Remaja Hong Kong yang Tertembak Jadi Tersangka Pelaku Kerusuhan
Reporter:
Tempo.co
Editor:
Budi Riza
Jumat, 4 Oktober 2019 09:01 WIB
Para pengunjuk rasa melempar bom bensin ke markas polisi regional New
Territories South, Hong Kong, 2 Oktober 2019.[Dickson Lee/South China
Morning Post]
<https://statik.tempo.co/data/2019/10/03/id_877554/877554_720.jpg>
Para pengunjuk rasa melempar bom bensin ke markas polisi regional New
Territories South, Hong Kong, 2 Oktober 2019.[Dickson Lee/South China
Morning Post]
*TEMPO.CO*, *Hong Kong*– Polisi mengenakan tuduhan pelanggaran tindak
kriminal kepada remajaHong Kong
<https://www.google.com/url?client=internal-uds-cse&cx=014552374694952769939:07jyys92vmu&q=https://dunia.tempo.co/read/1213255/1-juta-warga-hong-kong-demo-tolak-ruu-ekstradisi-cina&sa=U&ved=2ahUKEwiP_qCrh4HlAhWr73MBHcW8AVgQFjAGegQIAhAC&usg=AOvVaw0KwpV4FDr6sesL-skoVBxg>,
yang tertembak peluru tajam petugas saat unjuk rasa pada Selasa, 1
Oktober 2019.
Tsang Chi-kin, 18 tahun, menjadi tersangka dan dikenai pasal melakukan
tindak kerusuhan dan penyerangan terhadap petugas polisi pada unjuk rasa
yang diwarnai kerusuhan pada Selasa.
Sekitar seratus orang terluka dan polisi menembakkan 1.400 kaleng gas
air mata. Polisi juga menembakkan 900 butir peluru karet serta lima
peluru tajam kepada perusuh yang melemparkan bom molotov serta
menggunakan tongkat besi.
“Dia merupakan satu dari tujuh orang yang terkena tuduhan terlibat
kerusuhan dan kasusnya mulai disidang di Pengadilan Sha Tin pada Kamis
(kemarin),” begitu dilansir/Channel News Asia/pada Kamis, 3 Oktober 2019.
Media Hong Kong RTHK melansir Tsang tidak bisa menghadiri persidangan
karena masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya disebut relatif stabil.
Pelaku kerusuhan bisa terkena hukuman maksimal penjara sepuluh tahun.
Tsang yang juga disebut Tony terkena tembakan peluru tajam pada Selasa
kemarin di Distrik Tsuen Wan. Sejumlah foto menunjukkan dia termasuk
demonstran yang menyerang polisi dengan tongkat dan payung.
Polisi membela tindakan anggotanya yang menembak Tsang dengan peluru
tajam dengan alasan saat itu polisi terancam karena terkepung sejumlah
pengunjuk rasa yang bertindak brutal.
“Demonstran bertindak sangat kejam. Mereka menggunakan palu, dan tongkat
besi untuk menyerang rekan kami yang terjatuh. Mereka juga menggunakan
tongkat kayu yang dibuat runcing untuk menyerang rekan kami,” kata
seorang juru bicara polisi dari distrik Tse Chun-chung.
Juru bicara polisi juga memprotes apakah para pengritik mempertimbangkan
keselamatan polisi saat terkena tusukan demonstran. “Apakah mereka
membedakan nyawa polisi dan penyerang,” kata dia.
Namun, pengritik mengatakan polisi menembak demonstran setelah
sebelumnya mempersiapkan senjatanya untuk menembak. Ini merupakan
insiden pertama demonstran tertembak peluru tajam dalam unjuk rasa empat
bulan terakhir di salah satu pusat industri keuangan di Asia ini.
ADVERTISEMENT
Sekitar 200 orang pendukung menghadiri proses persidangan pada Kamis
kemarin.
Polisi mendesak pemerintah Hong Kong menerapkan aturan jam malam untuk
melarang warga berkeliaran dan berunjuk rasa hingga pagi hari. Polisi
juga meminta pemerintah Hong Kong menerapkan UU Darurat sehingga mereka
memiliki kewenangan lebih untuk menyensor media dan melakukan
penangkapan. UU Darurat dibuat pada 1922 dan sudah sekitar 50 tahun
tidak digunakan.
Hong Kong
<https://www.google.com/url?client=internal-uds-cse&cx=014552374694952769939:07jyys92vmu&q=https://dunia.tempo.co/read/1254176/pasukan-militer-cina-di-hong-kong-diduga-naik-dua-kali-lipat&sa=U&ved=2ahUKEwiP_qCrh4HlAhWr73MBHcW8AVgQFjAFegQICBAC&usg=AOvVaw2F9oWpn75APdr3-878l66V> mengalami
goncangan stabilitas hebat setelah pemerintah berupaya mengesahkan
legislasi ekstradisi, yang ditolak masyarakat. Aturan itu, seperti
dilansir/Reuters/, memungkinkan pemerintah mengekstradisi warganya yang
diduga melanggar hukum ke Cina. Meski legislasi telah ditarik dari
parlemen, warga terus berunjuk rasa menuntut diterapkannya sistem
demokrasi agar bisa memilih pemimpin secara langsung.
--
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com