Wisata Religi dan Sejarah di Patung Buddha Leshan
Sabtu , 28 September 2019 | 16:21
Wisata Religi dan Sejarah di Patung Buddha Leshan
Sumber Foto: Orange Smile.
Di belakang patung raksasa Buddha Maitreya Leshan terdapat Museum Kuil
Lingyun yang berusia 1.200 tahun namun tetap terawat.
POPULER
Wisata "Anti-mainstream" Tak Jauh dari Jakarta
<http://www.sinarharapan.co/lifestyle/read/8526/wisata__anti_mainstream__tak_jauh_dari_jakarta>Wisata
Religi dan Sejarah di Patung Buddha Leshan
<http://www.sinarharapan.co/lifestyle/read/8525/wisata_religi_dan_sejarah_di_patung_buddha_raksasa_leshan>
Listen to this
SICHUAN - Tiongkok merupakan negara yang sangat diminati oleh para
wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Dengan wilayahnya yang luas, ada
banyak juga tempat wisata yang tersebar di tiap wilayah Tiongkok. Dari
wisata alam, belanja, kuliner, sejarah, religi, semua ada. Namun, wisata
sejarah dan religi di Tiongkok dapat menjadi salah satu wisata yang
menarik untuk Anda jelajahi.
Tiongkok terkenal dengan sejarah dinasti dan religi Budhanya yang begitu
kental. Hal tersebut dapat kita lihat di tempat wisata sejarah dan
religi yang sangat diminati—salah satunya/Leshan Giant Buddha/atau
Patung Buddha Raksasa Leshan. Patung batu Buddha ini merupakan patung
Budha raksasa tertinggi di dunia dengan tinggi 71 meter dan lebar 28
meter ini dipahat pada bebatuan permukaan tebing yang berlokasi di
wilayah selatan propinsi Sichuan, dekat kota Leshan. Lokasi ini jadi
pertemuan tiga sungai, yaitu Sungai Min, Sungai Qingyi, dan Sungai Dadu,
Tiongkok.
Menurut sejarahnya, patung ini dibangun tahun 713 M pada masa Dinasti
Tang dan selesai pada tahun 803 M dan merupakan ide dari seorang biksu
bernama Hai Tong. Pada waktu itu, perhatian Hai Tong tertuju pada
keselamatan para pencari nafkah di sekitar pertemuan tiga sungai tersebut.
Banyak terjadi kecelakan kapal dan bencana yang dipercaya karena roh air
di wilayah tersebut. Oleh karena itulah, Hai Tong memutuskan untuk
mengukir patung di samping sungai dengan harapan Buddha akan membawa roh
air di bawah kendali. Selain itu, batu yang jatuh pada saat pengukiran
tebing akan mengurangi gaya air di sana.
Setelah 20 tahun memohon sedekah, Hai Tong akhirnya mengumpulkan cukup
uang untuk merealisasikan rencana tersebut. Namun, ketika uang pendanaan
untuk pembangunan tersebut terancam oleh pejabat yang ingin
menyalahgunakan, Hai Tong mengatakan kepada mereka bahwa mereka bisa
mendapatkan bola matanya, tetapi bukan uang yang dikumpulkan untuk Sang
Buddha. Setelah Hai Tong mencungkil bola matanya, para pejabat itu lari
ketakutan.
Proyek ini setengah selesai ketika Hai Tong meninggal, lalu dua muridnya
melanjutkan proyek tersebut. Setelah bekerja keras selama 90 tahun,
proyek itu akhirnya selesai.
Selain sejarahnya yang begitu menarik, patung ini sendiri memiliki
banyak keunikan. Patung ini juga dikenal dengan sebutan “/dafo/” atau
pahatan patung Buddha Maitreya yang tengah duduk dengan tangan bertumpu
pada kedua lututnya, serta mata yang memandang ke arah sungai. Maitreya
adalah Buddha masa depan yang muncul untuk menceramahi dharma setelah
ajaran Buddha Gautama mulai menghilang.
Keunikan yang lain adalah adanya beberapa saluran pembuangan tersembunyi
yang dibangun pada bagian rambut, leher, dada, serta di lubang-lubang
yang ada di belakang telinga patung Buddha. Saluran pembuangan ini
berfungsi untuk mencegah erosi dan pelapukan pada patung.
Di salah satu teras di sebelah telinga Buddha, terdapat patung biksu Hai
Tong. Di belakangnya, terdapat Museum Kuil Lingyun, tempat para
pengunjung dapat mempelajari proses konstruksi serta renovasi/“dafo”/.
Sampai sekarang, patung ini telah dirawat secara teratur selama 1.200 tahun.
Kekaguman Anda tidak akan terhenti pada sejarah dan kemegahan/Leshan
Giant Buddha/saja. Keindahan panorama di Kawasan wisata ini sungguh
sangat memesona. Pemandangan alam yang begitu hijau dan asri dipadukan
dengan patung yang berada di tebing berwana coklat kemerahan menambah
keindahan tempat wisata ini.*(E-4)*
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com