Menkeu imbau perusahaan waspada terkait risiko gagal bayar
Selasa, 1 Oktober 2019 14:21 WIB
Menkeu imbau perusahaan waspada terkait risiko gagal bayar
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kantor Kementerian Keuangan,
Jakarta, Selasa (1/10/2019) mengingatkan kewaspadaan potensi gagal bayar
akibat dampak krisis global. (ANTARA/AstridFaidlatulHabibah)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengimbau
kepada berbagai perusahaan di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan
agar mencegah risiko gagal bayar yang tinggi sebab adanya perlambatan
pertumbuhan ekonomi di tengah krisis global.
Ia menuturkan, adanya krisis global memaksa perusahaan-perusahaan untuk
mengubah asumsi kondisi ekonomi supaya tetap bisa mencetak keuntungan
sehingga perusahaan harus terus memperhatikan dinamika lingkungan
operasinya secara detail.
“Mereka harus meningkatkan kehati-hatian apakah kegiatan korporasi akan
memunculkan stream revenue yang diharapkan seperti semula,” katanya saat
ditemui di Jakarta, Selasa.
*Baca juga:OJK awasi risiko kredit bank dari potensi gagal bayar
korporasi
<https://www.antaranews.com/berita/973962/ojk-awasi-risiko-kredit-bank-dari-potensi-gagal-bayar-korporasi>*
Menurutnya, eksposur perusahaan terhadap pembiayaan yang dilakukan
sebelumnya yaitu seperti utang juga akan berdampak pada biaya yang
dikeluarkan serta pembayaran kewajiban.
Selain itu, ia mengatakan Kementerian Keuangan akan terus melakukan
monitoring secara terus menerus kepada para BUMN dalam upaya mencegah
terjadinya gagal bayar.
Ia melanjutkan, pihaknya juga melihat risiko-risiko instrumen fiskal
yang digunakan untuk mendukung berbagai program BUMN dalam rangka
menjalankan pembangunan dan pemajuan Indonesia.
*Baca juga:Pemerintah siapkan skenario proyeksi pertumbuhan ekonomi
<https://www.antaranews.com/berita/1070902/pemerintah-siapkan-skenario-proyeksi-pertumbuhan-ekonomi>*
“Kami juga terus melakukan observasi dan komunikasi dengan Kementerian
BUMN terkait hal ini,” ujarnya.
Hal tersebut terkait untuk menanggapi laporan dari lembaga pemeringkat
utang internasional Moody’s Investors Service yang menyatakan bahwa
berbagai perusahaan di Indonesia dan negara Asia Pasifik lain berisiko
gagal bayar.
Sri Mulyani menuturkan penilaian yang dikeluarkan lembaga pemeringkat
tersebut dapat menjadi peringatan dini yang baik dengan menjadikannya
sebagai bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan di perusahaan
untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Sebelumnya, Moody’s Investors Service melaporkan adanya risiko gagal
bayar dari perusahaan-perusahaan Indonesia yang berutang di perbankan
karena penurunan kinerja perusahaan dalam meraih keuntungan di tengah
kondisi perekonomian dunia yang sedang krisis.
Dari laporan tersebut tercatat dua negara di kawasan Asia Pasifik yaitu
Indonesia dan India yang memiliki risiko gagal bayar tertinggi. Hasil
tersebut didapat dari tes tekanan dengan menggunakan asumsi penurunan 25
persen laba sebelum bunga dan pajak (EBITDA).
“Di belakang dua negara tersebut, ada SIngapura, Malaysia, dan China
yang memiliki risiko gagal bayar yang tidak kalah besar,” kata Asisten
Wakil Presiden dan Analis Moody Rebaca Tan pada Senin (30/9).
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Budi Suyanto
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com