----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Terkirim: Minggu, 8 September 2019 
19.24.22 GMT+2Judul: [GELORA45] InvestorTak Lirik RI, Ekonom Sebut Masalah Ada 
di Pemerintah
     

 
Kalau investor tak lirik RI, lantas  harus dilakukan striptease supaya tidak 
hanya lirik tetapi banyak yang nonton dan bernafsu?

https://bisnis.tempo.co/read/1245140/investor-tak-lirik-ri-ekonom-sebut-masalah-ada-di-pemerinta




InvestorTak Lirik RI, Ekonom Sebut Masalah Ada di Pemerintah
 
Reporter: 
 
 Fajar Pebrianto
 
 Editor: 
 
 Rahma Tri

Minggu,8 September 2019 13:19 WIB




PresidenJoko Widodo memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, 
JawaBarat, Senin 8 Juli 2019. Pada Sidang Kabinet Paripurna tersebutpresiden 
mengajak para pemangku kepentingan untuk menyelesaikanprogram kerja yang belum 
tuntas, menaikkan neraca perdagangan sertameningkatkan investasi. ANTARA 
FOTO/Wahyu Putro A



 
 TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) 
Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan salah satu persoalan dalam investasi di 
Indonesia sebenarnya ada di pemerintah sendiri, yaitu soal kepastian kebijakan. 
Menurut dia, poin ini menjadi faktor mendasar yang menjadi pertimbangan bagi 
investor untuk menanamkan modal di suatu negara.
 
 “Bisa jadi dari sisi tax incentives tidak buruk dibandingkan negara lain, tapi 
kepastian kebijakan, apakah mendukung industri, ini yang paling memberatkan,” 
kata Faisal saat dihubungi di Jakarta, Ahad, 8 September 2019. Menurut dia, 
Indonesia masih memiliki citra yang buruk dari sisi konsistensi kebijakan.
 
 Presiden Joko Widodo atau Jokowi baru-baru ini memang mengungkapkan kekesalan 
kepada para menterinya. Ia mengeluhkan rumitnya mengurus perizinan di Indonesia 
sehingga membuat investor memilih negara tetangga.
 
 Jokowi pun meminta para menteri mulai menyederhanakan peraturan yang 
memperlambat perizinan. Pasalnya, Jokowi menerima catatan dari Bank Dunia bahwa 
dari 33 perusahaan yang keluar dari Cina, sebagian besar memilih untuk 
berinvestasi di Vietnam, Kamboja, dan Malaysia. "Enggak ada yang ke Indonesia," 
kata dia dalam rapat terbatas yang digelar siang ini, Rabu, 4 September 2019 di 
Kantor Presiden, Jakarta.
  
 
 
  
 
   
 Faisal melanjutkan, ketika kebijakan pemerintah tidak konsisten dan tidak 
memiliki kepastian, maka daya kompetitif Indonesia di mata investor akan 
berkurang, dibandingkan negara lain. Sebab, kondisi ini mengindikasikan bahwa 
investasi di Indonesia berbiaya tinggi. 
 
 Faktor kepastian kebijakan ini dinilai lebih utama, ketimbang persoalan upah. 
“Kalau upahnya mahal, tapi sepanjang kebijakannya pasti, aturan turunannya 
konsisten, investor pasti akan lebih tertarik,” kata dia. Faisal mencontohkan 
Malaysia yang memiliki upah pekerja lebih tinggi dibanding Indonesia, namun 
lebih menarik secara investasi.
 
 Pernyataan Faisal ini diperkuat dengan data dari Bank Dunia tahun 2019. 
Lembaga ini merilis, Indeks Kemudahan Berusaha atau Ease of Doing Business 
(EoDB) di Malaysia maupun Vietnam, lebih baik ketimbang Indonesia. Malaysia 
berada di peringkat 15 dari 190 negara. Sementara Vietnam di peringkat 69,  dan 
Indonesia di peringkat 73 dalam kemudahan menjaring investor. 
 
 FAJAR PEBRIANTO



    

Kirim email ke