Senin 16 September 2019, 16:00 WIB
Kolom
Hilangnya Sensitivitas terhadap Bencana
Asap
Jannus Siahaan - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/doktor.janussiahaan>
Jannus Siahaan
<https://connect.detik.com/dashboard/public/doktor.janussiahaan>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4708411/hilangnya-sensitivitas-terhadap-bencana-asap?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.174889762.1656564517.1568657965-1645609288.1568657965#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4708411/hilangnya-sensitivitas-terhadap-bencana-asap?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.174889762.1656564517.1568657965-1645609288.1568657965#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4708411/hilangnya-sensitivitas-terhadap-bencana-asap?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.174889762.1656564517.1568657965-1645609288.1568657965#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4708411/hilangnya-sensitivitas-terhadap-bencana-asap?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.174889762.1656564517.1568657965-1645609288.1568657965#>
Hilangnya Sensitivitas terhadap Bencana Asap Aksi simpatik selamatkan
Riau dari bencana asap (Foto: Grandyos Zafna)
*Jakarta* -
Tahun pertama masa pemerintahan Jokowi-JK, Provinsi Riau juga dilanda
asap yang akut, nyaris tak berbeda dengan yang terjadi pada hari-hari
belakangan ini. Kala itu, tahun 2015, Bank Indonesia (BI) menyatakan
kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau
berdampak negatif luar biasa terhadap perekonomian daerah, khususnya
kepada tujuh sektor usaha yang terkena imbas langsung.
Secara umum, ketujuh sektor tersebut adalah hasil penyempitan survei
untuk mempermudah memahami sektor-sektor apa saja yang benar-benar
terpukul oleh kabut asap. Tujuh sektor tersebut adalah transportasi,
jasa pengiriman, perdagangan, penyedia akomodasi jasa makanan dan
minuman, jasa pendidikan dan kesehatan; perkebunan, konstruksi dan
properti; perbankan.
Menurut BI, kajian tersebut merupakan hasil survei cepat terhadap pelaku
usaha di Kota Pekanbaru dan Dumai selama September hingga 1 Oktober
2015. Responden terdiri dari perusahaan, pemerintah daerah, serta
asosiasi pelaku usaha seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin),
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo), Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi
Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia
(Asperindo), serta kalangan perbankan.
Kerugian paling besar ada pada sektor transportasi dan jasa pengiriman.
Pada sektor transportasi, kabut asap menyebabkan terganggunya aktivitas
Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, bahkan beberapa kali
aktivitas penerbangan lumpuh. Akibatnya, penyedia jasa penerbangan
mengalami penurunan omzet mencapai lebih dari 50 persen pada bulan
September dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (/year on year/).
Berdasarkan survei tersebut, penurunan omzet diperkirakan lebih dari Rp
200 miliar untuk penjualan tiket pesawat selama September 2015 dan
penurunan lebih dari Rp 1,5 miliar untuk operasional Bandara. Angka
tersebut belum termasuk handling fee dan jasa lainnya yang terkait. Dan
pahitnya lagi, sampai dengan bulan Oktober tahun itu diperkirakan
penurunan omzet lebih dari 60%.
Kemudian, pada sektor jasa pengiriman juga telah terjadi gangguan
pengiriman barang dari dan menuju Riau sehingga berdampak terhadap
penurunan omzet jasa pengiriman barang yang mencapai 90%. Hal itu
terjadi karena didorong oleh meningkatnya biaya distribusi sampai 60%
akibat pengalihan rute pengiriman barang melalui Padang, Provinsi
Sumatera Barat.
Selain itu, penurunan omset juga didorong oleh komplain penalti atas
keterlambatan pengiriman barang, terutama untuk produk makanan dan
obat-obatan, serta penalti atas pengiriman atau billing statement
perbankan. Imbasnya tentu akan memaksa perusahaan untuk melakukan
efisiensi dengan mengurangi pengeluaran dari sisi tenaga kerja.
Misalnya, perusahaan jasa kurir yang berkemungkinan akan merumahkan
pegawai mereka untuk sementara sampai kondisi normal.
Untuk sektor perdagangan, penyedia akomodasi dan makan-minum, kala itu
juga terjadi penurunan omzet restoran mencapai 30%, kemudian pembelian
makanan di pinggir jalan turun 30% dan perdagangan di pasar tradisional
juga turun mencapai 40-50%. Sebab utamanya adalah keengganan masyarakat
keluar rumah atau menurunnya aktivitas masyarakat yang akhirnya mengikis
permintaan.
Dan untuk penjulan makanan tradisional khas Riau misalnya, penurunan
omzet mencapai 70-80% yang disebabkan oleh minimnya penerbangan sehingga
sedikit tamu yang datang ke Pekanbaru. Usaha perhotelan juga mengalami
penurunan tingkat hunian sebesar 20% untuk hotel bintang empat dan lima,
serta penurunan lebih dari 40% untuk hotel bintang tiga ke bawah. Selain
itu, menurunnya kinerja usaha pemasok kebutuhan hotel lebih dari 40%
menyebabkan terganggunya pasokan barang-barang ke hotel yang membuat
tergelincirnya kinerja hotel dan usaha turunannya. Sektor ini juga
berpotensi merumahkan pegawai di toko dan penyedia oleh-oleh yang
ujungnya akan mengerek tingkat pengangguran.
Menurut BI ketika itu, analisis dampak ekonomi kabut asap ini masih
bersifat kajian awal alias datanya belum final karena belum semua
kuisioner yang dikirim kepada responden diisi dengan lengkap. Artinya,
hasilnya bisa saja lebih buruk dari angka yang dirilis BI dan
sektor-sektor yang kena dampak boleh jadi lebih dari tujuh sebagaimana
disebutkan di atas.
Pun dari sisi kesehatan, hasil rilis data dari BNPB juga menyebutkan
lebih dari setengah juta jiwa menderita penyakit ISPA akibat bencana
kabut asap, yakni sekitar 505.527 jiwa. Sebagian penderita telah
mendatangi rumah singgah yang disediakan BNPB, namun sebagian besar
lainnya memilih untuk berdiam di dalam rumah.
Mengapa saya menggunakan data pada 2015? Karena pada bencana asap kali
ini, yang sejatinya tak kalah dibanding 4 tahun lalu, pemerintah,
terutama BI, tak lagi melakukan kajian serupa. Sehingga untuk
mendapatkan gambaran implikatif dari bencana asap tahun 2019, saya
mencoba merefleksikanya dari data pada 2015. Dari gambaran tersebut,
tentu bisa dibayangkan relasi ekonominya terhadap daerah-daerah di Riau
dan daerah selain Riau saat ini. Angka kerugiannya pastilah jauh lebih
besar.
Peningkatan implikasi tersebut berlaku juga di daerah terimbas lainnya,
seperti Sumbar, Jambi, Sumut, Bengkulu, dll. Belum lagi jika diperluas
ke pulau lainnya seperti Kalimantan, tentu akan semakin melebar nominal
dan persentase kerugiannya. Artinya, kabut asap akan menjadi variabel
domestik tambahan yang akan ikut menjadi stimulus perlambatan ekonomi
nasional di tahun ini dan mendatang karena terjadi pengurangan aktivitas
ekonomi komersial di satu sisi dan menurunnya produktivitas masyarakat
akibat ancaman berbagai penyakit di sisi yang lain.
Dan sangat disayangkan, sampai saat ini masyarakat belum melihat aksi
gerak cepat dari pemerintah untuk meredakan titik api yang sudah
berjumlah ribuan. Sensitivitas pemerintah Jokowi sesi kedua terhadap
bencana asap tampak semakin menipis. Saat bencana asap pada 2015, Vox
Populi Center bersedia melakukan survei untuk membuktikan bahwa tingkat
ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah dalam menangani bencana
kabut asap justru semakin membesar.
Ketika itu, Populi Center membagi survei ke daerah terdampak asap dan
tidak terdampak asap. Hasilnya, sebanyak 50.8% responden di daerah tidak
terdampak asap merasa tidak puas dan sangat tidak puas dengan kinerja
Jokowi dalam menangani bencana asap. Adapun di daerah terdampak asap,
sebanyak 60.8% responden menyatakan hal yang sama, yakni tidak puas dan
sangat tidak puas. Dan lagi-lagi disayangkan, bukan saja sensitivitas
pemerintah yang berkurang, di tataran masyarakat sipil juga dilanda hal
yang sama, mengalami penurunan kepekaan.
Pendek kata, apapun justifikasi pemerintah sampai hari ini, faktanya ada
empati ekonomi politik yang hilang dari penguasa istana dan kalangan
masyarakat sipil terkait bencana kabut asap kali ini. Apakah rasa
kemapanan politik di tubuh kekuasaan penguasa istana telah membuat
penghuninya lupa bahwa sebagian paru-paru negara kita sedang terbakar?
*Jannus TH Siahaan* /doktor Sosiologi Universitas Padjadjaran/
*(mmu/mmu)*
*
*
*
*
*
*
*
*