Kenangan Oei Tjoe Tat tentang Mohamad Natsir
Senin, 30 September 2019 - 21:10 WIB
https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2019/09/30/171509/kenangan-oei-tjoe-tat-tentang-mohamad-natsir.html
Natsir misalnya, menjalin hubungan baik dengan I.J. Kasimo dan Leimena
yang beragama Kristen. Meski berbeda, tapi masih bisa menemukan titik temu
Kenangan Oei Tjoe Tat tentang Mohamad Natsir
Terkait
* Tubamu Kubalas dengan Susu
<https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2019/09/28/171407/tubamu-kubalas-dengan-susu.html>
* Teladan M Natsir dalam Menyikapi Perbedaan
<https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2019/07/03/167111/teladan-m-natsir-dalam-menyikapi-perbedaan.html>
* Peringati Mosi Integral Natsir, MUI Usul 3 April Jadi Hari NKRI
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/02/162563/peringati-mosi-integral-natsir-mui-usul-3-april-jadi-hari-nkri.html>
* Ini Teladan M Natsir untuk Para Politikus
<https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2019/04/02/162534/ini-teladan-m-natsir-untuk-para-politikus.html>
*Hidayatullah.com <http://hidayatullah.com/>*|*PADA*minggu-minggu awal
Juli 1946, di Banten –menurut cerita Oei Tjoe Tat– terjadi kerusuhan
besar. Yang disasar pada waktu itu adalah etnis China. Kerusuhan
tersebut segera meluas ke beberapa daerah.
Pemicu kerusuhan besar itu adalah tuduhan sepihak kepada etnis China
yang sebelum kemerdekaan dianggap pro Belanda dan menjadi agen NICA.
Akibat generalisasi ini, banyak sekali keturunan China yang tak bersalah
menjadi korban.
Oei sendiri masih merasakan betul dampak buruk dari kejadian itu. Ada
perampokan, pembantaian, ribuan orang diduga tewas hangus terbakar
bersama rumah-rumahnya. Sementara yang lainnya mati terbunuh. Bahkan
banyak pemuda yang disunat secara paksa, dan kaum perempuan dirampas
kehormatannya.
Kata Oei, “Pembentukan Komite Penolong Korban Tionghoa (KPKT) oleh SMH
(Sin Ming Hui – Organisasi Sosial) yang berhasil meringankan penderitaan
orang-orang tak berdosa betul-betul luar biasa bagi saya.”
KPKT bukan saja berhasil menyelamatkan ratusan orang akibat peristiwa
Tangerang, tapi juga di tempat lain. Mereka berhasil mengumpulkan uang,
bahan makanan, obat-obatan dan perabot rumah sebagai bantuan untuk para
pengungsi.
Kerusuhan yang menimbulkan trauma panjang ini berhasil diakhiri setelah
diturunkan tim peninjau dan penertiban kekuatan bersenjata di kawasan
Tangerang dan sekitarnya oleh TRI dibantu pemuda sukarelawan keturunan
Tionghoa. “Di antara Tim Peninjau,” kata Oei, “pimpinan Menpen Moh.
Natsir, turut serta beberapa wartawan dan dua utusan SMH, yaitu Oey Kim
Sen dan Go King Liong.” (/Memoar Oei Tjoe Tat/, 1995: 65, 66)
***
Demikianlah sosok Natsir. Beliau bisa bergaul dan peduli dengan siapa
saja. Meski, terdapat perbedaan yang tajam dari sisi pemahaman, bahkan
agama, dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, misalnya
melalui pintu kemanusiaan, beliau bisa sambung dengan orang-orang yang
berbeda.
Natsir misalnya, menjalin hubungan baik dengan I.J. Kasimo dan Leimena
yang beragama Kristen. Meski berbeda, tapi masih bisa menemukan titik
temu untuk menjalin pertemanan.
Nabi Muhammad sendiri, dari sisi hubungan kemanusiaan, tetap menjalin
interaksi yang baik dengan orang yang berbeda pandangan dan umat
beragama lain. Bahkan, saat meninggal pun baju besi beliau masih
tergadai ke orang Yahudi.
Semoga teladan dari Natsir tersebut, bisa diteladani dengan baik di
tengah kondisi kebangsaan kita yang hendak dicerai-beraikan oleh pihak
yang berkepentingan.*/*Mahmud Budi Setiawan*
Rep: Admin Hidcom
Editor:
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com