Bagaimana tidak akan lupa? Wong Revolusinya terpelanting atau tidak ada
gunanya
Tulisannya sama cuma bacaannnya beda dan artinya juga beda.
AA
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1626-lupakan-revolusi-mental
*Sabtu 21 September 2019, 05:10 WIB *
/*Lupakan Revolusi Mental*/
*Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | podium
<https://mediaindonesia.com/podiums>*
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1626-lupakan-revolusi-mental>
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Lupakan Revolusi Mental
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1626-lupakan-revolusi-mental
via @mediaindonesia>
Lupakan Revolusi Mental
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/09/adab3e3552c4d76900cc298fc7c8ced9.jpg>
/MI/
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group
AKHIR tahun lalu, saya berkesempatan ikutan uji coba moda raya terpadu
atau MRT bersama Presiden Jokowi dan Gubernur Anies Baswedan. Di
perjalanan dari Stasiun Bundaran HI ke Stasiun Lebak Bulus, Presiden
menyinggung bahwa MRT kelak membentuk peradaban kita. “MRT akan membuat
kita tertib, menciptakan budaya antre, dan masyarakat pejalan kaki,”
kata Presiden.
Begitu MRT beroperasi, kita menyaksikan ketertiban dan kedisiplinan yang
tidak kita bayangkan sebelumnya. Orang tertib antre ketika memasuki
stasiun dan kereta. Orang disiplin dan patuh enggan makan minum di
kereta. Kita seperti sedang berada di negara lain yang berperadaban maju.
Peradaban maju lebih dulu tercipta di kereta rel listrik Jabodetabek.
Jauh sebelum itu, KRL kita kacau. Jendela bolong atau pintu rusak begitu
adanya. Orang naik di atap gerbong biasa saja. Penumpang naik kereta
tanpa bayar dimaklumi. Bila kecopetan, itu sedang sial saja. Itu semua
menjadi gambaran bobroknya mental kita.
Kini itu semua tinggal sejarah. Tak ada lagi penumpang naik di atap
gerbong. Malu orang naik kereta tanpa membayar. Copet cari mati namanya
bila masih nekat beroperasi di kereta saat ini.
Dulu berbagai cara kita lakukan untuk mereparasi mental kita, mulai
gerakan disiplin nasional di era Pak Harto sampai revolusi mental di
masa Presiden Jokowi. Semuanya bisa dibilang gagal. Kita jadi tak yakin
bahwa kita bisa berubah.
Kini berangsur tapi pasti, mental kita berubah. Berawal di KRL lalu MRT,
kita mulai bermental tertib, berbudaya antre, serta berkultur disiplin.
Ternyata kita bisa. Kok, bisa?
MRT ialah infrastruktur. Infrastruktur bagian struktur. Itu artinya
struktur membentuk kultur, kebiasaan.
Ada Ignasius Jonan dalam struktur kepengurusan Kereta Api Indonesia.
Jonan-lah yang membenahi kereta. Jonan ialah struktur. Terbukti lagi,
struktur mengubah kultur.
Jonan memperbaiki infrastruktur KRL. Tak ada lagi jendela bolong atau
pintu macet di kereta. Semua gerbong berpendingin udara. Untuk apa orang
naik di atap gerbong dengan risiko masuk angin bahkan mati terjatuh bila
naik di dalamnya sejuk, aman, dan nyaman. Malu juga bila naik kereta
senyaman itu tanpa membayar. Ternyata struktur membentuk kultur.
Lewat sistem pembayaran yang dibuat simpel dengan teknologi, tak mungkin
orang berkereta tanpa membayar. Sistem ialah struktur. Sekali
lagi, struktur membentuk kultur.
Dibuat aturan dilarang makan-minum di KRL, juga di MRT. Makan-minum
pasti menyisakan sampah di kereta. Orang disiplin enggan makan-minum di
KRL dan MRT lantaran tak mau melanggar aturan. Ini serupa orang
Indonesia piknik ke Singapura, tak berani buang sampah atau ludah
sembarangan karena aturan ketat melarang. Aturan ialah struktur. Lagi,
struktur membentuk kultur.
Struktur bahkan membuat negara maju. Bukan kultur yang bikin negara
maju. Begitu kesimpulan Robinson dan Acemoglu dalam buku Why Nations Fail.
Kedua pakar sampai pada kesimpulan itu setelah mengamati daerah bernama
Nogales. Sebagian Nogales berada di Meksiko, sebagian lagi menjadi
bagian Amerika. Nogales Amerika lebih maju daripada Nogales Meksiko
meski kultur dan kondisi geografis mereka serupa. Menurut Robinson dan
Acemoglu, itu karena institusionalisasi, strukturisasi, atau pelembagaan
di Amerika lebih mapan jika dibandingkan dengan di Meksiko.
Maka, sudah tepat bila Presiden Jokowi menggenjot pembangunan
infrastruktur. Lupakan revolusi mental. Pembangunan infrastruktrur
besar-besaran berarti melakukan revolusi mental.
Teruslah bangun infrastruktur. Ciptakan sistem. Susunlah aturan.
Angkatlah pejabat yang kira-kira mau dan mampu membangun struktur.