Ini Alasan WWF Indonesia Usulkan Status Darurat Karhutla
Reporter:
Antara
Editor:
Yudono Yanuar
Rabu, 18 September 2019 07:02 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Kapolri Jenderal Pol Tito
Karnavian meninjau penanganan kebakaran lahan di Desa Merbau, Kecamatan
Bunut, Pelalawan, Riau, Selasa, 17 September 2019. Sebanyak 5.600
personel telah datang ke Riau yang dikepung asap untuk memadamkan
Karhutla. ANTARAPresiden Joko Widodo (kanan) didampingi Kapolri Jenderal
Pol Tito Karnavian meninjau penanganan kebakaran lahan di Desa Merbau,
Kecamatan Bunut, Pelalawan, Riau, Selasa, 17 September 2019. Sebanyak
5.600 personel telah datang ke Riau yang dikepung asap untuk memadamkan
Karhutla. ANTARA
*TEMPO.CO*,*Jakarta*-WWF Indonesia
<https://www.tempo.co/tag/wwf-indonesia>mengusulkan Indonesia
darurat karhutla guna menyelamatkan hutan yang tersisa. Usulan ini
melihat kebakaran hutan dan lahan meluas di Sumatera dan Kalimantan
menimbulkan kabut asap pekat.
Direktur Konservasi WWF-Indonesia Lukas Adhyakso dalam diskusi Indonesia
Darurat Karhutla dan Upaya Penyelamatan Hutan yang Tersisa di Jakarta,
Selasa, 17 September 2019, mengajak kepedulian semua pihak untuk
memadamkan api mengingat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin parah.
Berdasarkan data hasil monitoring Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, sekitar 300.000 hektare hutan dan lahan sudah terbakar.
Ads byKiosked <http://kiosked.com/>
Penyebab kebakaran, menurut dia, sangat kompleks. Selain karena cuaca
kering, kondisi alam yang buruk, kawasan yang begitu luas harus dijaga
juga karena masih maraknya pembukaan lahan secara ilegal.
WWF-Indonesia, lanjutnya, sudah merasa kewalahan menangani kebakaran
hutan dan lahan yang terjadi di sekitar fasilitas dan lokasi program
konservasi yang dijalankan di Sumatera dan Kalimantan, contohnya seperti
di Hutan Lindung Gambut Londerang di Jambi, sekitar Taman Nasional Bukit
Tigapuluh di Riau, sekitar Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, sekitar
Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah.
Kawasan-kawasan hutan tersebut, ia mengatakan selama ini mereka sudah
coba pertahankan untuk tidak terbakar, namun pihaknya kewalahan. Masih
banyak wilayah lain yang saat ini juga masih terbakar.
“Kita perlu tingkatkan upaya bersama, dan supaya ini menjadi darurat
karhutla Indonesia. Kita butuh semua pihak padamkan api bersama, dan ke
depan perlu ditingkatkan kepedulian semua pihak agar kejadian seperti
ini tidak berlanjut,” kata Lukas.
Direktur Policy and Advocacy WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan
berdasarkan data yang diperoleh Eyes of the Forest dalam tujuh hari
terakhir, karhutla terlihat terjadi di wilayah konsesi maupun
nonkonsesi. Kebakaran hutan dan lahan sejauh ini terjadi di wilayah Area
Penggunaan Lain (APL) bahkan di wilayah yang merupakan area konservasi.
ADVERTISEMENT
Area-area yang juga banyak terbakar terpantau terjadi di sekitar atau
bersebelahan dengan konsesi, lanjutnya.
Karhutla, menurut Aditya, terjadi di lahan mineral maupun gambut, dan
sama-sama terbakar yang diduga untuk pembukaan lahan. Kondisi yang
membedakan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dengan negara lain
yakni, lahan dibakar dalam konteks kesengajaan untuk kemudian dikuasai
lahannya.
“Yang terjadi di Brazil sekarang ini mirip. Mereka membakar untuk dibuat
ranch,” ujar Aditya.
Namun demikian, ia menegaskan upaya untuk memadamkankarhutla
<https://www.tempo.co/tag/darurat-karhutla>di area gambut menjadi
persoalan karena sangat sulit untuk dipadamkan. Jikapun lapisan atas
padam, terkadang di bagian bawah masih menyala dan berpotensi menyebar
semakin luas.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com