https://www.acehtrend.com/2019/10/02/suara-dari-papua-dr-fakhri-ingin-bawa-pulang-istri-dan-anaknya-ke-aceh/



Suara dari Papua: dr Fakhri Ingin Bawa Pulang Istri dan Anaknya ke Aceh

*Status Pendatang Dalam Ancaman*

By *Muhajir Juli* <https://www.acehtrend.com/author/muhajir-juli/>

02/10/2019

<https://i1.wp.com/www.acehtrend.com/wp-content/uploads/2019/10/fakhri-2.jpg?fit=1040%2C780&ssl=1>dr
Fakhri dan keluarganya, ketika berfoto bersama pilot pesawat perintis.
Mereka menjalankan tugas dokter di Papua dengan sangat baik. Semenjak
terjadinya kerusuhan Wamena yang menyasar pendatang, semuanya berubah. (Ist)

Harmoni antara penduduk asli Papua dengan pendatang, tiba-tiba terganggu
oleh peristiwa politik yang menyebabkan konflik horizontal di sana.
Kerusuhan yang terjadi di Wamena, dan menyasar para pendatang, membuat
banyak orang khawatir, tidak terkecuali dr Fakhri, yang kini menetap di
kompleks RSUD Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Propinsi Papua.

Kepada karibnya sesama dokter, pada Minggu (29/9/2019) dinihari Waktu
Indonesia Timur (WIT) dr Fakhri curhat. Melalui sambungan telepon dia
mengabarkan sahabatnya yang berbeda kabupaten, tentang kegundahan hatinya.
Ia benar-benar khawatir dengan keluarganya yang kini sama-sama menetap di
Bumi Cenderawasih.

Kepada sang kolega yang menetap di pesisir Pantai Selatan Papua, dr Fakhri
mengatakan bila ia ingin sesegera mungkin membawa pulang istri dan
anak-anaknya ke Lhokseumawe, Aceh. Kondisi saat ini, dengan adanya anak dan
istrinya bersamanya, ia menjadi tidak tenang. Kondisi sedang tidak aman
untuk sebuah eskalasi politik yang ikut menyasar para pendatang.




Tapi, membawa pulang keluarga dari Puncak Jaya, bukanlah perkara mudah.
Satu-satunya jalur transportasi hanyalah udara yang dilayani dengan
penerbangan perintis.

Memulangkan anak dan istri ke Aceh–untuk sementara waktu– tentulah pilihan
sulit. Karena mereka baru menjadi keluarga yang utuh belumlah berselang
lama. dr Fakhri baru saja membawa seluruh keluarga intinya ke sana. Kini
harus kembali berpisah pula. Tapi tak ada pilihan lain.

Di tengah kecamuk jiwanya, kendala lain menghadang, sekarang tidak ada
penerbangan ke sana. Ia juga tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli
tiket serta biaya akomodasi selama di perjalanan. Rapelan gajinya baru
keluar bulan Desember 2019. Sedangkan waktu tidak bisa menunggu. Ia gundah
gulana.

Mendengar curhat dr. Fakhri, sang kolega sekaligus senior, merasa prihatin.
Ia merasakan tekanan jiwa yang sedang dihadapi dokter muda itu.

“Saya memahami betul kondisi psikologisnya. Kondisi yang tidak aman
tentulah tidak mudah baginya. Apalagi anak dan istrinya ada di sana. Di
kawasan yang sedang bergolak saat ini,” kata sang narasumber yang meminta
namanya tidak dituliskan, Rabu (2/9/2019) pukul 22.00 WIB.

dr Fakhri bersama salah satu pasiennya di Puncak Jaya, Papua. (Ist)

Jiwa kemanusian sang senior terbit seketika. Apalagi ia pun pernah menjadi
korban keganasan amuk ketika mencoba melindungi koleganya yang sedang
menjalankan tugas pelayanan kesehatan di Papua.

Merespon curhat dr. Fakhri, sang teman pun mencoba menghubungi pengurus
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh. Dia meminta IDI Aceh menghubungi IDI
Pusat dan Kemenkes, agar memfasilitasi kepulangan keluarga dr Fakhri ke
Aceh.

“dr Fakhri mengatakan bila keluarganya sudah tiba di Aceh, dia akan segera
kembali ke tempat tugasnya. Dia tidak akan meninggalkan tanggungjawabnya
sebagai pelayan kesehatan di Puncak Jaya,” ujar sang sumber.

Sang teman pun berharap, Pemerintah Aceh mengambil inisiatif untuk
memberikan respon cepat terhadap persoalan yang sedang dialami oleh Fakhri.
Karena sang dokter benar-benar tertekan.

“Kami tentu akan sangat berterima kasih kepada siapa saja yang mengulurkan
tangan membantu menyelesaikan persoalan dr. Fakhri,” imbuhnya.

***

dr. Fakhri pertama kali menatap di Bumi Cenderawasih pada pertengahan tahun
2014. Dia ke sana dalam rangka menjalankan tugas sebagai dokter PTT Pusat
Kemenkes.* Alhamdulillah*, pada 2016 dia diangkat sebagai Aparatur Sipil
Negara (ASN) dan ditugaskan di Puncak Jaya.

Sejak tiba di Papua, Fakhri dan penduduk tempatan hidup dalam harmoni.
saling menghormati dan saling menyayangi. Papua dan Aceh ibarat rumah yang
satu. Tak berbeda. Harmoni dalam cinta kasih.

dr Fakhri bersama warga Puncak Jaya, Papua. (ist)
Tapi semua berubah sejak persekusi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya
terjadi. Peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya oleh
berbagai kelompok telah menyebabkan Papua membara. Sejak saat itu kerusuhan
demi kerusuhan terus terjadi. Kerusuhan Wamena yang menyebabkan penyerangan
terhadap pendatang telah mengoyak Papua dalam marah dan kebencian.

Para pendatang, tidak terkecuali orang Aceh, sekarang dalam kondisi
was-was. Tidak ada yang bisa memprediksi, apa yang akan terjadi satu jam ke
depan. “Karena apapun itu, dalam situasi sekarang ini, kita tidak pernah
tahu apa yang akan terjadi ke depannya,” ujar sang sumber.

Akankah kegundahan hati dr Fakhri segera terobati? Akankah ia bisa segera
membawa pulang anak dan istrinya ke Aceh? Respon cepat Pemerintah Aceh dan
Kementerian Kesehatan RI adalah jawabnnya.

***
Kondisi terkini Puncak Jaya, walau tidak terlihat letupan-letupan, tapi
semuanya was-was. Banyak pendatang yang berangsur-angsur turun ke ibu kota
propinsi.

Walau terlihat kondusif, tapi status pendatang sangat rentan. Kerusuhan
Wamena bisa meletup di mana saja di Papua. *Alert!*

Kirim email ke