https://republika.co.id/berita/pxdlp5328/alasan-investor-pilih-vietnam-emketimbang-emindonesia


*Alasan Investor Pilih Vietnam **Ketimbang **Indonesia*

*Jumat 06 Sep 2019 03:46 WIB*

*Rep: M Nursyamsi/ Red: Indira Rezkisari*



*Kebijakan dan regulasi di Vietnam memberikan kepastian usaha yang lebih
baik.*

*REPUBLIKA.CO.ID <http://REPUBLIKA.CO.ID>, JAKARTA -- Direktur Eksekutif
Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai
Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu melakukan evaluasi kebijakan dan
regulasi sektoral yang menghambat investasi di bidang energi, menyusul
pernyataan Jokowi yang kecewa investasi yang pindah dari Cina masuk ke
Vietnam bukan ke Indonesia.*

*Fabby menyarankan pemerintahan Jokowi melakukan introspeksi dan evaluasi
atas kebijakan dan peraturan di tingkat sektoral yang dibuat beberapa tahun
terakhir. Kebijakan itu justru membuat risiko investasi di Indonesia
meningkat dan mengakibatkan investor menunda berinvestasi di Indonesia.*

*Menurut Fabby, minimnya Foreign Direct Investment (FDI) di bidang energi
dalam tiga tahun terakhir karena kebijakan pemerintah yang tidak konsisten
dan tidak mempertimbangkan persepsi risiko investor. "Selain itu ada
ketidakselarasan antara regulasi teknis dengan kebijakan utama juga membuat
investor ragu-ragu," ujar Fabby di Jakarta, Kamis (5/9).*

*Dalam konteks investasi di sektor energi, lanjut Fabby, sejumlah investor
energi terbarukan sebenarnya bersiap berinvestasi di Indonesia pada 2014
hingga 2016. Pada saat itu sejumlah investor melihat peluang investasi
dengan disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 79/2014 yang mematok
target energi terbarukan 23 persen. Pengalaman Indonesia dengan adanya
kebijakan feed in tariff sebelumnya dinilai sebagai faktor positif oleh
investor.*

*Sayangnya, kata Fabby, adanya pergantian Menteri ESDM pada 2016 sebanyak
empat kali dan diikuti dengan lahirnya berbagai kebijakan Menteri ESDM yang
berkaitan dengan energi terbarukan melalui Permen ESDM No. 10/2017, 12/2017
jo 50/2017, Permen No. 49/2018 dan peraturan lainnya yang bertolak belakang
dengan kebijakan sebelumnya, justru mematikan minat investasi dari
investor-investor asing dan domestik.*

*Menurut analisa IESR, peraturan-peraturan ini justru meningkatkan
ketidakpastian, menambah risiko, ketidakpastian proses bisnis untuk
merealisasikan proyek yang memberikan tingkat pengembalian investasi yang
wajar. Serta membuat lembaga keuangan enggan membiayai proyek-proyek
tersebut.*

*"Hasil dari regulasi yang dibuat Menteri ESDM seperti yang kita lihat
pertumbuhan jumlah pembangkit energi terbarukan di era 2014-2019 lebih
rendah dari periode sebelumnya," lanjutnya.*

*Itu pun, lanjutnya, berasal dari proyek-proyek yang sudah disiapkan
sebelum 2014 dan 2015, yang kemudian berhasil COD dalam 1dan 2 tahun
belakangan ini. Sementara itu proyek-proyek baru justru mengalami kendala
bankability.*

*Dengan begitu, kata Fabby, investor-investor yang awalnya melirik
Indonesia sejak 2016 menjadi pindah ke Vietnam. Dengan kebijakan dan
regulasi yang lebih menarik, Vietnam mengalami booming dalam investasi
energi terbarukan. Fabby menilai kualitas kebijakan dan regulasi di Vietnam
memberikan kepastian usaha yang lebih baik, proses bisnis yang lebih jelas
dan tingkat pengembalian ekonomi proyek yang lebih baik dibandingkan proyek
di Indonesia. Menurut Fabby, faktor-faktor ini membuat investor lebih
nyaman berinvestasi di Vietnam ketimbang di Indonesia.*

*Hasilnya, sejak 2017 hingga Juni 2019, energi surya bertumbuh menjadi 4,5
GW. Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Angin (wind power) dari 0 menjadi 228
MW pada akhir 2018. Saat ini pemerintah Vietnam sedang mempersiapkan proyek
baru untuk mengejar target kapasitas PLTB menjadi 800 MW pada 2020.*

*IESR mendesak pemerintah Jokowi melakukan evaluasi yang serius atas
kebijakan dan regulasi di bidang energi untuk merevitalisasi minat
investor. Khususnya regulasi-regulasi di bidang energi terbarukan.*

*Hasil perhitungan IESR menunjukkan untuk mencapai target energi terbarukan
sebanyak 23 persen dari bauran energi pada 2025, dibutuhkan investasi
sebesar 70-120 miliar dolar AS, di mana sekitar 80-85 persen dari kebutuhan
investasi ini diperkirakan berasal dari investor swasta domestik dan asing.*

*"Jika presiden serius menarik investasi energi terbarukan yang berasal
dari Foreign Direct Investment (FDI) yang dibutuhkan Indonesia saat ini,
maka perlu ada upaya untuk merombak total arah kebijakan dan regulasi serta
instrumen pendukung untuk energi terbarukan," kata Fabby menambahkan.*

Kirim email ke