Permadi Ungkap Agenda Lengserkan Presiden Jokowi

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Permadi Ungkap Agenda Lengserkan Presiden Jokowi

Indonesiakoran.Com

Sebelum Pelantikan Presiden dan Wapres Terpilih 20 Oktober Mendatang.
 |

 |

 |







Permadi Ungkap Agenda Lengserkan Presiden Jokowi

Sabtu , 28 September 2019 | 23:56




JAKARTA - Politikus senior Partai Gerindra, mengesahkan agenda terbuka Presiden 
Joko Widodo (Jokowi) sebelum pelantikan presiden dan wakil presiden (wapres) 
terpilih pada 20 Oktober mendatang.

Pernyataan yang disampaikan Permadi seusai menggelar pertemuan tertutup dengan 
Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen (Purn) 
Sunarko hingga Sekjen FUI Muhammad Al Khaththath di kediaman pribadi Permadi di 
Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (28/9/2019).

"Sebelum pelantikan targetnya [turunkan Jokowi], pokoknya sebelum pelantikan 
[presiden]," kata Permadi.

Saat berbicara, Permadi tidak didampingi, Sunarko dan Al Khaththath.

Permadi menyatakan tengah menyusun langkah bersama para purnawirawan jenderal 
TNI yang ikut Segenap elemen 212. Permadi menyebut, agar tujuan berhasil, ia 
telah membagi-bagi tugas yang diperuntukkan, Sunarko hingga Al Khathath untuk 
menggerakkan kekuatan orang lain.

"Kita bagi pekerjaan. Jika harus melangkah kita tetap, kita juga harus 
menyelesaikan habib yang meminta 212 ikut bersama dalam kekuatan orang ini 
untuk memperkuat gerakan ini agar berhasil," katanya seperti dikutip 
cnnindonesia.com.

Permadi Menerima Jokowi sudah berkali-kali lipat masyarakat Indonesia jadi 
layak untuk diperoleh. Ia menyebut kondisi ekonomi dan sikap Jokowi yang kerap 
ingkar mengundang menjadi alasan mantan wali kota Solo itu mesti diturunkan. 
"Menipu tidak akan mengangkat Ketum Golkar jadi menteri. Katanya tak boleh 
merangkap, nyatanya merangkap terus dan dia telah memenangkan rakyat Indonesia. 
Saya indonesia saya Pancasila. Itu yang luar biasa," katanya.

Selain itu, Permadi turut mendukung para mahasiswa yang berdemonstrasi menolak 
berbagai rancangan undang-undang yang diterbitkan ini sangat kecil. Ia bertolak 
belakang mendukung peralihan oleh berbagai elemen masyarakat yang mendukung 
untuk mengubah sistem pemerintahan dan politik yang mendukung masyarakat. 
"Karena paling mendasar adalah sistem perubahan kembali ke UUD 1945 yang 
mengubah pemerintahan, dan mengubah yang kita inginkan seperti revolusi Bung 
Karno yang melakukan revolusi multikompleks," dia menambahkan.

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meminta semua pihak yang 
menggagalkan pelantikan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil 
presiden terpilih pada Pemilu 2019 akan berhadapan dengan TNI.

Menurutnya, pembicaraan itu juga berlaku untuk semua pihak yang melakukan 
anarki. "Siapapun yang melakukan tindakan anarkis, inkonstitusional, cara-cara 
yang kurang baik, termasuk ingin menggagalkan pelantikan presiden dan wakil 
presiden terpilih akan berhadapan dengan TNI," ujar Hadi di Lanud Halim 
Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (27/9/2019).

 


Kirim email ke