Taiwan kecam "kediktatoran" China di bawah pemerintahan komunis
Selasa, 1 Oktober 2019 14:16 WIB
Taiwan kecam "kediktatoran" China di bawah pemerintahan komunis
Defile pasukan saat parade militer dalam rangka upacara peringatan HUT
ke-70 RRC di Beijing, Selasa (1/10/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Thomas
Peter/pras.
Taipei (ANTARA) - Pemerintahan Taiwan pada Selasa mengecam
"kediktatoran" China pada peringatan ke-70 berdirinya Republik Rakyat
China dengan menyatakan negara itu merupakan ancaman kepada perdamaian
dan berusaha mencari alasan-alasan untuk ekspansi militernya.
Pasukan Nasionalis yang dikalahkan melarikan diri ke Taiwan tahun 1949
setelah menderita kekalahan dalam perang saudara dari kaum Komunis.
China mengklaim Taiwan yang sekarang memiliki sistem demokrasi sebagai
wilayahnya, dan tak pernah berhenti menyatakan akan menggunakan kekuatan
untuk memasukkannya ke dalam kendali Beijing.
Presiden Xi Jinping, yang berpidato dalam parade militer besar di
Beijing untuk menandai pemerintahan Partai Komunis selama 70 tahun,
mengatakan China akan mendorong pengembangan hubungan damai dengan
Taiwan dan "terus berjuang bagi reunifikasi penuh ke dalam pangkuan Ibu
Pertiwi."
Dewan Urusan Daratan Taiwan, yang menanggapi parade tersebut dan
komentar Xi, mengatakan Taiwan tidak akan pernah menerima "satu negara,
dua sistem", model yang diterapkan di Hong Kong dan Makau, yang Beijing
lihat sebagai cara terbaik untuk merangkul Taiwan.
"Partai Komunis China telah tetap menjalankan kediktatoran dengan satu
partai selama 70 tahun, sebuah konsep pemerintahan yang melanggar
nilai-nilai demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia, dan menimbulkan
risiko dan tantangan bagi pengembangan China Daratan," katanya.
"Teriakannya mengenai perjuangan bagi persatuan, peremajaan besar dan
unifikasi hanya merupakan alasan bagi ekspansi militer, yang mengancam
secara serius perdamaian regional dan demokrasi dunia, dan peradaban."
Ditambahkan, Taiwan sudah berazaskan demokrasi selama lebih 30 tahun dan
China seharusnya menggunakan momen ini untuk bercermin dan mendorong ke
arah demokrasi.
"Garis kelangsungan hidup dan perkembangan China Daratan tidak terikat
pada satu orang dan satu partai," kata Dewan itu.
Taiwan tidak akan bisa digertak dengan menerima sikap China, tambahnya.
China telah melakukan tekanan atas Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, yang
berniat mencalonkan diri lagi pada Januari, yakin ia ingin mendorong
kemerdekaan formal pulau itu, sebuah garis merah bagi Beijing.
China juga dibuat marah atas pernyataan-pernyataan dukungan dari Taiwan
bagi aksi-aksi unjuk rasa anti-pemerintah di Hong Kong, yang
diperkirakan muncul lagi pada Selasa.
"Kami merupakan sebuah negeri yang berprinsip demokrasi dan kebebasan
dan akan menunjukkan dukungan bagi siapapun di dunia yang memperjuangkan
demokrasi dan kemerdekaan," kata Tsai kepada wartawan pada Selasa.
"Begitu juga setiap penguasa harus berhati-hati mendengarkan keinginan
rakyat bagi kebebasan dan dan demokrasi dan menghormati kemauan rakyat."
Sumber: Reuters
*Baca juga:China daratan tangguhkan kesertaan dalam festival film Taiwan
<https://www.antaranews.com/berita/998116/china-daratan-tangguhkan-kesertaan-dalam-festival-film-taiwan>
Baca juga:Program perjalanan wisatawan China ke Taiwan ditangguhkan
<https://www.antaranews.com/berita/986552/program-perjalanan-wisatawan-china-ke-taiwan-ditangguhkan>
Baca juga:Setelah Taiwan beli senjata, China adakan pelatihan militer
<https://www.antaranews.com/berita/956005/setelah-taiwan-beli-senjata-china-adakan-pelatihan-militer>
Baca juga:Menhan: China akan kerahkan kekuatan bagi "reunifikasi" dengan
Taiwan
<https://www.antaranews.com/berita/899094/menhan-china-akan-kerahkan-kekuatan-bagi-reunifikasi-dengan-taiwan>*
Penerjemah: Mohamad Anthoni
Editor: Maria D Andriana
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com