*Kalau investor tak lirik RI, lantas  harus dilakukan striptease supaya
tidak hanya lirik tetapi banyak yang nonton dan bernafsu?*

https://bisnis.tempo.co/read/1245140/investor-tak-lirik-ri-ekonom-sebut-masalah-ada-di-pemerinta
<https://bisnis.tempo.co/read/1245140/investor-tak-lirik-ri-ekonom-sebut-masalah-ada-di-pemerintah>


*Investor Tak Lirik RI, Ekonom Sebut Masalah Ada di Pemerintah*

Reporter:
*Fajar Pebrianto*

Editor:
*Rahma Tri*

Minggu, 8 September 2019 13:19 WIB


<https://statik.tempo.co/data/2019/07/08/id_853989/853989_720.jpg>*Presiden
Joko Widodo memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat,
Senin 8 Juli 2019. Pada Sidang Kabinet Paripurna tersebut presiden mengajak
para pemangku kepentingan untuk menyelesaikan program kerja yang belum
tuntas, menaikkan neraca perdagangan serta meningkatkan investasi. ANTARA
FOTO/Wahyu Putro A*


TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core)
Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan salah satu persoalan dalam investasi
di Indonesia sebenarnya ada di pemerintah sendiri, yaitu soal kepastian
kebijakan. Menurut dia, poin ini menjadi faktor mendasar yang menjadi
pertimbangan bagi investor
<https://bisnis.tempo.co/read/1244901/gubernur-bi-undang-investor-jepang-tanamkan-modal-di-indonesia>
untuk
menanamkan modal di suatu negara.

“Bisa jadi dari sisi *tax incentives *tidak buruk dibandingkan negara lain,
tapi kepastian kebijakan, apakah mendukung industri, ini yang paling
memberatkan,” kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Ahad, 8 September
2019. Menurut dia, Indonesia masih memiliki citra yang buruk dari sisi
konsistensi kebijakan.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi  <https://www.tempo.co/tag/jokowi>baru-baru
ini memang mengungkapkan kekesalan kepada para menterinya. Ia mengeluhkan
rumitnya mengurus perizinan di Indonesia sehingga membuat investor memilih
negara tetangga.

Jokowi pun meminta para menteri mulai menyederhanakan peraturan yang
memperlambat perizinan. Pasalnya, Jokowi menerima catatan dari Bank Dunia
bahwa dari 33 perusahaan yang keluar dari Cina, sebagian besar memilih
untuk berinvestasi di Vietnam, Kamboja, dan Malaysia. "Enggak ada yang ke
Indonesia," kata dia dalam rapat terbatas yang digelar siang ini, Rabu, 4
September 2019 di Kantor Presiden, Jakarta.


Faisal melanjutkan, ketika kebijakan pemerintah tidak konsisten dan tidak
memiliki kepastian, maka daya kompetitif Indonesia di mata investor akan
berkurang, dibandingkan negara lain. Sebab, kondisi ini mengindikasikan
bahwa investasi di Indonesia berbiaya tinggi.

Faktor kepastian kebijakan ini dinilai lebih utama, ketimbang persoalan
upah. “Kalau upahnya mahal, tapi sepanjang kebijakannya pasti, aturan
turunannya konsisten, investor pasti akan lebih tertarik,” kata dia.. Faisal
mencontohkan Malaysia yang memiliki upah pekerja lebih tinggi dibanding
Indonesia, namun lebih menarik secara investasi.

Pernyataan Faisal ini diperkuat dengan data dari Bank Dunia tahun 2019.
Lembaga ini merilis, Indeks Kemudahan Berusaha atau Ease of Doing Business
(EoDB) di Malaysia maupun Vietnam, lebih baik ketimbang Indonesia. Malaysia
berada di peringkat 15 dari 190 negara. Sementara Vietnam di peringkat 69,
dan Indonesia di peringkat 73 dalam kemudahan menjaring investor
<https://bisnis.tempo.co/read/1245112/finlandia-dan-swedia-lirik-investasi-energi-di-aceh>
..

*FAJAR PEBRIANTO*

Kirim email ke