https://www.jawapos.com/nasional/30/08/2019/menyusuri-calon-ibu-kota-baru-di-penajam-paser-utara-kaltim-2/



*Menyusuri Calon Ibu Kota Baru di Penajam Paser Utara, Kaltim (2)*

*Di Luar Dijual Kavlingan, di Dalam Hektarean*

NASIONAL <https://www.jawapos.com/nasional/>

30 Agustus 2019, 15:37:40 WIB

*Untuk mengantisipasi spekulan, para kepala desa di Kecamatan Sepaku
diperintah tak sembarangan melayani pencatatan transaksi jual beli tanah.
Di sisi lain, calon ibu kota negara memiliki bentang alam dan potensi
pariwisata yang menjanjikan.*

*Bayu Putra*, Penajam Paser Utara, *Jawa Pos*

—

”*MOHON* maaf, tanah saya sudah laku.” Itulah yang disampaikan Supinah saat
saya menanyakan spanduk penjualan empat kavling tanah miliknya. Keempat
kavling itu berada di Desa Sepaku Empat, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser
Utara, Kalimantan Timur.

Tanah-tanah tersebut berlokasi di tepi jalan negara yang lebarnya sekitar 4
meter.

Kavling paling besar milik warga Desa Sepaku Tiga itu yang berukuran 12 x
27 meter laku Rp 75 juta. Tiga kavling lainnya yang berukuran lebih kecil
dihargai lebih rendah.

Penunjukan Kalimantan Timur sebagai calon lokasi ibu kota negara (IKN) baru
turut mengerek harga lahan di Sepaku. Kini warga menjual lahan mereka Rp 50
juta-Rp 100 juta per hektare.

Supinah tidak menampik hal tersebut. Hanya, dia memberikan catatan bahwa
lahan yang dijual per hektare itu berada di dalam perkebunan warga
transmigran.

Sementara yang berada di pinggir jalan dijual kavlingan. Itu pun tidak
dihargai per meter, melainkan per kavling. “Di Sepaku Dua ada yang berani
nawar 1 hektare Rp 1 M, tapi orangnya (pemilik tanah, Red) tidak mau
menjual,” ungkapnya.

Biasanya, itu dilakukan karena pemilik tanah memang belum perlu uang.
Sementara dirinya saat menjual tanah itu memang sedang memerlukan uang.

Bisnis lahan memang tampak begitu menjanjikan di calon IKN. Bila
diibaratkan, saat ini baru saja ditemukan gudang gula baru bagi para semut.
Camat Sepaku Risman Abdul mengakui potensi tersebut.

GERBANG CALON IBU KOTA NEGARA: Simpang tiga Km 38 Jalan Soekarno-Hatta
dengan Jalan Negara (Jalan Sepaku-Samboja/ke arah tower) di Kecamatan
Samboja, Kabupaten Kutai Kartanagera. Jalan Negara merupakan satu-satunya
akses darat terdekat untuk mencapai Kecamatan Sepaku yang menjadi calon
lokasi ibu kota negara. (THOMAS PRIYANDOKO/KALTIM POST)

Namun, dia juga tidak mungkin melarang warga menjual lahan pribadi mereka
karena statusnya memang sudah hak milik. Dia hanya bisa mengimbau mereka
untuk tidak menjual tanah.

Di luar lahan pribadi milik transmigran, Ris­man meyakinkan bahwa spekulan
tanah tidak bisa berbuat banyak. Sebab, jenis lahan di wilayahnya hanya
dua. Lahan SHM milik warga transmigran dan tanah milik negara. Jenis tanah
kedua hampir mustahil diperjualbelikan. “Yang mungkin itu adalah diajukan
izin pemanfaatan lahan,” jelasnya saat ditemui di kantornya kemarin..

Bila suatu saat lahan tersebut dibutuhkan negara, warga yang memanfaatkan
tidak akan mendapat ganti rugi. “Paling hanya tanam tumbuhnya (tanaman)
yang diganti rugi,” lanjutnya.

Meski demikian, ada klausul, bila tanah itu sudah dimanfaatkan minimal
selama tiga tahun berturut-turut, warga boleh mengajukan peningkatan
statusnya menjadi hak milik. Tentu ada penilaian apakah memang bisa.

Risman mengakui, para spekulan mulai bergerilya pasca pengumuman IKN.
Mereka menghubungi lurah dan kepala desa untuk dicarikan tanah dengan luas
tertentu.

Harganya juga menyesuaikan dengan pasaran yang berlaku saat ini di Sepaku.
Antisipasinya, dia meminta para kepala desa dan lurah untuk tidak mudah
melayani pencatatan transaksi jual beli lahan. Dikhawatirkan, yang
ditransaksikan itu adalah tanah negara.

Sementara itu, bila yang dijual adalah lahan pribadi warga, tentu tidak
bisa dilarang. Apalagi, klausul larangan menjual lahan pemberian pemerintah
untuk transmigran hanya berlaku selama 10 tahun.

Setelah itu, larangan tersebut sudah tidak berlaku. Setiap keluarga
transmigran kala itu diberi tanah seluas 2 hektare. Terdiri atas seperempat
hektare lahan pekarangan dan sisanya untuk dimanfaatkan. Statusnya hak
milik.

Selain menemui Risman, kemarin saya dan *Kaltim Post* mengunjungi Desa
Semoi Dua. Desa itulah yang diyakini Risman sebagai lokasi pusat
pemerintahan baru. Keyakinan yang sama disampaikan Kepala Dusun 2 Semoi Dua
Suyoto yang saya temui di kediamannya. “Kemarin (28/8) Pak Wakil Bupati
(Hamdam) keliling sama saya meninjau lokasi koordinatnya,” terangnya.

Lokasinya di sisi timur laut Desa Semoi Dua. Bila diterjemahkan dalam peta,
lokasinya di sekitar koordinat 0,9 derajat Lintang Selatan dan 116,9
derajat Bujur Timur. Saya sempat memotretnya dari atas Bukit Bangkirai
menjelang matahari terbenam kemarin. Lanskap alamnya sungguh cantik.

Ada sebuah cerita sejarah di salah satu rangkaian novel Majapahit karya
Langit Kresna Hariadi. Disebutkan bahwa Raden Wijaya menilai ibu kota
<https://www.jawapos.com/nasional/29/08/2019/menyusuri-calon-ibu-kota-baru-di-penajam-paser-utara-kaltim-1/>
Singasari
yang runtuh oleh Jayakatwang sudah tidak layak dibangun ulang menjadi ibu
kota kerajaan baru.

Terlalu “panas”. Dia mendapat ilham di puncak Gunung Penanggungan untuk
membangun kerajaan baru yang berpusat di tanah Tarik. Dari tanah Tarik
itulah Majapahit dibangun yang kemudian tumbuh jadi kerajaan besar dan
disegani.

Tantangan membangun IKN tentu tidak mudah. Selain kajian yang dilakukan
menahun, ada tantangan lain dari masyarakat yang sudah lama tinggal di
kawasan sekitar IKN. Sejumlah masyarakat masih menganut kebiasaan lama.
“Rata-rata masyarakat kami, mohon maaf, masih sering berladang
berpindah-pindah,” terang Risman.

Misalnya tahun ini menanam padi di lahan tertentu, tahun depan mereka akan
menanam di lahan lain. Melalui izin pemanfaatan lahan, selain tentunya
menggunakan lahan milik sendiri. Persoalannya, izin pemanfaatan itu acap
kali dibuatkan pengakuan atas lahan pribadi.

Suasana wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur yang akan menjadi ibu
kota baru. (Fuad Muhammad/Kaltim Post)

Di sisi lain, ada beberapa hal yang menunjukkan masyarakat sekitar IKN,
setidaknya di Sepaku, akan mampu beradaptasi dengan IKN. “Pengangguran di
sini kurang dari 10 persen. Bahkan, banyak ibu-ibu itu yang bekerja di
perkebunan,” jelas Risman.

Warga juga sudah tidak asing dengan pendidikan tinggi. Salah satunya putra
pertama Supeni. “Anak saya baru lulus dari Undip (Universitas Diponegoro,
Red). Mau saya suruh pulang membangun daerahnya,” ucap perempuan
transmigran asal Banyuwangi itu.

Bisa jadi, tantangan utama percepatan pembangunan IKN adalah ketersediaan
jalan. Akses menuju IKN dari sisi Penajam Paser Utara begitu buruk.
Termasuk di Desa Semoi Dua. Berkali-kali saya terguncang di dalam mobil
karena kondisi jalan di Desa Semoi Dua yang begitu buruk. Yang menurut
Suyoto selaku kepala dusun 2 tidak ada perubahan sejak 15 tahun silam.

Padahal, menurut dia, warga begitu antusias menyambut ibu kota baru.
Bahkan, warga rela membongkar rumah dan memundurkan posisinya bila
pemerintah membutuhkan lahan untuk pelebaran jalan.

“Kami sejak awal transmigrasi sudah paham soal itu, dan kami tidak akan
dapat ganti rugi,” lanjut pria asal Jember itu.

Warga sudah membayangkan mereka akan mendapatkan kue ekonomi atas pendirian
IKN. Setidaknya, mereka akan punya peluang usaha lebih besar jika
dibandingkan dengan saat ini. Pekerjaan di kebun selama ini hanya cukup
untuk hidup sehari-hari.
*Potensi Wisata*

Kawasan hutan tidak berarti minim potensi wisata. Salah satu yang saya
kunjungi kemarin adalah Bukit Bangkirai di Semboja, Kutai Kartanegara.
Jarak dari pusat Kota Balikpapan menuju gerbang masuk bukit sekitar 50 km.
Setelahnya, masih harus masuk sejauh 7 kilometer melalui jalan perbukitan.

Salah satu andalan Bukit Bangkirai adalah wahana jembatan gantung yang
ditautkan di atas pohon-pohon bangkirai. Untuk mencapainya, saya berjalan
melalui trek sejauh 500 meter sampai dasar pohon. Di depan sudah tersedia
anak tangga yang setelah saya hitung berjumlah 131 buah.

Setelah mendaki tangga yang melelahkan, saya disambut embusan angin yang
sejuk tetapi cukup kencang. Pohon bangkirai yang disandari tangga pun
bergoyang. Jangan tanyakan soal jembatan gantungnya. Sudah pasti ikut
bergoyang.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */mia/c5/ttg

Kirim email ke