----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sunny ambon [email protected] 
[nasional-list] <[email protected]>Terkirim: Rabu, 2 Oktober 2019 
20.27.43 GMT+2Judul: [nasional-list] Suaradari Papua: dr Fakhri Ingin Bawa 
Pulang Istri dan Anaknya ke Aceh
     

 
https://www.acehtrend.com/2019/10/02/suara-dari-papua-dr-fakhri-ingin-bawa-pulang-istri-dan-anaknya-ke-aceh/






Suaradari Papua: dr Fakhri Ingin Bawa Pulang Istri dan Anaknya ke Aceh

StatusPendatang Dalam Ancaman

ByMuhajirJuli

02/10/2019

drFakhri dan keluarganya, ketika berfoto bersama pilot pesawatperintis. Mereka 
menjalankan tugas dokter di Papua dengan sangatbaik. Semenjak terjadinya 
kerusuhan Wamena yang menyasar pendatang,semuanya berubah. (Ist)

Harmoniantara penduduk asli Papua dengan pendatang, tiba-tiba terganggu 
olehperistiwa politik yang menyebabkan konflik horizontal di sana.Kerusuhan 
yang terjadi di Wamena, dan menyasar para pendatang,membuat banyak orang 
khawatir, tidak terkecuali dr Fakhri, yang kinimenetap di kompleks RSUD Mulia, 
Kabupaten Puncak Jaya, PropinsiPapua.

Kepadakaribnya sesama dokter, pada Minggu (29/9/2019) dinihari WaktuIndonesia 
Timur (WIT) dr Fakhri curhat. Melalui sambungan telepon diamengabarkan 
sahabatnya yang berbeda kabupaten, tentang kegundahanhatinya. Ia benar-benar 
khawatir dengan keluarganya yang kinisama-sama menetap di Bumi Cenderawasih.

Kepadasang kolega yang menetap di pesisir Pantai Selatan Papua, dr 
Fakhrimengatakan bila ia ingin sesegera mungkin membawa pulang istri 
dananak-anaknya ke Lhokseumawe, Aceh. Kondisi saat ini, dengan adanyaanak dan 
istrinya bersamanya, ia menjadi tidak tenang. Kondisi sedangtidak aman untuk 
sebuah eskalasi politik yang ikut menyasar parapendatang.




  

 
 
Tapi,membawa pulang keluarga dari Puncak Jaya, bukanlah perkara 
mudah.Satu-satunya jalur transportasi hanyalah udara yang dilayani 
denganpenerbangan perintis.

Memulangkananak dan istri ke Aceh–untuk sementara waktu– tentulah pilihansulit. 
Karena mereka baru menjadi keluarga yang utuh belumlahberselang lama. dr Fakhri 
baru saja membawa seluruh keluarga intinyake sana.. Kini harus kembali berpisah 
pula. Tapi tak ada pilihan lain.

Ditengah kecamuk jiwanya, kendala lain menghadang, sekarang tidak 
adapenerbangan ke sana. Ia juga tidak memiliki uang yang cukup untukmembeli 
tiket serta biaya akomodasi selama di perjalanan. Rapelangajinya baru keluar 
bulan Desember 2019. Sedangkan waktu tidak bisamenunggu. Ia gundah gulana.

Mendengarcurhat dr. Fakhri, sang kolega sekaligus senior, merasa prihatin. 
Iamerasakan tekanan jiwa yang sedang dihadapi dokter muda itu.

“Sayamemahami betul kondisi psikologisnya. Kondisi yang tidak amantentulah 
tidak mudah baginya. Apalagi anak dan istrinya ada di sana.Di kawasan yang 
sedang bergolak saat ini,” kata sang narasumberyang meminta namanya tidak 
dituliskan, Rabu (2/9/2019) pukul 22.00WIB.

drFakhri bersama salah satu pasiennya di Puncak Jaya, Papua. (Ist)

Jiwakemanusian sang senior terbit seketika. Apalagi ia pun pernah menjadikorban 
keganasan amuk ketika mencoba melindungi koleganya yang sedangmenjalankan tugas 
pelayanan kesehatan di Papua.

Meresponcurhat dr. Fakhri, sang teman pun mencoba menghubungi pengurus 
IkatanDokter Indonesia (IDI) Aceh. Dia meminta IDI Aceh menghubungi IDIPusat 
dan Kemenkes, agar memfasilitasi kepulangan keluarga dr Fakhrike Aceh.

“drFakhri mengatakan bila keluarganya sudah tiba di Aceh, dia akansegera 
kembali ke tempat tugasnya. Dia tidak akan meninggalkantanggungjawabnya sebagai 
pelayan kesehatan di Puncak Jaya,” ujarsang sumber.

Sangteman pun berharap, Pemerintah Aceh mengambil inisiatif untukmemberikan 
respon cepat terhadap persoalan yang sedang dialami olehFakhri. Karena sang 
dokter benar-benar tertekan.

“Kamitentu akan sangat berterima kasih kepada siapa saja yang mengulurkantangan 
membantu menyelesaikan persoalan dr. Fakhri,” imbuhnya..

***

dr.Fakhri pertama kali menatap di Bumi Cenderawasih pada pertengahantahun 2014. 
Dia ke sana dalam rangka menjalankan tugas sebagai dokterPTT Pusat Kemenkes. 
Alhamdulillah,pada 2016 dia diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) 
danditugaskan di Puncak Jaya.

Sejaktiba di Papua, Fakhri dan penduduk tempatan hidup dalam harmoni.saling 
menghormati dan saling menyayangi. Papua dan Aceh ibarat rumahyang satu. Tak 
berbeda. Harmoni dalam cinta kasih.

drFakhri bersama warga Puncak Jaya, Papua. (ist)
Tapisemua berubah sejak persekusi terhadap mahasiswa Papua di Surabayaterjadi. 
Peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabayaoleh berbagai kelompok 
telah menyebabkan Papua membara. Sejak saatitu kerusuhan demi kerusuhan terus 
terjadi. Kerusuhan Wamena yangmenyebabkan penyerangan terhadap pendatang telah 
mengoyak Papua dalammarah dan kebencian.

Parapendatang, tidak terkecuali orang Aceh, sekarang dalam kondisiwas-was. 
Tidak ada yang bisa memprediksi, apa yang akan terjadi satujam ke depan. 
“Karena apapun itu, dalam situasi sekarang ini, kitatidak pernah tahu apa yang 
akan terjadi ke depannya,” ujar sangsumber.

Akankahkegundahan hati dr Fakhri segera terobati? Akankah ia bisa segeramembawa 
pulang anak dan istrinya ke Aceh? Respon cepat PemerintahAceh dan Kementerian 
Kesehatan RI adalah jawabnnya.

***
Kondisiterkini Puncak Jaya, walau tidak terlihat letupan-letupan, tapisemuanya 
was-was. Banyak pendatang yang berangsur-angsur turun ke ibukota propinsi.

Walauterlihat kondusif, tapi status pendatang sangat rentan. KerusuhanWamena 
bisa meletup di mana saja di Papua. Alert!



    

Kirim email ke