Luhut: China-Korea ingin bangun pabrik karena larangan ekspor nikel
Senin, 23 September 2019 04:24 WIB
Luhut: China-Korea ingin bangun pabrik karena larangan ekspor nikel
Dokumentasi foto - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar
Pandjaitan dalam acara puncak Sail Nias 2019. (HO-Kemenko Kemaritiman)
Rencana tersebut akan mendukung rencana pemerintah mengembangkan
kendaraan listrik.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar
Pandjaitan menyebutkan bahwa China dan Korea Selatan ingin membangun
pabrik di Indonesia karena ada larangan ekspor nikel yang akan mulai
diberlakukan Januari 2020.
Luhut dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin,
menyebutkan hal itu dinilai menjadi dampak positif larangan ekspor nikel
untuk meningkatkan hilirisasi di dalam negeri.
"Pada pertemuan dengan LG Chemical di Seoul beberapa hari lalu mereka
mengatakan sedang mempertimbangkan pengembangan fasilitas produksi
baterai lithiumnya di Indonesia setelah mendengar rencana Indonesia
untuk menerapkan pelarangan ekspor biji nikel efektif Januari 2020 dan
juga setelah harga nikel di pasar global yang terus naik," katanya di
Beijing, Minggu, usai menghadiri ASEAN-China Expo di Nanning, China.
Kendati demikian, LG Chemical belum menentukan mitra dengan perusahaan.
Perusahaan asal Korea Selatan itu kemungkinan bisa menggandeng China
atau Volkswagen, perusahaan pembuat mobil Jerman yang sekarang sedang
mengembangkan produk mobil listriknya.
Menurut Luhut, rencana tersebut akan mendukung rencana pemerintah
mengembangkan kendaraan listrik. Terlebih, bahan baku baterai mobil
listrik adalah nikel dengan kadar di bawah 1,4 persen yang saat ini
masih diekspor.
*Baca juga:Ke Uni Emirat Arab, Luhut fokus dorong kerja sama ekonomi
<https://www.antaranews.com/berita/1066400/ke-uni-emirat-arab-luhut-fokus-dorong-kerja-sama-ekonomi>*
"Mobil listrik juga menggunakan aluminium dan 'carbon steel' seperti
untuk bagian casisnya, mesin dan lainnya. Dengan demikian, kita berharap
penerimaan pajak akan meningkat dan membuka lebih banyak lapangan
kerja," ungkapnya.
Di sela-sela kunjungannya ke ASEAN-China Expo tersebut, Luhut sempat
bertemu dengan Wakil Ketua Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi
Cina (NDRC) Ning Jizhe.
Dalam kesempatan itu Ning menyampaikan dampak pelarangan ekspor nikel
juga dirasakan oleh negaranya yang 50-75 persen pasokan nikelnya
bergantung pada ekspor dari Indonesia.
Dalam pertemuan itu Luhut juga meminta Ning untuk menyampaikan keberatan
Indonesia kepada China atas penerapan kenaikan bea masuk antidumping
terhadap produk baja stainless asal Indonesia.
Di lain pihak, Ning juga meminta Luhut untuk membantu percepatan
pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang progresnya baru
mencapai 28 persen.
Menanggapi permintaan tersebut, Luhut mengatakan akan menyampaikan hal
itu kepada pemerintah Indonesia.
*Baca juga:Setelah nikel, pemerintah kaji percepatan larangan ekspor
mineral lain
<https://www.antaranews.com/berita/1058452/setelah-nikel-pemerintah-kaji-percepatan-larangan-ekspor-mineral-lain>*
Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Nusarina Yuliastuti
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com