Nezar Patria· 2 September ·  Amarzan Ismail Hamid Loebis, atau kerap dipanggil 
Amarzan Loebis, alias Lian Tanjung, adalah seorang penyair, wartawan, pegiat 
kebudayaan, yang pada tubuhnya memuat bagasi aneka peristiwa: perseteruan 
politik kebudayaan Indonesia 1950an, dan tragedi 1965 yang menjadikannya 
seorang tapol di Pulau Buru.

Generasi milenial hari ini pasti banyak tak mengenalnya. Tapi bayangkanlah dulu 
ada seorang pemuda 17 tahun rajin menulis puisi dari sebuah kota kecil di 
Tanjung Balai, dan mengirimkan puisinya ke Lentera, lembar kebudayaan koran 
Bintang Timur di Jakarta, yang diasuh oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta 
Toer. Sajak-sajak Amarzan muda, saat itu, memberi warna lain dalam sastra. Pram 
lalu meliriknya. Dia pindah ke Jakarta, dan dari sana karirnya sebagai penyair 
kian berkilau.

Pernah bekerja di Harian Rakyat milik partai komunis, dan Amarzan menampilkan 
warna karya berbeda dari umumnya artikel di koran itu. Laporannya tentang aksi 
sepihak buruh di Jawa Tengah pada masa 1960an konon menjadi salah satu laporan 
terbaik koran itu dengan menampilkan drama manusia dalam aksi massa. Puisinya 
sarat komitmen sosial, tapi jauh dari gaya pemujaan seperti sajak berstempel 
partai, semisal “di wajah ketua kulihat bulan”. Amarzan menulis kenestapaan 
petani, dan gairah perjuangan mencari keadilan. Dalam puisinya “Pertjakapan” 
(1963) misalnya, dia menulis: “… diruangruang pengadilan, nunung/ paman dan 
bibibibi tani/ dibungkamkan dari tuntutan/ setapak tanah/ … / disini kami 
bekerdja/ disini kami hidup/ disini kami bertahan!”

Tentu saja ada banyak cerita, dan sengketa, seputar tragedi 1965. Tapi sisihkan 
dulu bagian politik yang gelap, dan bayangkanlah pemuda Tanjung Balai itu kelak 
harus membayarnya dengan kehilangan kegembiraan masa muda sebagai tahanan 
politik di Pulau Buru. Terlalu getir dikisahkan apa yang terjadi pada dirinya: 
aneka siksaan dan penistaan martabat manusia, dan temuan ajaib di penjara untuk 
bertahan hidup. “Otak butuh protein, dan itu ada pada kucing dan tikus,” 
katanya suatu kali sambil bercerita tentang cara menangkap hewan itu dan 
menjadikannya santapan agar bertahan hidup di pulau itu.

Saya tak tahu, kelak ketika dia sudah bebas, adakah kegemarannya pada makanan 
menjadi semacam kompensasi atas masa lalu yang kelam?

Pada suatu kali, sekitar 2005, ketika dia menjadi guru bagi banyak para 
wartawan muda Tempo setelah media itu bangkit kembali dari breidel Orde Baru, 
Amarzan kerap mengajak saya makan di Sabtu pagi. Itu adalah hari di mana semua 
naskah akhir sudah harus masuk ke percetakan. Sebagai redaktur desk nasional, 
saya sering kebagian menulis cover story, dan Amarzan adalah editornya. Saya 
terbiasa bergadang dari Jumat malam tembus Sabtu pagi. Hampir saban Sabtu pagi 
pula, Amarzan mengajak saya makan bakmi ayam di sebuah kedai kegemarannya, 
Bakmi Megaria. Rupanya dia pelanggan setia di kedai yang dinding putihnya telah 
kusam, dan di langit-langitnya menempel kipas tua yang warnanya buram dikikis 
usia.

“Kau lihat si bos itu. Betapa dia meracik mi dengan khidmat. Bertahun-tahun dia 
lakukan begitu, dengan kenikmatan yang sama”, ujarnya sambil menunjuk si 
juragan bakmi mengaduk tepung dan menjadikannya sulur-sulur adonan yang 
panjang. Uap panas rebusan mi menyebar di ruang itu. Saya melihat Amarzan 
bersemangat menyantap bakmi ayam plus baso ikan, dengan cara unik: dia meracik 
sesendok kecap, sedikit cuka, dan sambal cabai segar di piring kecil. Baso ikan 
itu dibelah dengan sendok, dan dengan sumpit dia mencelupkannya ke sambal 
racikan.

Amarzan menyantapnya dengan perlahan, membelah baso dengan hati-hati, dan tentu 
saja dia melakukannya dengan cerita yang mengalir, dan selama itu pula saya 
menyerap berbagai ilmu darinya. Bagi saya ini adalah semacam “kursus tambahan” 
di luar kelas menulis reguler tiap Selasa bersamanya di Tempo. “Kau tahu Pram 
itu bukan pengarang biasa. Dia pujangga”, kata dia suatu kali tatkala saya 
bertanya tentang Pram. “Apa bedanya penulis dengan pujangga?”, saya bertanya. 
Kata Amarzan, pujangga melihat dunia dengan cara yang berbeda.

“Misalnya begini,” kata Amarzan memulai kuliahnya. “Suatu kali Pram memuji 
pengemudi Bajaj sebagai hero di tengah jalan raya.. Kita mungkin jengkel dengan 
sopir Bajaj yang nyelonong seenaknya, kadang dengan satu kaki diangkat ke 
jendela. Tapi tidak bagi Pram. Bajaj itulah jagoannya. Hanya mereka yang berani 
melawan bis-bis kota yang besar, dan melakukannya dengan gagah, dan bebas”. 
Saya terkesima sehingga tak sadar mi di mangkuk Amarzan telah tandas, sementara 
di mangkuk saya malah tersisa.

Amarzan adalah penyintas tragedi politik yang sepertinya enggan membawa kisah 
pahit dari pertengahan Abad Ke-20 itu ke pembuka Abad 21. Dia seorang humoris 
yang pintar menertawakan nasib buruk. Setelah keluar dari Pulau Buru, Amarzan 
bertemu kembali dengan rekan-rekannya, termasuk mereka yang menjadi lawan 
Lekra, para pendukung Manikebu. Amarzan seperti sudah berdamai dengan zamannya, 
dan juga dirinya sendiri.

Goenawan Mohamad, penyair yang juga penandatangan Manikebu yang dulu lawan bagi 
Amarzan, kelak berkawan akrab dengannya. Kemarin pagi, Amarzan berpulang pada 
usia 78 tahun. Dia meninggal setelah menderita dampak stroke lebih dari dua 
tahun. Di pemakaman, berdiri Goenawan, dan dia memberikan pidato yang tenang 
dan juga mengharukan. “Kepergian Amarzan meninggalkan lubang besar. Sebuah 
lubang yang saya kira tak mungkin bisa diisi kembali,” kata Goenawan.

Di atas galian liang lahat berkumpul semua keluarga, sahabat, karib, dan para 
muridnya. Mata saya basah melihat putra Amarzan, Batara Lubis, melantunkan azan 
di dalam liang itu persis di kepala jenazah ayahnya. Suaranya bergetar oleh 
kesedihan. Doa-doa dirapalkan. Dan saya teringat dialog kecil tentang Tuhan 
dengan Amarzan tiga tahun silam. “Tuhan tak pernah meninggalkan kita, manusia 
lah yang kerap melupakan Tuhan”, ujarnya.

Saya berdoa agar dia mendapat tempat terbaik di keabadian, berbisik selamat 
jalan, dan berharap pada sore itu arwahnya belum pergi terlalu jauh.

Kirim email ke