Ada beberapa analisa menarik a.l. ttg saling hubungan anggota DPRD dan
DPR dengan Bank, maupun masalah Revisi UU KPK.



1.

Rocky Gerung:

Mandat Rakyat Digadaikan ke Bank

Published on 18 September 2019
by Bisma Rizal

Jakarta, Realitarakyat.com – Ada pendangkalan etis publik dalam politik
di Indonesia. Salah satunya, penggadaian surat keputusan terpilihnya
anggota DPRD dan DPR ke perbankan.

Demikian disampaikan pengamat politik Rocky Gerung dalam seminar
nasional “Menggugat Keabsahan UUD 1945 versi 2002”, di Gedung Djuang,
Jakarta, Rabu (18/9/2019).

“Kita rakyat memilih anggota DPR kemudian memberikan mandatnya ke
anggota terpilih, tetapi sekarang mandatnya digadai ke Bank,” kata
Rocky.

Bagi Rocky inilah kekacauan negara. “Karena publik etisnya tidak
berjalan,” kata dia.

Yang aneh dalam fenomena itu, perbankan menerima pengajuan pinjaman
tersebut. “Lebih aneh lagi bank menerima itu, karena bank tahu bahwa
dia akan merampok APBD sehingga diberikan kredit. Ini ada pendangkalan
etis ke publik,” kata Rocky.

Tidak sampai di situ, bagi Rocky pendangkalan itu makin menjadi karena
sikap Presiden Joko Widodo yang mendahulukan keputusan terlebih dahulu
ketimbang kajian.

“Saat dia memutuskan perpindahan Ibukota Negara ke Kalimantan Timur dia
ajak seluruh kampus di Indonesia untuk mengkaji dampak sosial, politik,
hukum dan lingkungan. Ini kan terbalik, harusnya kajian dulu baru
keputusan, bukan keputusan dulu baru kajian.” [ipg]



2.

Refly Harun: 

Delegitimasi Pimpinan KPK Terpilih Hanya Akan Menyenangkan Koruptor

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 , 09:09:00 WIB | 
LAPORAN: RMOL NETWORK


RMOLJabar. DPR telah tetapkan Irjen Firli Bahuri sebagai satu dari
lima pimpinan baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Berita Terkait

Disisi lain, Irjen Firli merupakan sosok kontroversial yang tidak
diinginkan para pegiat anti korupsi. Mantan Kapolda Sumatera Selatan
itu bahkan dituding sebagai capim bermasalah lantaran saat masih
menjadi deputi penindakan dianggap pernah melakukan pelanggaran kode
etik.

Bagi pakar hukum tata negara Refly Harun, berbagai kecaman pada
pimpinan terpilih justru hanya akan menyenangkan para koruptor. Dia
mengajak semua pihak untuk bersatu padu mendukung pimpinan KPK terpilih.

Delegitimasi pimpinan KPK terpilih hanya akan menyenangkan koruptor
karena membuat KPK tidak bisa bekerja efektif ke depan,” terangnya
dalam akun Twitter pribadi, Jumat (13/9).

Atas alasan itu juga, Refly menyampaikan ucapan selamat kepada Firli
cs. Dia mengingatkan bahwa amanah yang diemban akan dimintai
pertanggungjawaban di dunia dan akhirat.

Mudah-mudahan awan korupsi tidak makin pekat di langit nusantara,”
pungkasnya seperti dimuat Kantor Berita Politik RMOL.[son] 


3.

Rocky Gerung: 

Orkestra Pelemahan KPK Dipimpin Jokowi

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah
dirundung duka. Lembaga antirasuah ini coba dilemahkan.

Harga diri KPK dengan ciri independensinya seakan tak lagi menjadi
identitasnya. Hal utama penyebab tumbangnya KPK berasal dari serangan
yang bertubi-tubi yang dilakukan DPR.

Ribuan masyarakat dari beragai elemen di Indonesia, pun menolak revisi
Undang-Undang KPK.  Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan cara
publik membatalkan revisi UU KPK

“Tekanan publik bisa membatalkan itu, karena ini soal kepentingan
reformasi yang betul-betul sangat otentik yaitu pemberantasan korupsi.
Jadi mustinya presiden tanya publik bukan tanya DPR. Karena DPR itu
adalah kumpulan politisi,” kata Rocky di depan awak media usai
memberikan kuliah umum di Universitas Bosowa (Unibos) Jl. Urip
Sumihardjo, Selasa (17/9/2019).

Rocky Gerung menganggap Presiden seharusnya menjadi tameng KPK, bukan
justru sebagai pemain orkestra.

“Sikap presiden yang tidak mau tahu justru itu itu dasarnya. Kenapa
saya katakan tadi itu orkestra? Karena presiden sendiri memimpin
pelemahan KPK melalui DPR,” ungkap Rocky Gerung.

Adapun empat materi yang irevisi, yaitu terkait kelembagaan, KPK
merupakan rumpun eksekutif yang dalam pelaksaannya bebas dari pengaruh
kekuasaan manapun.

Kedua, Penghentian penyidikan dan penuntutan. KPK berwenang
menghentikan penyidikan dan penuntutan apabila tidak selesai dalam 2
tahun.

Ketiga soal penyadapan. Penyadapan boleh dilakukan KPK setelah mendapat
izin tertulis dari Dewan Pengawas dalam kurun waktu 1X24 Jam

Keempat mengenai status kepegawaian. Pegawai KPK merupakan anggota
Korpri sesuai dengan undang-undang.

(Andi/Riel)


4.

Rocky Gerung Deklarasikan Hastag Save KPK

18 September 2019 | 5:02

Oleh: Akbar Nur Qodri

Makassarinside.com, Makassar–Pengamat Politik dari Universitas
Indonesia Rocky Gerung mendeklarasikan hastag save KPK, saat memberikan
kuliah umum di balai sidang 45 Universitas Bosowa (Unibos), Selasa
(17/9/2019).

Pada kesempatan itu, pria yang dikenal sangat kritis terhadap penguasa,
menyampaikan beberapa poin fundamental otak manusia dalam berfikir
kritis.

Dia mengatakan, bahwa manusia akan memiliki pemikiran kritis jika ada
lawan untuk berdebat atau sesuatu hal yang mampu menjadi pemicu
perdebatan.

“Pada dasarnya semua manusia memang memiliki dimensi kritis. Tetapi
pikiran akan menjadi sebuah pikiran, apa bila kita memiliki lawan
pemikiran,” katanya.

Dia melanjutkan, sebuah toga di dunia kampus merupakan dambaan bagi
seluruh mahasiswa. Karena pada dasarnya, toga merupakan pondasi awal
bagi mahasiswa untuk melakukan pengabdian bagi masyarakat.

“Maka karena kampus sudah percaya jika mahasiswa telah berpikir,
diberilah toga sebagai tanda mahasiswa mahasiswa dapat melanjutkan
pemikirannya melalui pengabdian pada masyarakat,” pumgkasnya.(ani)



5.

Gelar Tabur Bunga, YLBHI : Simbol Kematian KPK

Diterbitkan :
Redaktur -
Selasa, 17/09/2019


Inisiatifnews – Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI),
Asfinawati menyampaikan bahwa aksi tabur bunga dan renungan malam yang
digelar oleh pihaknya bersama dengan Wadah Pegawai KPK, adalah sebuah
simbol bahwa hari ini KPK telah wafat.

“Ini adalah simbolisasi dimatikannya KPK oleh DPR dan Presiden sejak
2002 dibuat,” kata Asfinawati saat menggelar konferensi pers di depan
gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/9/2019).

Menurutnya, DPR dan Pemerintah Pusat telah sengaja melakukan
persekongkolan jahat untuk membunuh fungsi KPK sebagai lembaga
pemberantasan tindak pidana korupsi. Bahkan ia juga menyebut para nama
Capim KPK hasil seleksi Pansel Capim KPK adalah orang-orang yang
bermasalah.

“Ada persekongkolan DPR dan Presiden mematikan KPK setelah
dimasukkannya nama-nama yang bermasalah sebagai Ketua KPK,” ujarnya..

Dalam kesempatan yang sama, Direktur LBH Jakarta, Arif Maulana juga
menyampaikan hal senada. Ia menilai bahwa disahkannya revisi UU Nomor
30 tahun 2002 tentang KPK adalah penghianatan terhadap reformasi.

“Saya ingin katakan bahwa kita harus terus menjaga harapan, dan ingat
bahwa hari ini Presiden, pemerintah RI (dan) DPR telah menghianati
amanat reformasi,” kata Arif.

“Amanat reformasi adalah berpesan berantas KKN,” imbuhnya.

Dan ia juga menilai bahwa revisi UU KPK hasil inisiatif DPR tersebut
bukan untuk menguatkan KPK, melainkan melemahkan lembaga antirasuah itu.

“Bukan penguatan tapi pelemahan KPK dan dibunuh dengan menghapus
kewenangan penting,” tutupnya.

Dalam aksi tersebut, bebarapa elemen dari aliansi masyarakat sipil dan
pejuang antikorupsi hadir untuk memberikan dukungan dan bela sungkawa
terhadap peristiwa tersebut.

Mereka pun tampak menangis saat nyanyi lagu “Gugur Bunga” bersama-sama
di akhir acara tabur bunga. []




6.

Rocky Gerung: Tuhan Tidak Berdaulat

Diterbitkan : Redaktur -
Rabu, 18/09/2019

Inisiatifnews – Filsuf, Rocky Gerung menyatakan bahwa kedaulatan harus
kembali dimiliki oleh rakyat. Dan bahasa kedaulatan untuk rakyat harus
dihapuskan dalam perspektif naratif publik.

“Jadi kedaulatan bukan untuk rakyat tapi punya rakyat,” kata Rocky
Gerung di Gedung Joeang 1945, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (18/9/2019).

Ia menyatakan bahwa kedaulatan bukan milik pemerintah, bukan milik
Presiden atau penguasa, bukan milik raja atau milik siapapun. Namun
kedaulatan adalah milik rakyat.

Dan Rocky juga merujuk pada regulasi di UUD 1945 di mana kedaulatan ada
di tangan rakyat.

“Kedaulatan itu punya rakyat, bukan punya raja, negara, Tuhan atau
apapun. Ayat 2 pasal 1 UUD 1945, negara berdasarkan kedaulatan rakyat,
itu prinsipnya,” ujarnya.

Karena dasar UUD 1945 itulah, Rocky sampai menyatakan bahwa Tuhan
sekalipun tidak berdaulat terhadap konstitusi.

“Tuhan berdaulat nggak dalam konstitusi? tidak. Karena Tuhan tidak ikut
pilkada. Tuhan berdaulat pada manusia dan individu, tapi dalam negara
tidak berdaulat,” tegasnya.

Selain itu, akademisi dan intelektual Indonesia itu menegaskan bahwa
saat ini kedaulatan rakyat tidak berada di tangan rakyat sebagai
pemilik sah secara konstitutif. Maka dari itu, ia menyerukan agar
kedaulatan rakyat harus direbut kembali.

“Kenapa kita harus kembalikan kedaulatan rakyat, karena dirampas oleh
kedaulatan partai dan asing,” tuturnya.

Perjuangan untuk mengembalikan lagi kedaulatan rakyat tidak bisa
dilakukan masing-masing individu rakyat, akan terapi harus ada kesamaan
perjuangan antar rakyat Indonesia. Karena sama halnya dengan kebebasan
yang harus diperjuangkan.

“Begitu juga kebebasan. Kebebasan bukan hadiah dari negara tapi hak
yang harus diperjuangkan setiap hari dengan kekuatan sendiri dan dengan
cara bersama-sama,” tambahnya.

Namun begitu, baik kedaulatan dan kebebasan juga harus diperjuangkan
dengan narasi dan argumentasi yang tepat. Ia berpesan kepada elemen
masyarakat termasuk akademisi untuk meningkatkan intelektualitas.
Karena dengan argumentasi yang tepat dan kuat menjadi kunci perjuangan
perebutan kedaulatan dan kebebasan itu bisa tercapai.

“Kedaulatan untuk rakyat itu kita gak punya argumentasi. Kenapa saya
jadi oposisi karena saya mau perkuat argumentasi dan menghasilkan ulang
akal sehat,” tutup Rocky. []





Kirim email ke