Fakta, Hoaks dan Dugaan dalam Kasus Ambulans DKI Bawa Batu
Reporter:
M Yusuf Manurung
Editor:
Ninis Chairunnisa
Minggu, 29 September 2019 06:46 WIB
Kondisi kaca mobil ambulans yang diduga membawa batu serta bensin saat
peristiwa kerusuhan antara pelajar dengan kepolisian di Gardu Tol
Pejompongan, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis dinihari, 26 September 2019.
Polda Metro Jaya akhirnya mengklarifikasi informasi tentang mobil
ambulans milik Pemprov DKI Jakarta dan Palang Merah Indonesia yang
diduga membawa batu serta bensin di sekitar lokasi demonstrasi.
TEMPO/Hilman Fathurrahman WKondisi kaca mobil ambulans yang diduga
membawa batu serta bensin saat peristiwa kerusuhan antara pelajar dengan
kepolisian di Gardu Tol Pejompongan, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis
dinihari, 26 September 2019. Polda Metro Jaya akhirnya mengklarifikasi
informasi tentang mobil ambulans milik Pemprov DKI Jakarta dan Palang
Merah Indonesia yang diduga membawa batu serta bensin di sekitar lokasi
demonstrasi. TEMPO/Hilman Fathurrahman W
*TEMPO.CO, Jakarta*- Kasus mobilambulans DKI
<https://www.tempo.co/tag/ambulans-dki>yang disebut membawa batu menjadi
perbincangan hangat oleh warganet di tengah-tengah demonstrasi pelajar
pada Rabu, 25 September lalu. Pegiat media sosial Denny Siregar
mengunggah sebuah video melalui akun Twitter pribadinya @dennysiregar7
pada Kamis dini hari, 26 September 2019 sambil menuliskan kalimat:
"Hasil pantauan malam ini.. Ambulans pembawa batu ketangkep pake logo
@DKI Jakarta," tulis Denny.
Tidak lama berselang, aku Twitter @TMCPoldaMetro juga mengunggah video
'ambulans bawa batu' itu. Walau pada akhirnya, video dan cuitan polisi
tersebut dihapus setelah warganet merespons kejadian tersebut. Mereka
mempertanyakan di mana batu yang disebut-sebut seseorang dalam video
itu. Memang keberadaan batu hanya disebutkan tanpa ada potongan gambar
yang memperlihatkannya.
"Polri mengamankan 5 kendaraan ambulans Pemprov DKI Jakarta yang
digunakan untuk mengangkut batu dan bensin yang diduga untuk molotov di
Pejompongan," ujar @TMCPoldaMetro melalui Twitter.
Berikut rangkuman mengenai fakta dan hoaks terkait ambulans bawa batu itu:
*1. Hoaks: Ambulans Pemprov DKI dan PMI membawa batu*
Polda Metro Jaya membawa lima unit mobil ambulans ke kantornya saat
kerusuhan melanda sekitar gedung DPR RI pada Rabu malam, 25 September
lalu. Satu di antaranya adalah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan
sisanya kepunyaan Palang Merah Indonesia atau PMI. Selain itu, tiga
petugas medis ambulans dan 31 petugas ambulans PMI dibawa ke Polda.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Komisaris Besar Argo Yuwono mengakui ada
kesalahpahaman dari anggota Brimob yang menyebut bahwa ambulans itu
membawa batu. Menurut Argo, para perusuh ternyata masuk ke dalam
ambulans dengan membawa kardus yang berisi batu, kembang api dan bom
molotov. Mereka disebut sedang mencari perlindungan dari kejaran polisi.
Sehingga saat Brimob menghentikan ambulans, ada batu dan barang-barang
lain bukan medis di dalamnya.
"Anggapan dari anggota Brimob di sana diduga mobil itu yang digunakan
untuk perusuh. Tapi ternyata perusuh yang masuk ke mobil untuk mencari
perlindungan dengan membawa batu, bom molotov dan kembang api," ujar
Argo kantornya, Kamis, 26 September 2019.
Semua petugas medis ambulans yang sempat ditahan Polda Metro Jaya
akhirnya dipulangkan. Mereka tidak terbukti membawa batu saat
menjalankan tugasnya.
*2. Fakta: Polisi sebut ada batu dalam ambulans*
Walau telah salah menuding, polisi tetap kukuh memang ada batu dalam
ambulans yang disitanya. Selain batu, ada pula bom molotov, kembang api
hingga bensin yang dibawa oleh tiga orang perusuh berinisial A, RL dan
YG ke dalam ambulans. Para tersangka disebut bukan pelajar yang
melakukan unjuk rasa, melainkan warga.
"Tiga orang ini berlindung dalam ambulans," ujar Direktur Reserse
Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Suyudi Ario di kantornya,
Kamis, 26 September 2019.
Barang bukti yang ditemukan di mobil ambulans saat demonstrasi
ditunjukkan dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis,
26 September 2019. Polda Metro Jaya mengakui adanya kesalahan informasi
soal Ambulans DKI yang dituding
membawa batu pada kerusuhan Kamis dini hari tadi. TEMPO/Hilman
Fathurrahman W
Suyudi menjelaskan kasus ini bermula saat anggota Brimob diserang oleh
sejumlah orang. Saat itu, demonstrasi oleh pelajar di gedung DPR RI
berujung rusuh. Bahkan, Pos Polisi Pejompongan dibakar oleh massa.
Polisi kemudian mengejar para tersangka dan mendapatkannya di dalam
mobil ambulans.
"Pasukan brimob yang ada di sekitar Pejompongan melihat ketiganya ini
melakukan penyerangan," kata Suyudi.
Saat konferensi pers, polisi juga menunjukkan kardus yang isinya
merupakan barang bukti seperti batu, bom molotov, kembang api dan bensin
tersebut. Namun, barang-barang itu memang tidak terlihat dalam video
yang sebelumnya diunggah @TMCPoldaMetro.
*3. Dugaan: Petugas medis ambulans dianiaya Brimob*
Dalam siaran pers yang ditandatangani Ketua PMI Jakarta Timur Krisdianto
serta dinyatakan langsung oleh Kepala Markasnya, E Komalasari, dugaan
kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap tim medis dalam
ambulans terungkap. Komalasari menjelaskan peristiwa itu terjadi sekitar
pukul 23.30 di depan lobby menara BNI, Pejompongan. Saat itu, tim medis
sedang mengobati korban kerusuhan.
Tak jelas penyebabnya, menurut pernyataan resmi itu, aparat Brimob
menyantroni mobil ambulans secara tiba-tiba. Dengan dalih sedang
melakukan sweeping, aparat Brimob tersebut langsung membuka paksa pintu
ambulans dan menarik serta memukul seorang korban yang sedang mendapat
pertolongan pertama.
ADVERTISEMENT
Menurut keterangan tersebut, aparat Brimob langsung melakukan sweeping
ke ambulans tersebut karena mencurigai adanya batu dan bensin yang
disimpan pendemo di dalam ambulans. Tak berhenti sampai di situ, anggota
Brimob disebut merusak ambulans hingga kaca belakang pecah dan
berhamburan ke dalam.
"Oknum Anggota Brimob melayangkan pukulan dengan tongkat kayunya kepada
semua tim medis PMI yang ada di dalam ambulans. Petugas PMI terkena
pukulan di bagian kepala, bahkan salah satu perawat kami jatuh
tersungkur ke belakang stretcher karena didorong dan kemudian diinjak
oleh salah satu oknum Anggota Brimob," tulis pernyataan tersebut.
Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Edy Pramono menemui Gubernur DKI Jakarta
Anies Baswedan di Balai Kota, Jumat 27 September 2019. Pertemuan itu
untuk membahas masalah salah tangkap ambulans DKI dan juga kondisi
Jakarta yang belakanga dipenuhi
demonstrasi. Tempo/Imam Hamdi
Dua orang petugas PMI juga disebut sempat ditarik keluar paksa dari
ambulans. Aparat tersebut pun melakukan pemecahan kaca samping kiri
ambulans.
"Beberapa petugas kesehatan PMI mengalami tindakan kekerasan dari oknum
Anggota Brimob, seperti dipukul, ditendang, ditonjok, ditarik oleh oknum
Anggota Brimob dan ada beberapa yang ditarik oleh marinir justru
diselamatkan ke belakang gedung," tulis pernyataan itu.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menyatakan bahwa petugas
medisambulans DKI <https://www.tempo.co/tag/ambulans-dki>yang sempat
ditahan di Polda Metro Jaya mengalami luka-luka. Namun, ia tak
menceritakan awal muasal luka tersebut. "Ada luka di kepala, luka di
kaki. Tapi kejadiannya bagaimana dan lain-lain kami masih belum bisa
ngobrol," kata Anies di Balai Kota pada Jumat, 27 September 2019.
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com