Data Ekonomi China Angkat Harga Minyak
CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 07:50 WIB
Bagikan :
Data Ekonomi China Angkat Harga MinyakIlustrasi harga minyak.
(REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia --*Harga minyak
<https://www.cnnindonesia.com/tag/harga-minyak>* dunia kembali menguat
pada perdagangan pekan lalu. Penguatan dipicu data ekonomi *China
<https://www.cnnindonesia.com/tag/china>*yang membaik, penurunan tajam
stok minyak mentah Amerika Serikat (AS), serta komentar bank sentral AS
The Federal Reseves (*The Fed
<https://www.cnnindonesia.com/tag/the-fed>*) yang akan mengeluarkan
kebijakan tepat untuk menjaga ekspansi ekonomi di Negeri Paman Sam.
Dilansir dari Reuters, Senin, harga minyak mentah Brent pada perdagangan
Jumat (6/9) lalu ditutup di level US$61,54per barel atau menguat 1,8
persen pada minggu lalu. Kenaikan mingguan harga Brent terjadi selama
empat pekan berturut-turut.
Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas
Intermediate (WTI) sebesar 2,6 persen menjadi US$56,52per barel. Pada
Jumat (6/9) lalu, Gubernur The Fed Jerome Powell menyatakan The Fed
memiliki kewajiban untuk menggunakan instrumennya untuk menopang
perekonomian dan itu yang mereka akan lakukan.
Pasar keuangan sendiri telah membaca sinyal pemangkasan suku bunga acuan
AS lebih lanjut setelah The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25
basis poin pada Juli lalu. Direktur Utama Blue Line Futures Bill Baruch
menilai komentar Powell yang mengindikasikan penurunan suku bunga lebih
lanjut menjadi salah satu faktor yang akan membantu mendorong penawaran
harga di pasar jelang akhir pekan.
Lihat juga:
Modal Asing Diramal Angkat IHSG di Awal Pekan
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190909061221-92-428619/modal-asing-diramal-angkat-ihsg-di-awal-pekan/>
Pekan lalu, harga WTI juga mendapatkan dorongan tambahan setelah Badan
Administrasi Informasi Energi AS pada Kamis (6/9) lalu menyatakan
persediaan minyak mentah AS merosot tajam pada pekan lalu, hampir dua
kali lipat dari ekspektasi.
Setelah laporan itu dirilis, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2
persen. Namun, harga kembali turun secara perlahan karena kekhawatiran
investor terhadap kemungkinan negosiasi dagang antara AS-China bakal
membuahkan hasil.
Sengketa dagang yang berlarut antara AS dan China, konsumen minyak
terbesar kedua, telah menekan harga minyak. Selain itu, perang dagang
juga menekan proyeksi permintaan minyak global. Dalam catatan yang
dikutip Reuters, Analis Minyak UBS Giovanni Staunovo memperkirakan
pertumbuhan permintaan minyak cuma bisa tumbuh 900 ribu barel per hari
(bph) pada 2019 dan 2020.
Pada Kamis (5/9) lalu, AS dan China sepakat untuk menggelar pembicaraan
dagang tingkat tinggi pada Oktober mendatang. Pemberitaan mengenai hal
tersebut menimbulkan harapan perang dagang yang menahan pertumbuhan
ekonomi global akan berakhir.
"Jika tensi perdagangan tereskalasi lebih jauh, permintaan minyak dapat
melemah lebih jauh, dan menekan harga lebih rendah," ujar Staunovo.
Staunovo memperkirakan Brent akan diperdagangkan di kisaran US$55per
barel tahun depan. Sejumlah analis lainnya memperkirakan pertumbuhan
permintaan minyak turun menjadi sekitar 1 juta bph dari sebelumnya 1,3
juta bph.
"Ini posisi yang rentan. Kekhawatiran terbesar adalah kekhawatiran
terkait pertumbuhan permintaan dan itu merupakan fungsi dari perang
dagang (AS-China)," ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger.
Kendati demikian, sejak tahun lalu, harga minyak dunia mampu terkerek
berkat kesepakatan pemangkasan produksi yang dilakukan Organisasi Negara
Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Lebih lanjut,
Baker Hughes mencatat perusahaan minyak AS memangkas jumlah rig
pengeboran minyak mentah pada pekan lalu menjadi 738 rig, terendah
selama hampir dua tahun terakhir. Sebagai catatan, jumlah rig merupakan
indikator produksi di masa mendatang.
Lihat juga:
Ubah Asumsi Makro, Penerimaan Negara di 2020 Bertambah Rp11 T
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190906154157-532-428191/ubah-asumsi-makro-penerimaan-negara-di-2020-bertambah-rp11-t/>
*(sfr/agt)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com