ada sekarang lahir.


Asal mereka berpikir kritis, mereka tidak akan mewarisi budaya politik
orang Indonesia yang penuh dengan rekayasa. Menari-nari dengan
koruptor-koruptor. Mereka harus mendapat pendidikan yang humanis,
pendidikan yang menyapa sesama. Bukan berdasarkan agama, warna kulit,
rambut, tapi berdasarkan kemampuan.


" Berikut wawancaranya kepada Arbi Sumandoyo via telepon, Kamis kemarin.


*Bagaimana pendapat Anda mengenai penyelesaian untuk Papua? *


Pertama, saya kira, negara ini, pemerintah ini, negara ini, rakyat
Indonesia ini, sedang hanyut. Saya jelaskan: sedang hanyut dalam ideologi
negara yang di awang-awang. Hidup di negara yang tidak manusiawi. Maksud
saya: pemerintah ini, rakyat Indonesia ini, sedikit manusiawi, sedikit kaki
masih di bumi, bisa berefleksi. Dia bisa ada gerakan untuk memeriksa diri
50 tahun.


Harusnya, kamu tidak memikirkan Papua, kamu bunuh saja, kami tidak bisa
revolusi. Sudah 50 tahun, setelah peristiwa 65 itu. Jadi akar persoalan
mengenai Papua itu sebenarnya ada di situ. Negara ini, rakyatnya,
koran-korannya, medianya tidak mendidik. Tidak mendengar suara-suara kritis
dari Pramoedya Ananta Toer.


Suara-suara kritis bisa menjadi masukan. Saya kira orang Indonesia
ini—aduh—lebih baik kami pisah karena tidak bisa berpikir kritis terhadap
sejarah. Pemimpin-pemimpin menipu. Kemarin saja di Timika, semua orang
percaya bahwa delapan orang menyandera 1.300 orang. Itu bagaimana? Jadi
Indonesia itu ada di Jawa, ada di rakyat Indonesia, ada di pemerintah,
semua tipu oleh orang yang dikendalikan tentara, oleh militer. Bagaimana?


Akhirnya semua ikut ditipu, semua dikendalikan. Kapan rakyat ini, koran ini
dapat berpikir kritis? Jadi rakyat Indonesia itu harus merevolusi.
Penyelesaian itu ada di Jakarta. Kami di Papua tidak akan ngomong, tidak
akan berbicara. Kami sudah komit, saya kira rakyat kami sudah komit.


Kami melihat pendidikan kami tidak baik, kesehatan kami tidak baik, kami
disingkirkan, kami menerima dan menghormati itu semua. Kami tidak apa-apa
mati karena harga diri. Kami hidup di negara yang—aduh—kemanusiaan tidak
ada.


Semua bermula dari omong kosong. Semua yang dikendalikan oleh
pikiran-pikiran yang bodoh itu. Kepentingan-kepentingan tentara,
kepentingan golongan, kepentingan partai—mana untuk rakyat?


*Menurut Anda, apa yang terjadi di Tembagapura kemarin?*


Saya kira itu biasa: uang pembangunan ada, uang keamanan ada. Itu kami di
Papua sudah tahu. Uang pengamanan sudah ada, kemudian bikin masalah di
Freeport. Bagi kami itu sudah jelas. Jadi laporan beberapa orang itu
dibesar-besarkan, sampai tadi saya bilang: Semua penipu habis.


Beberapa waktu lalu saya sudah bilang: semua koran ditipu dengan istilah
"Kelompok Kriminal Bersenjata." Polisi dan tentara mencari keuntungan, jadi
pakai istilah KKB.


*Anda memandang kehadiran Freeport seperti apa?*


Saya kira itu menjadi akar persoalan. Jadi, menurut kami, karena
konflik-konflik ini, kami kemudian jadi rajin membaca sejarah. Kami duga,
akar persoalannya orang Papua tidak diberi pendapat dari awal. Saya baca
sejarah. Saya kira Indonesia lewat Perjanjian New York tanggal 15 Agustus
1962 hanya dikasih kepercayaan untuk mengamidministrasi. Biarkan orang
Papua untuk menentukan pendapatnya pada 1969. Indonesia harus siapkan.


Rakyat Papua itu menentukan: apakah mau merdeka atau bergabung dan tinggal
di Indonesia? Titik. Hanya itu. Tapi banyak orang-orang diarahkan untuk
memilih Indonesia. Bagi kami, itu sudah salah. Kami orang Papua lama-lama
punah. Jadi bagi kami, semua akar-akar persoalan itu ada di situ.


*Jadi Anda mau menjelaskan muara persoalan Papua ada di Pepera?*


Akar persoalan itu adalah penentuan pendapat rakyat (Pepera). Jadi, tahun
1960, Belanda harus angkat kaki. Belanda bilang ke PBB: Tidak. Kalau
begitu: arahkan orang Papua untuk memilih, menentukan pendapat. Penentuan
pendapat itu, kan, ada aturannya, masyarakat harus disiapkan. Indonesia
masuk tahun 1963—itu untuk menyerang Papua. Nah, tahun 1969 baru orang
Papua disuruh menentukan dan ini terjadi dengan paksaan.


Jadi, pemerintah harus duduk berbicara. Saya sudah bertemu presiden
beberapa kali. Pertama, presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Desember
2011. Kedua, pada 26 Desember 2014, bertemu dengan Pak Jokowi.


Saya kasih tahu: Pak, kenapa dengan Aceh, kenapa dengan GAM, NKRI bisa
duduk dan berdialog? Kenapa Papua tidak bisa?


"Tidak, tidak, NKRI tidak bisa,"—presidennya tidak bisa duduk dan berdialog
dengan orang Papua.


Mereka selalu bilang: Orang Papua mau berbicara dengan siapa? Sekarang
sudah ada ULMWP (United Liberation Movement for West Papua), kenapa orang
Indonesia tidak bisa berbicara dan duduk dengan orang Papua?


Kami meminta keadilan. Apa jawaban SBY dan Jokowi ketika Anda menemui
keduanya? Kalau Pak Jokowi itu diam, tidak bicara banyak, hanya banyak
menipu dan banyak pencitraan. Ini menandakan takut sama tentara, sama
polisi, karena tidak banyak bicara soal kekerasan.


Kalau SBY bilang banyak ultranasionalis di Jakarta yang tidak mau dialog,
tidak mau komunikasi. Dia mau bikin Jakarta sentris. Berpusat di Jakarta
terus dan mereka mau Jakarta yang atur terus.


Soal lain: akar persoalan itu, saya kira, orang-orang menganggap warga
kulit hitam ini warga negara kelas dua. Coba Anda baca komentar-komentar
soal gubernur pertama Papua, Frans Kaisiepo. Itu orang Papua pertama
pendukung NKRI dan gambarnya ditaruh pada uang kertas sepuluh ribu rupiah.
Orang-orang anggap dia—komentar-komentar di Facebook—aduh, kami malu. Itu
Mama Kaisiepo harus tanggapi itu. Saya mau kasih tahu anaknya. Bapaknya
dulu pelopor integrasi NKRI; sekarang dianggap "kera."


Kenapa orang seperti Frans Kaisiepo dianggap kera kemudian bukan dianggap
pahlawan? Kasih tahu kami, to!


Kami memang sudah dari sang pencipta, sang sejarah, sudah menciptakan kami.
Hitam keriting itu ciptaan Tuhan. Sekarang Kaisiepo jadi pahlawan integrasi
dan Indonesia ambil Papua dan sekarang dia dituding balik sebagai monyet.
Saya kira, bangsa ini, negara ini, pemerintah ini, koran-koran ini,
masyarakat sipil, gereja-gereja ini, aneh.


*Baca juga: Mengenang Perjuangan untuk Papua dalam Selembar Rp10 Ribu
Kenapa aneh? *


Saya kira mereka sudah tidak ada nurani. Ras dan kemanusiaan serta HAM
tidak ada dalam opini-opini kemiliteran. Opini-opini sang diktator. Kita
harap Indonesia berubah. Berubah karena dirinya sendiri. Saya sedang baca
laporan-laporan tahun 1964 yang dibawa ke Jawa untuk diindoktrinasi.
Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sukarno kasih pengantar di situ soal
Pancasila. Tetapi pelaksanaan tidak ada. Jadi negara ini juga bukan hanya
untuk presiden, menteri-menteri; tapi juga suku Badui, orang Ahmadiyah,
orang Syiah, semua milik kita negara ini.

*Upaya-upaya apa untuk bicara dengan pemerintah soal Papua? *


Kita terus meminta untuk duduk berbicara—tapi, ya sudah. Yang jelas, media
sosial ada sekarang. Kami orang Papua juga banyak masalah, karena kami
bukan malaikat, Indonesia juga banyak masalah, kami bukan suci dan kami
juga harus koreksi diri. Kami sudah lama meminta dialog untuk duduk
berbicara.


*Bagaimana Anda melihat upaya pemerintahan Jokowi untuk membangun Papua
yang diklaim memperhatikan Papua? *


Saya pikir pembangunan yang Indonesia bikin di Papua itu dilandaskan atas
Pancasila, minus sila pertama ("ketuhanan yang Maha Esa"), minus sila kedua
("kemanusiaan yang adil dan beradab"), dan minus sila kelima ("keadilan
sosial"). Sehingga (minus-minus ini) melahirkan nasionalisasi Papua.


*Kembali soal peristiwa terbaru di Tembagapura, Anda memandangnya
bagaimana? *


Saya kira memang ada masalah bahwa Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi
Papua Merdeka (TPN-OPM) membuat kegiatan di situ. Kami juga berkelahi
dengan bahasa kami. Kami juga tolak militer karena bikin kami kacau. Tapi
ya itu sudah: negara ini juga jalan sendiri. Ini semua, kan, kita tidak
atur. Sudah banyak kepentingan. Semua kekerasan di Papua. Dan kita juga
salah untuk tidak melihat insiden-insiden ini secara kritis.


Kalau angkat senjata itu kasih kesempatan kepada tentara dan polisi untuk
betul-betul memanfaatkan. Kami juga curiga, mereka-mereka yang ikut
kegiatan TPN-OPM juga ada kerja sama dengan TNI dan Polri.


*Bagaimana soal klaim dari otoritas Indonesia? *


Tidak ada penyanderaan di Tembagapura. Saya punya jemaat di situ. Saya cek.
Menurut saya, itu hanya bahasa politik bikin heboh saja.


Soal peristiwa kemarin di Tembagapura, kami ada kenangan yang sama. Bulan
Desember, tanggal 25, tahun 1994. Itulah yang melahirkan Agustus 1995.
Uskup Agung membuat pelaporan pelanggaran HAM di Timika. Jadi kami marah
itu kemarin kepada kelompok bersenjata.


(Catatan: Peristiwa ini dikenal "Tragedi Timika", Uskup Agung Jayapura,
Mgr. H.F.M. Munninghoff, O.F.M. membuat laporan pelanggaran HAM yang
disampaikan ke Komnas HAM di Jakarta. Baca di sini.)


Jadi sebetulnya Anda tidak sepakat ada gerakan senjata di Papua? Iya.
Sekarang jalannya sudah ada: jalan perundingan. Dialog. Sudah bermartabat.


Baca juga artikel terkait HAK ASASI MANUSIA atau tulisan menarik lainnya
Arbi Sumandoyo (tirto.id - Politik) Reporter: Arbi Sumandoyo Penulis: Arbi
Sumandoyo Editor: Fahri Salam

Baca selengkapnya di artikel ""Kami Orang Papua Lama-Lama Punah"",
https://tirto.id/cAYU

Kirim email ke