sutar temanggung

Penulis IndonesianaBergabung Sejak: 12 September 2019

17 jam lalu 


Ulah Buzzer Pendukung Jokowi: Berbahaya dan Produk Gagal Demokrasi?


Fenomena buzzer alias pendengung  tidaklah baru di zaman  demokrasi sekaligus 
era digital. Kehadirannya  membikin riuh rendah media sosial, dan amat bising 
ketika masa kampanye pemilihan presiden lalu.




Berbeda dengan media pers yang menyebarkan informasi yang 
diverifikasi—setidaknya mengikuti patokan jurnalistik--  para pendenggung 
menebar kabar, analisa, sesukanya. Tujuannya macam-macam, dari menebarkan citra 
baik buat tokoh yang didukung hingga merusak reputasi lain. Jelas informasi 
yang disebar oleh buzzer  bisa menyesatkan.


Opini Majalah Tempo edisi terakhir, mengkritik tajam keberadaan buzzer 
pendukung Presiden Joko Widodo. Berjudul Saatnya Menertibkan Buzzer  , penulis 
opini ini berpendapat: tingkah laku buzzer pendukung Jokowi makin lama makin 
membahayakan demokrasi di negeri ini.




Soal ambulans DKI hingga KPK


Tulisan itu juga menggambarkan  adanya dugaan para buzzer  di balik kabar 
tentang ambulans berlogo pemerintah DKI Jakarta yang berisi batu saat unjuk 
rasa pelajar sekolah menengah atas pekan lalu.




Buktinya, rekam oleh Drone Emprit, aplikasi pemantau percakapan di dunia maya, 
cuitan mereka itu lebih cepat beberapa jam dibanding akun resmi TMC Polda Metro 
Jaya. Sebagian di antaranya mengolok-olok Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, 
yang mereka perangi sejak pemilihan Gubernur DKI 2017. Belakangan, polisi 
menyatakan kabar itu tidak benar.


Begitu pula dalam kasus seleksi calon pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dan 
revisi Undang-Undang KPK. Para pendengung dinilai menyebarkan agitasi bahwa 
lembaga itu dikuasai kelompok agama garis keras yang mereka sebut Taliban. 
Mereka menyebut Novel Baswedan, penyidik yang dikenal gigih mengusut pelbagai 
kasus korupsi jumbo, sebagai antek khilafah.




Produk gagal demokrasi?


Opini Tempo menyatakan bahwa para buzzer ini adalah produk gagal dari era 
kebebasan berpendapat. “Memanfaatkan kemampuan menulis—sebagian di antara 
buzzer Jokowi adalah bekas wartawan— dan fanatisme pembacanya, mereka mengemas 
kabar bohong sedemikian rupa sehingga terlihat benar,” begitu pendapat penulis 
opini itu.




Di negara demokrasi  yang lain,  fenomena buzzer juga marak. Boleh jadi 
pemerintah dan DPR perlu memikirkan regulasi mengenai hal ini, tanpa mengurangi 
kebebasan berpendapat.  Aturan mainnya perlu dikaji. Setidaknya, pemakai jasa 
buzzer bisa dipersolkan,  apalagi jika ia seorang pejabat atau tokoh politik. 
Pengerahan buzzer jelas tidak fair dalam demokrasi. ***


Kirim email ke